[Speciclet] O | Occasion

Occasion
Alphabetic Speciclet

© Ghaziana, 2013
Kyuhyun SJ
Rate : T 
Warn : Lebay! Drama! Comfort! Hurt! Family-concept! Dibuat sebelum C-N dibuat. Serius.
*



“Audrey baik-baik saja, tenang sayang tenang..” Sebelah tangannya menggenggam kedua tanganku yang bergetar. Aku tahu, dibalik wajah tenangnya, ia tak kalah takut sepertiku. Sesenggukanku mereda bersama air mata yang juga mengering. Aku mengangguk, menenggelamkan tatapanku pada hujan diluar sana. Kata sayang yang ia berikan padaku begitu menenangkan. Aku merindukan kata sayangnya, dan tentu genggaman tangannya yang selalu berhasil membuatku berhenti menangis.


Aku benar-benar ingin membunuh waktu. Coba saja kalau aku tak meninggalkan anakku ditaman kanak-kanaknya tadi pagi untuk pekerjaan mendadak yang kuterima lewat ponsel, hal ini benar-benar tidak akan terjadi.

“Tapi Kyu, dia pasti sangat ketakutan…Audrey…Audrey pasti ketakutan, Kyu… Kalau saja…kalau saja aku tidak…ah!” ucapku terbata, membuatnya menoleh padaku berkala sambil menoleh kearah jalan. Satu tangannya tetap berada diatas setir mobil sedangkan satunya merambat bertaut kedalam lima jari tangan kiriku. Mungkin memang hanya Audrey yang bisa membuat kami bersama seperti ini. Untuk selama dua tahun lamanya, baru pertama kali aku merasa menyesal hingga menangis tak henti. Bagaimana bisa aku dan Kyuhyun bercerai karena hal-hal yang sungguh masih bisa diselesaikan, sedangkan Audrey masih berumur dua tahun ketika itu.

Lebih menyesal lagi ketika aku mendapati Kyuhyun meneleponku dengan nada marah dan sedih. Dia memarahiku karena meninggalkan Audrey disekolahnya, karena helper Audrey menelepon Kyuhyun tentang apa yang terjadi dilingkungan sekolah. Audrey sangat senang sekali bermain dengan binatang, tentu karena dulu kami bertiga memiliki sepasang anjing kecil untuk menemani Audrey.

Dan bodohnya, kami tak pernah bilang bahwa semua anjing belum tentu jinak.

“Kita sampai.” Ucapnya singkat setelah membuka seatbeltnya dan keluar dari pintunya. Aku melakukan hal yang sama dan memasukkan kembali lipatan-lipatan tissue yang tidak dipakai olehku. Aku mengikuti langkah besar mantan suamiku dengan lari-lari kecilku. Kami masuk kedalam lorong warna-warni ditengah-tengah bangunan penuh anak-anak juga permainan-permainan khas taman kanak-kanak.

Kyuhyun sempat bertanya pada salah satu guru yang lewat dimana letak ruang anak kami berada. Dan disinilah aku, mendapati Audrey yang duduk sendu dengan kaki kiri yang diperban.

“Astaga! Audrey!” Aku berlari memeluknya. Tangisku pecah seketika ketika kedua tangan kecilnya memeluk tengkukku dan ikut menangis. Demi Tuhan aku tak sanggup melihat Audrey kesakitan begini. Sementara Kyuhyun disebelahku, berdiri sambil berkacak pinggang.

“BAGAIMANA BISA KALIAN PARA GURU MENINGGALKAN MURID KALIAN PERGI DARI LUAR LINGKUNGAN SEKOLAH!” Suara Kyuhyun begitu berat dan lantang. Aku tak begitu mempermasalahkan itu, karena semua orang tua tak ada yang mau menerima hal yang sama sepertiku. Dengan wajah yang memerah, dan garis urat yang terlihat dari lengan nadi dan lehernya, “…kami para orang tua memberikan kepercayaan pada kalian. Kenapa kalian bisa membiarkan anakku keluar!”

Aku menghentikan tangisku, lalu mengangkat tubuh Audrey kedalam pelukanku. Audrey menenggelamkan wajahnya dalam ceruk leherku. Aku menggenggam tangan Kyuhyun yang mengeras setelah membentak para guru yang berjajar dihadapan kami.

“Kyu..”

“Jangan hentikan aku! Ini salah mereka yang tak bisa menjaga Audrey. Ini bukan salahmu…Sungguh ini bukan salahmu, jangan hent—“

“Kyu….Audrey ketakutan…” ucapku lagi. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, setelah aku menatapnya dalam sambil mengeratkan genggaman tangan kami. Detik berikutnya, Kyuhyun memilih untuk mengambil alih gendonganku sehingga Audrey bisa menangis dipelukan Kyuhyun. Kyuhyun pergi keluar ruangan bersama Audrey dan meninggalkanku yang harus berhadapan dengan para pengurus Audrey yang menunduk dihadapanku. Pandanganku teus mengikuti kemana Kyuhyun pergi. Astaga….aku sungguh merindukan keluarga kecilku. Bagaimana bisa kami bercerai tanpa memikirkan Audrey..

