[Speciclet] K | Kiss

Kiss
Alphabetic Speciclet

© Ghaziana, 2013
Taecyeon 2PM
Rate : T
Warn! Fluffy, a lot of kisses!

*





Diawali dengan pagi yang cerah dan sinar matahari yang masuk dengan mudahnya lewat celah-celah jendela kamar kami, aku tersenyum simpul mendapati ruangan yang kutempati terasa sepi. Bukan karena aku bahagia bisa bangun dengan keadaan gadis itu tak berada dalam pelukanku. Tapi aku sadar bahwa wanita yang kuperistri adalah wanita yang seluruh waktunya dihabiskan untuk keluarga. Bisa kurasakan betapa harumnya aroma waffle yang menyeruak dari luar kamar. Ku percepat aktivitasku dengan mandi dan merapikan diri agar bisa segera menuju wanitaku yang mungkin dua kali lipat lebih sibuk akhir-akhir ini. Dengan si kecil tampan Sungjae yang belum memiliki gigi, dengan suaranya yang mencekik telinga juga tangisnya yang menyertai waktu istirahat kami berdua. Bukankah aku seorang lelaki yang sangat beruntung? Dengan istri yang cantik dan bayi kecil kami yang suka sekali memamerkan gusi merahnya?



Well, itu adalah kisah yang saat ini tengah kurasakan.



Beberapa tahun lalu, aku dan dia—gadisku, kami selalu menghabiskan waktu berdua. Walau hanya sekedar bertemu di sebuah café kecil dan memesan sepasang cheesecake juga moccachino, kami membahas hal-hal kecil dan kadang tidak penting untuk dibahas namun menyenangkan untuk dibicarakan. Dan setelah itu, aku pergi menuju kantor untuk kembali latihan dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan jadwal panggungku. Dan kami berciuman sebelum pergi kedua arah yang berbeda, mengekspresikan rasa sayang dan kerinduan yang takkan pernah bisa terucapkan.



Atau jika keadaannya lebih privasi, aku menciumnya dalam sebelum ia turun dari mobilku untuk kembali pulang kerumah.



Atau hanya mencium tangannya yang kedinginan setelah kugenggam seharian dan kubawa ke taman saat musim dingin.



Atau mengecup keningnya jika ia tengah ketakutan.



Atau mendaratkan bibirku keatas matanya jika ia mengantuk, lelah atau habis menangis.



Kami berpacaran tanpa memperdulikan adanya peraturan yang sudah dijatuhkan untukku. Kami santai. Kami tak begitu perlu mendengarkan celoteh orang-orang diluar terhadap ancaman sasaeng terhadapnya atau ancaman Jinyoung hyung untukku. Karena aku bisa membuatnya percaya bahwa aku bisa menjaganya dan menjaga hubungan kami walaupun keadaanku yang terhimpit oleh status ‘idola’ di Korea Selatan.



Hampir satu tahun status pacaran itu kami jalani, tentu dengan ribuan masalah yang kami lewati dan selesaikan bersama. Entah itu berhubungan dengan fans, rasa cemburu, tidak percaya atau salah paham. Hingga akhirnya ia menyelesaikan strata duanya, ku dapati orang tuanya yang begitu menyayangi putri tunggal mereka menggenggam gelar tinggi. Membuatku semakin bangga padanya. Hanya sebuah cincin perak berkilau dan kecupan singkat yang kudaratkan dibibirnya didepan seluruh keluarganya sebagai kado juga tanda lamaranku untuknya.



Dan gadis cantikku menjawabnya.



Iya, katanya.



Selang beberapa bulan setelah itu, kupastikan semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kami. Semua hal yang berkaitan dengan pernikahan kami sudah ditangani oleh event organizer dan orang tua kami berdua. Aku masih bersama 2PM, dan dia masih menjadi pegawai kantor swasta. Tapi rasa cinta kami masih sama seperti dulu. Penuh dengan tantangan, masalah juga romantisme yang tidak ada habisnya.



Ada kalanya ku jemput ia dari kantornya jika aku sempat, dan terkadang ia menyempatkan waktu untuk menjengukku beserta memberdeul di kantor kami untuk makan siang bersama. Lalu kami berpamitan dan…tentu dengan ciuman kasih sayang yang tak pernah bisa kujelaskan seberapa besar cinta yang kuberikan padanya.



Dan selama satu minggu, aku begitu merindukannya. Merindukan pelukannya, suara manisnya, serta kecupan-kecupan singkat dari bibir merah mudanya ketika ia bertemu denganku. Hanya seminggu, namun rasanya lebih lama dari 168 jam, padahal sebelumnya, aku bisa meninggalkannya selama satu bulan atau lebih. Mungkin karena esok harinya, aku akan mendapati lengannya bertaut dengan lengan abonim, tentu dengan sebuah buket bunga berwarna putih dan hijau, lalu berjalan kearahku.



