[Speciclet] E | Everlasting
Everlasting
Alphabetic Speciclet
© Ghaziana, 2013
Leeteuk Super Junior
Rate : T
Warning! Fluffy.
Rate : T
Warning! Fluffy.
*
Selamat bersenang-senang appa, umma^^ aku (dan suamiku) sayang kalian!
Nona Park yang paling cantik :p
“Astaga anak ini maunya apasih…”
seorang wanita paruh baya—mungkin sekitar berumur empat puluh tahun—yang baru
saja membuka surat yang ditinggalkan oleh putri tercintanya tersebut mengerut
bingung. Dengan wajah yang masih sumringah, ia melemparkan senyum terbaiknya
kepada sang suami yang umurnya lebih tua enam tahun darinya, “..kau tahu maksud
Hyena apa?”
“Entah. Mana ku tahu. Anak itu
kan suka kurang ajar sama orang tuanya.” Balasnya sedikit ketus. Astaga,
ayahnya Hyena ini sudah tampan kenapa musti harus ketus juga sih! Terlihat
sekali dari badannya yang masih bidang berotot sehat, wajahnya yang tetap
tampan tak termakan umur, rambutnya tanpa surai memutih, dan tentu gaya
fashionablenya yang pasti membuat sang istri disebelahnya jatuh cinta.
“Ya ampun, Jungsoo-ya… Apa kau
cemburu gara-gara anak tunggal kita baru menikah hm? Hihihi..” sang istri
terkekeh kecil melihat bibir Jungsoo yang maju mundur saking kesalnya. Sang
istri yang masih berbalutkan dress elegan berwarna putih, tentu dengan syal
putih yang mengalung dilehernya tersebut mengelus pipi Jungsoo perlahan.
Melihat sang suami yang menggeleng, ia hanya bisa mengulum senyum. Jungsoo
memang gengsi karena egonya terlalu tinggi. Sebenarnya ia sungguh tahu bahwa
suami yang selalu tampan dimatanya tersebut memang takut kehilangan anak semata
wayang mereka. Terlebih anak mereka adalah gadis yang menikah diusia muda.
“Jangan terlalu dipikirkan, lah.
Nanti tumbuh uban lho di rambutmu.” Goda istrinya. Jungsoo memalingkan wajah
‘kau-ini-ya-istri-menyebalkan!’ sambil menggelitik pinggang ramping istrinya.
Astaga. Kalau mereka tidak diingatkan untuk segera turun dari mobil oleh sang
supir yang membawa mereka pulang dari acara resepsi besar-besaran milik
pernikahan anak mereka kerumah megah ala istana milik keluarga Park tersebut,
tentu semua orang akan melihat Jungsoo dan istrinya sebagai pengantin baru
‘telat’.
Mereka masih mesra. Masih tak
malu untuk berpelukan atau bahkan berjalan-jalan berdua mengitari mall besar
Seoul untuk berbelanja layaknya pasangan remaja. Mereka masih bisa bergandengan
tangan sambil bersenandung dan berjalan menuju kediaman Park yang sudah
menunggu mereka.
Dibukanya pintu mahoni putih
tersebut oleh Jungsoo yang diekori oleh istrinya yang sibuk mengangkat dress
putihnya. Kalau dilihat-lihat, mereka memang seperti baru menikah sih. Lihat
saja, bracelet dan tiara yang menjadi asesoris cantik nyonya Park malah sangat
cocok dengan Jungsoo sendiri yang belum menghancurkan tatanan rambut keren dan
jas hitam bermerk ditubuhnya.
Tinggalah Jungsoo dan sang istri
yang pastinya merasa kehilangan karena satu penghuni paling berisik milik
mereka sudah diambil lelaki lain. Sungguh bangga pastinya. Jungsoo sudah
berpuluh tahun menjaga keluarganya, membina rumah tangga yang bahagia, hingga
membawa putri kecilnya menjadi gadis paling cantik di dunia.
“Tuan, nyonya..” Saat mereka
berdua bergandengan sambil terdiam, salah satu maid mereka membungkuk dan
memecah keheningan. Membuat Jungsoo dan nyonya Park menoleh bertanya, “…tuan
dan nyonya ditunggu di ruang makan.”
“Apa sebaiknya kita berganti baju
dulu? Sungguh berat memakai dress ini kemana-mana.”
“Maaf nyonya, tuan. Nona Park
meminta tuan dan nyonya langsung makan saja.”
Eh? Jungsoo sedikit kebingungan
sebelum melemparkan pandangan ‘bagaimana-ini?’ pada sang istri. Nyonya Park
hanya mengangguk dan berjalan dengan lengan yang terapit di lengan kokoh milik
suaminya.
