[Speciclet] Q | Queen

Queen
Alphabetic Speciclet

© Ghaziana, 2013
Sunye Wonder Girls
Rate : K+

*


Newyork.


Seakan-akan kota gemerlap ini takkan pernah bisa mati walaupun datang bencana sebesar apapun. Seakan-akan semua penduduknya memiliki kesibukan yang menggunung. Seakan-akan suara bising disini tak akan tertutup oleh suara pecahnya lahar gunung api sekalipun. Tapi, suasana yang hangat, yang tentram, dengan udara dingin atau gugurnya daun-daun kuning tak dapat berhenti untuk mewarnai kota ini.

Suasana tersebut yang tengah dirasakan oleh sesosok wanita yang terduduk diatas kursinya sendirian. Memandangi kota Newyork yang berwarna-warni disebuah taman sepi. Matanya terus tertuju pada sebuah sketchbook dipahanya yang tengah ia gunakan untuk alas menggambar. Sedangkan tangan kirinya menggambar dengan cekatan beberapa pasang rancangan gaun pernikahan.

Rambut brunettenya digerai. Tak peduli ada angin yang mencoba menerbangkan anak-anak rambut indahnya. Tak peduli ada suara bising atau gangguan-gangguan lain yang akan mengganggunya. Kebisingan, gemerlap, cuaca yang tak tentu, kesibukan penduduk, sudah menjadi separuh hidupnya dalam berkarir menjadi seorang perancang busana handal yang tak pernah ada dikantor selama merancang. Ia benci merancang dalam keadaan sepi—apalagi di butik pengantinnya yang dipenuhi oleh orang-orang formal dan serius.

Tiba-tiba saja pensil  tebal ditangannya jatuh menggelinding kedasar bawah taman, berguling dan terhenti ditumpukan batu-batu kerikil diatas hamparan rumput hijau yang menjadi pemandangan utama kedua mata wanita tersebut. Ia sedang duduk dikursinya dengan anggun, disebuah taman kota Newyork yang nyaman dan rindang. Tepat dibawah sana, ada trotoar dan pepohonan untuk orang-orang berjalan kaki, berjogging, atau bermain sepeda. Dan pusat taman tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena adanya sebuah air mancur tinggi yang dipenuhi oleh koin-koin perak lemparan anak-anak Newyork untuk memanjatkan mimpi—berharap mimpinya dikabulkan.

Sementara ia merapatkan lagi kardigan merah tua yang melekat dan menutupi tulang bahunya, ia tersenyum memandangi suasana taman yang begitu menyenangkan. Bukan air mancurnya. Bukan burung-burung merpati yang hinggap disekitarnya. Dan bukan anak-anak kecil yang percaya tentang air mancur mimpi itu. Tapi seorang lelaki dengan kaos polo biru tua dan celana jeans yang digunakannya telah merebut pandangannya sesaat.

Tidak, tidak. Bukan sesaat. Bahkan selamanya, matanya akan terus melekat dan tak mampu melepaskan lelaki yang sudah menjalin lima tahun lebih pernikahan dengannya.

Sun, nama wanita ini. Wanita berdarah Korea Selatan dengan nama asli Min Sunye inilah yang menjabat sebagai desainer muda berbakat yang sekarang tengah dipenuhi dengan berbagai tekanan dan pesanan gaun pengantin dadakan. Wanita inilah yang suka sekali menggambar ditaman. Sun-lah wanita beruntung yang mendapatkan seorang suami tampan dan gadis mungil hasil pernikahannya dengan sang suami.

Entah mengapa Sun merasa bahwa dirinya adalah wanita yang dipilih oleh Tuhan sebagai wanita paling beruntung karena mendapatkan dua kebahagiaan didalam sekali masa hidupnya. Seorang suami pengusaha, gadis cantik berwajah imut…. Semuanya menjadi kekuatan untuknya jika ia ketakutan dan tengah menapaki liku jalan hidupnya.

Tiba-tiba saja bibirnya tertarik lebar, membuat para lelaki disana merasa percaya diri mungkin? Sun memang wanita Asia yang mudah memikat hati banyak pria dengan senyumannya.

Lelaki itu tengah bermain dengan gadis kecilnya yang masih berumur hampir tiga tahun. Terlihat sangat bahagia sekali karena bisa bermain sepeda bersama sang ayah ditaman kota. Suami Sun memang orang paling sibuk, termasuk dirinya yang sulit untuk membawa gadisnya bermain. Tidak, tidak ada yang harus disesali karena keadaannya yang memang tak dapat membawa anaknya bermain kemana pun ia mau. Sedikit miris, namun inilah hidup.

Sun bisa melihat suaminya tersebut mengangkat tinggi-tinggi Sena—nama si kecil itu, hingga membuat gadis dengan dress selutut berwarna putih polkadot merah muda tertawa-tawa senang. Sementara Sun hanya bisa ikut tertawa dari kejauhan ketika mendapati sang suami dan Sena mendadahinya dan tersenyum kepadanya.

