[Speciclet] H | Home

Home
Alphabetic Speciclet

© Ghaziana, 2013
Wooyoung 2PM
Rate : T
Warn!Gaje
*







Gadis yang tengah kuekori langkahnya. Gadis yang ku kejar akhir-akhir ini. Gadis yang banyak menyita waktuku hingga aku lupa waktu untuk menghirup oksigen barang sekali saja ketika dua bola mata Onyxnya menyipit lucu menggemaskan. Gadis yang sangat sederhana hingga membuat seluruh siswa di sekolah internasional kami mencibirnya—bahwa ia tak pantas ada ditempat tersebut. Gadis yang sedang berjalan didepanku dengan langkah gontai dan santai tanpa lelah, berbeda dengan kakiku yang sudah kram karena mengikutinya berjalan menuju rumahnya.

Aku Jang Wooyoung, salah satu penggemar—atau mungkin satu-satunya penggemar—berat gadis yang selalu menyendiri didepanku itu. Wajahnya tegas, matanya berkilat emosi lembut, kulitnya mulus tanpa noda, dan kupastikan ia pasti cantik sekali jika tersenyum. Bisa-bisa membuatku terpukau dan ikut tersenyum dari telinga ke telinga. Ku anggap ia malaikatku akhir-akhir ini, entah sejak kapan bisa begini. Hanya saja, baru gadis inilah yang membuatku tak kenal lelah untuk menunggu kepastian darinya—tentang pernyataan cinta yang sudah kulakukan tiga kali padanya.

 Aku masih berjalan mengikutinya, walau kedua kakiku sudah menangis minta istirahat. Mungkin lelah yang kakiku rasa ini tidak sebanding dengan lelahnya gadis pujaanku yang harus menahan emosinya ketika dicemooh teman-teman sebayanya. Aku juga tak tahu mengapa gadis secantik dia bisa tak punya banyak teman. Padahal, dari informasi yang kudapat tentangnya, ia pandai sekali menari dan memiliki bakat musik yang keren.

Mungkin karena ia bisu—tak banyak bicara dan terlihat tak perduli dengan keadaan sekitar. Sifatnya yang selalu bicara seperlunya, memandang jika penting dan mendengarkan jika hal yang didengar itu menyenangkan pasti membuat seluruh gadis-gadis sebayanya merasa bahwa gadis ini tak pantas untuk didekati. Mengingat ia benci menggosip dan bersenda gurau.

Hobinya membaca buku dan mendengarkan musik, persis sepertiku. Dan dari observasiku selama dua bulan ini, aku banyak tahu tentang gadis yang tengah mengikat rambutnya sambil berjalan didepanku.  Ia gadis yang sebatang kara. Ayahnya tak mengakuinya, sedangkan sang ibunda sudah meninggalkannya sejak dua tahun lalu. Apa karena ia anak tunggal jadi tak bisa bersosialisasi?—oh ayolah! Aku bahkan akan menerimanya dengan senang hati jika ia tak memiliki teman! Sungguh!

Aku sudah jatuh hati padanya sejak aku melihatnya memainkan ‘Summer’ di ruang musik dengan wajah yang emosional, mata yang berbinar dan senyuman tipis yang jarang sekali terlihat.

Apa aku sedang menguntit sekarang?

Oh tidak. Dia tahu bahwa aku sedang mengikutinya berjalan sampai rumah. Aku sengaja memintanya—lebih tepatnya sedikit memaksanya—untuk memperbolehkanku datang ketempatnya. Ini kesempatanku untuk mendapatkannya, sebelum yang lain jatuh cinta pada dia yang cantik dibalik wajah garangnya. Dan tentu ia menolak mentah-mentah permintaanku. Namun…oh bisakah kau tidak meragukan Jang Wooyoung?

Sore tadi, setelah bel pulang sekolah, aku kembali menyatakan cinta untuk yang ketiga kali. Dan entah apa alasannya, ia kembali menolakku. Dan kurasa, satu-satunya pertanyaanku yang tak terjawab selama observasiku adalah : mengapa dia menyendiri, dan menolakku?

Sebenarnya, sampai saat ini, hanya gadis inilah yang membuatku setengah mati mengejarnya. Kalau aku mendapatkannya, aku pasti menjaganya layaknya sebuah mutiara dalam kerang. Gadis ini terlalu sempurna untuk dicampakkan. Dan dia adalah satu-satunya perempuan—selain ibu dan kakak gilaku—yang membuatku luluh untuk meninggalkan mobil mewah kesayanganku bertengger manis dipekarangan sekolah.

Kakiku mulai gemetar. Ini sudah cukup jauh! Ternyata rumahnya memang tak bisa dijangkau dengan mobil, tapi jalan-jalan tikus yang daritadi kulalui tak ada ujungnya! Astaga!

Aku sempat mendongak keatas ketika aku berjongkok kelelahan. Dan pada saat itulah, kami melakukan kontak mata. Bola mata coklatnya menarikku sehingga aku berdiri kembali dan—dengan berat hati dan peluh yang bercucuran—aku mengikutinya. Ternyata dia berbelok ke sebuah gang yang lebih kecil dari jalan tikus yang kulewati bersama sedari tadi. Dari situlah aku bisa berdiri tegak diam, menikmati ia yang tengah membuka pintu dengan kunci ditangannya.