“Joesonghamnida, Nyonya Cho. Kami terlalu ceroboh. Maafkan kami semua selaku para pengurus.”

Aku tersenyum setelah mengulurkan tangan dan mereka menerima uluran tanganku. Satu persatu, tanganku berjabatan dengan mereka. Tanda terima maaf dari mereka. Tentu saja mereka ku maafkan. Semua bukan salah mereka juga.

Kuputar tubuhku, kuarahkan kakiku menuju luar gedung sekolah. Aku sempat terdiam membeku, dan hampir saja bulir airmataku keluar setelah melihat betapa manisnya Kyuhyun yang tengah tertawa mendorong ayunan berwarna merah yang tengah diduduki Audrey. Anakku itu tertawa renyah melihat sang ayah memberikan lelucon badut terhadapnya.

Kalau bisa kuubah waktu, aku benar-benar takkan mengiyakan perceraian kemarin.

“Mommy!” Audrey berteriak memanggilku. Ia menyuruhku mendekat dan tentu kuiyakan. Aku berjongkok menatap Audrey yang tersenyum manis untukku.

“Ada apa sayang, hm? Kakinya masih sakit?” tanyaku.

“Ani, kakiku tidak sakit lagi sekarang. Tadi dicium appa sih!” Aku terhenyak, lalu menoleh kearah Kyuhyun yang juga berjongkok disebelahku.

“Ya…ya, aku hanya memberikan kecupan singkat dikakinya. Kau tahu sekali bagaimana cara menghilangkan rasa sakit paling efektif. Bukankah kau pernah menerimanya?” Suara Kyuhyun seperti sedang memojokkanku. Tatapannya begitu tulus, dan aku begitu merindukannya saat ini.

Kalau aku sedang bodoh, mungkin aku akan memeluknya sekarang. Dihadapan anakku.

“Mommy, tadi appa bilang appa mau tidur dirumah. Boleh kan? Aku mau main seharian sama appa!” katanya lantang, dan tatapanku kembali kuarahkan pada satu-satunya lelaki yang pernah tertambat dihatiku.

“Ehm…sebenarnya…aku ingin menemani Audrey untuk beberapa malam.”

“Kau masih boleh tinggal ditempatku selama yang kau mau.”

Astaga! Apa yang kubilang tadi! Itu benar-benar diluar pengendalianku! Aku menatap Audrey yang tertawa dan menyerukan ‘hore’ dengan riang. Sementara aku hanya bisa membuang muka karena malu. Seperti wanita murahan saja, menggoda mantan suamiku sendiri.

“Yeeeee, berarti mommy sama appa nanti tidur sama Audrey yaaaa…” goda anakku. Ya, sepertinya aku kalah dari egoku sendiri. Aku memang membutuhkan mereka untuk tetap ada disisiku.

Kyuhyun tersenyum padaku, dan aku juga menyambut senyumnya dengan anggukan samar. Aku masih berharap, ada kesempatan untuk kami suatu hari nanti.
 
*

boleh jujur ga? jujur ya...
ini serius aku bikinnya sebelum yang lain aku buat. Pas aku buat Acoustic, tiba-tiba bikin ini dan ceritanya ngalir aja sambil mewek ga jelas padahal ga sedih2 amat ceritanya. dan gatau kenapa aku ngerasa ergh banget sama yang ini. emang sih alay banget sinetron banget haha

kenapa kyu? gatau kenapa bisa kyu lagi._. mungkin aku bikinnya setelah acoustic sih. kan acoustic castnya sungmin (kyumin lagi-________________________________-) dan pas aku bikin ini, aku bayangin mantan istri kyuhyun itu sungmin (ASTAGA ASTAGHFIRULLAH SUNGMIN ITU LELAKI NAK ISTIGHFAR) untuk para pecinta sungmin didunia ini, jangan bunuh saya. banyak yang bikin sungminnya dijadiin cewek diluar sana (lebihparah)

kenapa audrey? aku pikir audrey nama yang bagus. aku baca cerita di lj audrey jadi anaknya hae lucccuuuuuu banget. sayangnya...audrey itu nama anjing minjun >.< jangan bayangin anjing pas baca ya


oke. abaikan.

kalian jangan ilfil sama author ga laku ini *lol* kasian abisnya belom sampe Z ckck

p.s : kyumin is better than kyuhyuk, fitria wahyuni-_- 

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!