Sun kembali dengan tugasnya. Ia mengambil lagi pensil lain dari tas selempangnya dan mencoba untuk segera menyelesaikan gambarnya yang sempat tertunda. Namun apa boleh buat, matanya terus tertuju pada sang suami yang kini menggendong Sena ditangan kanan dan mendorong sepeda roda tiga berwarna merah muda ditangan kiri, yang datang kearahnya. Itu artinya, Sena sudah mengantuk dan tak boleh bermain lagi.

Sang suami mendekat kearahnya dan mengecup keningnya saat sudah berada tepat didepannya. Dengan cekatan ia menyingkirkan sketchbook dan spidol warna-warni dipangkuannya hingga beralih menjadi Sena yang bermanja-manja memeluk lehernya.

“Eiy, mommy’s angel is already sleepy, hm?” ucap Sun sambil membelai rambut malaikatnya. Sedangkan Sena mengangguk imut sambil memainkan bandana dengan boneka kecil sebagai pemanis yang sedang digunakan oleh sang bunda.

“Mummy, I don’t wanna sleep… I just can’t.”  Sena berucap kesal. Sang ayah sengaja menghentikan permainan sepedanya karena hanya merasa Sena sudah bermata merah dan beberapa kali menguap. Namanya juga anak-anak, tak ada yang lebih menyenangkan dari bermain bersama.

“Don’t stay up too late, sweetie. Enough, it’s time for a nap. We will go to department store tonight, remember?”

“Urrmmmm, mummy….”  Sena tetap saja kesal terhadap perlakuan sang ayah yang mungkin tengah sibuk memasukkan sepeda barunya itu kedalam mobil. Sun tertawa ketika anaknya itu memajukan bibir menggoda dirinya untuk terus mengecup hidung bangir Sena. Ditangannya sudah siap dengan sebuah botol susu vanilla kesukaan Sena. Ia memainkan botol tersebut diatas badan Sena hingga ia tertarik ingin segera mengambilnya dari tangan sang ibunda.

“Mummy that’s mine!!”

Sun menggelitik perut gadisnya, “you got it, sweety. You must take a nap, okay?”

“Then we will play a lot of game with daddy, hows?”  Tiba-tiba sang ayah muncul dibelakang Sun, membiarkan kedua tangannya ada dipegangan kursi Sun dan menatap Sena yang tengah menyedot riang botol susunya. Sena mengangguk riang ketika mendengar permainan dari ayahnya.

Oh! Sena suka sekali main!

“Deal?” tanya Sena memamerkan kelingking kecilnya, disambut dengan kelingking Sun dan sang suami dan membuat keluarga hangat itu tertawa manis ditengah taman kota Newyork.

“Deal!”

Mereka berniat untuk kembali kerumah. Sun membiarkan sang suami mendorong kursi roda yang tengah didudukinya, dan tentu saja dengan Sena yang duduk dipangkuannya manja. Tak ada waktu untuk mengeluh bagi sang kepala keluarga itu. Ia harus benar-benar menggunakan waktunya untuk Sena dan Sun, dua malaikatnya. Ia sudah pernah melewati hal yang sangat fatal dan sungguh disesali olehnya. Membiarkan Sun sibuk dengan fashion shownya, lalu membuat istrinya tersebut terlalu tertekan hingga akhirnya mengendarai mobil dengan tidak fokus dan alhasil, Sun harus menerima patah dan remuk tulang kedua kakinya juga harus membiarkan janin pertama miliknya hilang dengan darah yang ketika itu menyelimuti dirinya.

Tidak, sebagai lelaki, ia takkan pernah membiarkan Sun dan Sena mengalami hal-hal buruk lagi. Ia tak ingin kehilangan satu diantara dua atau bahkan keduanya. Tidak sama sekali.

Sedangkan Sun merasa bersyukur karena suaminya tak pernah meninggalkannya bahkan saat ia tengah dirundung masalah termasuk kecelakaan yang akhirnya membuatnya sedikit berbeda. Dengan adanya Sena, ia dan suami bahkan lebih hangat dan sangat dekat. Lebih bisa mengerti satu sama lain.

Sun selalu merasa bahwa dirinya adalah seorang ratu yang dilindungi oleh sang raja dan tentu dengan seorang putri cantik yang mewarnai hari-harinya. Sun takkan pernah bisa menukar kerajaan kecilnya ini dengan apapun, sebesar apapun, sebanyak apapun. Karena keluarga kecil inilah yang membuat seorang Sun bisa memiliki hidup yang lebih hidup.
  


**

ini ff jelek banget._. semua ficlet aku makin muter-muter dan ga jelas
aduh ghan jangan nangis mulu dong

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!