Aku terperangah. Apa ini pantas disebut rumah?

Blok kecil yang diapit oleh dua rumah yang mungkin dua sampai tiga lebih besar dari rumah yang ditunjukkan gadis cantikku. Gang kecil yang didominasi oleh ruak anyir dan amis dari tumpukan sampah milik rumah-rumah disisi-sisinya membuatku ingin muntah. Dengan satu pintu dan tanpa jendela dipinggirnya. Sementara genting-genting yang dipakai berguna untuk menerima langsung sinar matahari.

Kalau aku tinggal disitu, aku pasti takkan sanggup.

Tapi setelah kulihat manik matanya, semua ‘jijik’ yang kurasa seakan hilang karena semua perhatianku tertuju padanya.

“Bagaimana, Jang Wooyoung-ssi?” Dia tiba-tiba memanggilku. Aku menatap bola mata Onyxnya, yang sedikit berkilat entah karena marah atau air mata yang sudah tak kuasa terbendung. Aku tak tahu. Tapi wajahnya terlihat lebih hidup.

“Maksudnya?” Tanyaku kebingungan. Aku memang tak mengerti apa maksudnya.

“Kau boleh pergi meninggalkanku sekarang. Kau pasti syok dengan keadaanku yang miskin ini kan? Ayolah, aku tahu kalau semua lelaki itu sama. Semua orang disekolah membenciku karena aku miskin dan masuk kedalam sekolah istimewa.”

Aku terkejut mendengar untaian kalimatnya. Sedikit banyak menyindirku yang mungkin kehidupannya lebih baik dan tertata dibanding gadis didepanku yang sudah menjatuhkan air matanya didepanku. Tak ada isakan, hanya sebutir yang jatuh perlahan dari Onyx-nya. Ini yang pertama kalinya, melihat air muka miliknya yang begitu hidup dan penuh pancaran emosional.

“Kau lebih baik pergi sekarang sebelum kau membenciku karena besar rumahku mungkin lebih kecil dibandingkan kamar mandi istanamu.” Ia menghentikanku ketika kakiku berjalan kearahnya, semakin dekat hingga jarak antara kami berdua tak begitu jauh.

“Sebaiknya kau melupakanku sebelum aku mengingat ayahku yang tak tahu diri meninggalkanku dan ibu yang sakit ketika kami jatuh miskin.”

Tangisnya kembali menjadi tanpa suara. Sebelah tangannya bergetar menutup mulutnya. Aku sengaja berjalan kearahnya, mendekati tubuhnya yang terlihat berbeda. Sediam-diamnya manusia, pasti memiliki emosi dan hati yang bisa merasa kan?

Ku genggam sebelah tangannya. Aku tahu ini berat untuknya, berat untukku juga karena….aku benar-benar tak tahu apa alasan dari bibir bisunya tersebut. Tapi sungguh, aku mencintainya. Dan aku tak mempermasalahkan seberapa besar persegi rumahnya. Karena aku mencintainya, semudah itu.

“Apa kau bisa percaya padaku?” ucapku, mengangkat dagunya sedikit keatas. Kutatap wajahnya yang basah, matanya yang memerah dan air muka yang hidup, “…aku mencintaimu. Seberapa besar rumahmu, aku tak mempermasalahkanya. Rumahmu istanamu, dan aku juga tak akan marah jika kau mengajakku meminum teh bersama sore hari didalam rumahmu. Aku mencintaimu. Bisakah kau mengerti itu?”

Kulihat dia diam membisu, aku tersenyum sembari menyeka air matanya, “aku ingin jadi tamu dirumahmu, dihatimu, dan yang ku butuhkan hanya senyumanmu yang begitu menawan. Bukan bibir melengkung kebawah seperti yang biasa kulihat. Bisakah kau mengerti itu?”

“Tapi semua teman-temanku, semua yang mendekatiku, langsung menjauh ketika melihat keadaanku yang miskin dan jauh dibawah mereka. Hidupku tak seindah, seberwarna dan sebergelimangan daripada hidupmu. Aku tidak ingin dipermainkan lagi, Jang Wooyoung-ssi. Jangan mencintaiku karena rasa kasihan.”

Aku tersenyum simpul sambil mengelus kepala belakangnya, “aku tak peduli. Aku mencintaimu dan semua yang kau punya. Jangan seperti ini terus… ayo tersenyum..” ajakku sambil menarik kedua ujung bibirnya. Tiba-tiba ia tersenyum dan memelukku erat. Didepan pintu rumahnya kami menyatakan cinta. Dan pada saat itulah, aku semakin mencintainya. Apa adanya.




[끝]

aduh enek gak sih ini gak jelas banget ficletnya. oke kalo yang ga ngerti sama ceritanya tweet aja ke aku, kalo enggak berarti kamu udah ngerti :p

ini Woo sama Khun udah keluar. Mana junho ya*,* sampe skrg belom buat dong. Tadinya mau ngikutin rikues april H-nya 'Hot' aja trs castnya Junho. wah....itu mah membangunkan yadong namanya lolol :p yasudahlah maap ya rikuesnya digeser :))

rikues allowed! masih boleh ngetweet ke aku, itu juga mohon maap kalo ga dibales soalnya simpati mahal gila *apasihghancurhatmulu  

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!