Ketika aku sudah berdiri dengan gugup sambil mendengar celotehan-celotehan nakal dari memberdeul, aku bisa melihatnya terbalut dengan gaun  putih mewah benderang. Wajahnya bersinar sama seperti tiara yang terjumput di rambutnya yang ditata tinggi.



Kulihat semua tamu berdiri, termasuk memberdeul dan keluarga besar kami. Aku menggenggam tangannya yang terbalut jaring tangan putih lalu kukecup perlahan, menggambarkan perasaan gembiraku bisa membawanya ke altar termegah di Korea Selatan. Kembali dalam suasana hikmat sebuah pernikahan yang diucap lantang oleh pendeta dihadapan kami. Ku ucap janji matiku, sehingga kami bisa resmi menjadi sepasang suami istri. Didepan wartawan, didepan seluruh tamu yang ada didalam gereja, didepan semua fansku, aku mencium bibir wanita yang saat itu telak menjadi istriku.



Dan untuk pertama kalinya, aku berbisik tepat didepan telinganya bahwa aku mencintainya dengan sepenuh hati.



Satu tahun kami menghidupi kisah kami yang baru dengan status suami istri. Rumah yang cukup megah, masakan istriku yang ternyata tak ada tandingannya, ciuman-ciuman paginya yang kadang membuatku lupa jadwal hingga siang, atau kecupan singkat di pipiku yang ia persembahkan untuk menyemangatiku saat aku lelah karena jadwal yang kadang banyaknya melebihi jumlah bunga-bunga ditaman rumah kami.



Kemudian kami menjadi tuan rumah untuk para tamu yang sengaja bertamu kerumah subur ban kami. Lebih tepatnya menjenguk istriku yang tengah mengandung anak pertama kami. Dokter memprediksi bahwa akan adanya si kecil tampan didalam perut istriku. Didepan istriku, aku menangis bahagia melihatnya tersenyum membawa kemanapun anak kami pergi. Menjaganya, menyayanginya, seperti menyayangi nyawanya sendiri. Aku menyemangatinya dengan segalanya yang kumiliki. Karena hanya wanitaku yang lebih penting dari jadwal menggila 2PM. Membawanya jalan-jalan, bepergian ke supermarket, atau hanya sekedar menikmati udara musim semi sehingga kami bisa menghabiskan waktu sore disana. Tentu dengan aku yang tetap mencium perut buncit istriku, mentransferkan rasa sayangku pada si tampan yang suka sekali menendang.



Lalu, kami bertiga—tentu dengan personil baru rumah kami yang membuat seluruh keluarga kami gempar karena si tampan Ok Sungjae adalah cucu yang paling pertama—bisa berjalan-jalan ke pantai, berpiknik, makan malam, dan hal-hal lainnya yang tak pernah kupikirkan saat aku masih menjadi beastly-idol diatas panggung.



Kini, dihari senin ini, kulihat wanitaku sibuk dengan waffle yang tengah dimasaknya. Kubawa Sungjae kedalam pelukanku saat ia sedang bermain dengan bola karetnya. Kami tertawa-tawa kecil saat aku mengangkatnya tinggi-tinggi. Aku merasakan kebersamaan yang begitu lekat mewarnai rumah kami.



Hanya ada percakapan hangat diantara kami bertiga saat sarapa. Dan aku tak pernah merasa kesal saat bubur yang kusuapi untuk Sungjae tumpah ke pakaianku. Sedangkan istriku hanya tertawa karena aku yang tak bisa menyuapi anakku sendiri. Dan untuk waktu pagi kami yang singkat, aku berangkat ke kantor dengan hati yang berat karena harus meninggalkan dua malaikatku.



Berdiri didepan pintu setelah memakai sepatu dan siap untuk pergi adalah aktivitas paling menyenangkan. Karena disitulah aku bisa melihat istriku yang cantik setiap saat itu menggendong Sungjae yang tertawa setelah aku memberikan kecupan dihidung dan puncak kepalanya. Lalu beralih ke bibir istriku. Aku bisa merasakan bibirnya selama yang aku mau. Makanya pagi hari adalah waktu yang paling kutunggu setiap hari. Karena kebahagiaanku terlalu jelas terpampang dikeluarga kecil kami.



Apakah aku terlihat seperti kiss stealer yang hobinya mencium istri dan anakku setiap waktu? Well, itu adalah kegiatan favorit kami sejak pacaran. Dan….aku dan dia memang tak bisa mengatakan secara gamblang rasa cinta kami. Anggap saja ciuman cinta di dahi, puncak kepala, dagu, pipi, hidung, tangan, kelopak mata dan bibir adalah ekspresi kami yang tak perlu lagi penjelasan. Memangnya cinta hanya bisa disampaikan lewat kata ‘saranghae’?



Ohoho, tentu tidak!



[끝] 



dan ini spesial pake cium buat taecyeon oppa yang gantengnya lebih manly dari siwon. yang intensitas buka bajunya lebih bikin merinding daripada pas siwon buka baju *sakingseksinyasioppayangsatuini lol

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!