Jungsoo terperangah tak percaya.
Hyena memang anak yang kurang ajar, tapi kenapa dia bisa memikirkan hal-hal
seperti ini bahkan dimalam pertamanya sendiri? Sementara nyonya Park sedikit
menganga tak percaya melihat pemandangan didepannya. Sebuah ruang makan yang
istimewa, cahaya remang-remang, dikhususkan untuk mereka berdua yang merayakan
’25 tahun pernikahan’ dan harus dirayakan lewat candle light dinner yang
romantis. Scented candles yang tersebar disudut-sudut ruangan menciptakan
ketenangan untuk mereka berdua yang tengah melupakan berapa umur mereka
sekarang. Sementara kelopak bunga mawar merah dan putih tersebar merata. Tentu
dengan tatanan santapan yang begitu menggugah selera.
Jungsoo dan sang istri tak banyak
bicara setelah Jungsoo mengecup kepala istrinya. Mereka langsung duduk
ditempatnya masing-masing. Dengan senyum yang tak henti-hentinya merekah,
sambil menikmati makanan, sambil menikmati pula alunan merdu Yiruma yang keluar
dari dvd portable diruangan tersebut.
Ini dinner termanis yang pernah
mereka lalui selama mereka memiliki Hyena.
“Kau cantik, sayang.” Jungsoo
memuji paras wajah istrinya setelah ia mendapatkan sesuap Camarones dari sang
istri. Jungsoo benar-benar melupakan umurnya, lupa bahwa ia sudah menikahkan
anak gadisnya. Dinner ini seperti time-machine untuknya. Dimana ia baru percaya
bahwa sang istri masih cantik seperti saat dulu masih berpacaran ala monyet
saat SMA.
“Jangan gombal.”
“Aku serius sayang.” Jungsoo
tertawa kecil melihat istrinya yang sudah merona merah seperti Camarones yang
tengah disantapnya, “..sayang..sayang..sayang…”
“Ayolah, telingaku geli
mendengarmu memanggilku begitu!”
“Hehehehe.” Jungsoo lagi-lagi
terkekeh. Aduh, dia kecanduan memanggil istrinya manja seperti tadi! Tidak aneh
deh mengapa anaknya itu suka sekali memanggil pacarnya dengan sebutan ‘honey,
hubby, sayang, chagi’ dan ya… semacamnya. Sebutan-sebutan itu memabukkan
ternyata. “Sayang?”
“Hm?” sang istri mendongak dari
kepalanya yang menunduk menikmati seafood terbaik Spanyol dihadapannya.
“I love you.” Ucapnya lantang, sengaja
dan tenang. Dengan senyum yang masih saja terpatri dibibir mereka, “I love you more than Romeo loves Juliette,
Jack loves Roses, or The Pooh loves Piglet..” Tiba-tiba tawa sang istri
pecah seketika saat Jungsoo berjalan menuju kearahnya sambil tersenyum simpul.
Ya ampun, ini benar-benar seperti acara lamaran!
“Ayolah sayangku….jangan merusak
kata-kata romantisku!” Jungsoo menahan tawanya, mengingat betapa tidak
romantisnya ‘the pooh dan piglet’ yang tiba-tiba ada dipikirannya.
“Oke-oke, apa yang mau kau
katakan……yeobo?” balasnya merdu sambil memerhatikan Jungsoo yang sudah setengah
jalan mendekat kearahnya.
“Hm..oke aku tidak akan memakai
bahasa inggris lagi.” Jungsoo mulai berlutut, tepat didepan sang istri,
“bersediakah kau untuk tetap memegang janji kita, untuk tetap berjalan berdua
sampai lelah?”
Tak ada kata-kata yang romantis
disana. Hanya sebuah perjanjian untuk tetap bersama, mungkin untuk rentang
waktu yang lama. Lama sekali. Hingga mereka sendiri tak bisa menghitungnya
dengan jari.
Jemari mereka bertaut. Sementara
Jungsoo mendalami kelereng coklat yang begitu cantik menatapnya. Guratan
keriput yang samar, senyum yang selalu indah, dan ya. Dengan ini, mereka
benar-benar merasakan betapa kilatnya umur mereka yang terus bertambah, dan betapa
banyaknya rasa cinta mereka.
Dengan anggukan singkat dan
ciuman manis dari kedua bibir mereka, waktu akan mengerti bahwa Jungsoo dan
sang istri masih ingin mengumpulkan kenangan-kenangan indah di masa tuanya.
Masa tua indah mereka, even after a zillion years.
[끝]
p.s : leeteuk yang mana? *lol*