[Speciclet] V | Valentine

Valentine

Alphabetic Speciclet





© Ghaziana, 2013



Mblaq Seungho & G.O Rate : T

*









Sebenarnya tidak ada yang lebih bodoh dibandingkan merayakan valentine di umur hampir 27 tahun, apalagi seorang lelaki. Dan apalagi dia adalah seorang hallyu star.



Tapi apa salahnya? Mungkin sebuah kebetulan sedang berpihak pada kelima personil MBLAQ. Hampir semua membernya memilih untuk pulang berlibur untuk berkumpul bersama keluarga atau teman-teman dekat tepat ditanggal 14 Februari. Mungkin tidak untuk Thunder yang memiliki jadwal taking photos untuk sebuah majalah remaja. Tidak juga untuk Joon yang akan datang ke acara di salah satu stasiun tv Korea yang mengadakan sehari spesial valentine.



Jalanan di Seoul sudah dipenuhi dengan atribut warna merah muda, dengan tersebarnya kios-kios kecil yang menjual coklat yang berbagai warna dan bentuk. Lotte Mart saja membuka diskon besar-besaran di semua couple tee yang dijual.



Tidak terkecuali… Leader Mblaq.



“Ne, arrasseo! Bisakah kau tidak berteriak-teriak di telepon? Aku melihatmu saja muak apalagi mendengar suaramu yang melengking seperti orang bodoh!” Seungho masih menggerutu dengan satu tangan yang menggenggam ponsel canggihnya, sedangkan satu tangan lagi ia kerahkan untuk memutar setir mobil dengan benci. Macet di pusat Gangnam memang tak terkirakan lagi. Ia hampir terjebak selama setengah jam dan bisa dibilang tak bergerak sama sekali. Dan kemarahannya yang berbuih sudah diujung puncak emosi hingga ia tak sempat memasang Bluetooth untuk menerima telepon lewat speaker mobilnya.



“Aku kena macet! Apa kau tak bisa menunggu sepuluh menit lagi?! Segini saja aku sudah mau bantu! Kalau kau telepon lagi, akan ku buang barangmu!” Dengan cekatan ia menekan tombol merah dilayarnya. Dilihatnya lagi sebuah benda yang terbungkus kain beludru berwarna hitam pekat dengan jahitan berwarna emas diatasnya. Benda yang duduk santai di kursi sebelahnyalah sebenanya yang membuat kebenciannya menumpuk tinggi. Gara-gara benda itu, ia terjebak macet hingga kaki kirinya kram. Gara-gara benda itu, ia tak bisa bertemu dengan sang kekasih dan menjemputnya tepat waktu. Gara-gara benda itu…



Ah ani!



Tapi pemilik benda itulah yang membuatnya seperti macan kelaparan. Bagaimana bisa seorang artis yang hanya memiliki waktu libur satu hari, menghabiskan waktunya untuk mengambil pesanan orang lain hingga sore hari.



Lama-lama Seungho merasa idiot juga, sih. Coba saja kalau adiknya itu tidak mengancam akan membuat dua tiket opera termahal di Korea Selatan terbuang sia-sia, Seungho tidak akan lelah-lelah mengerjakan hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukannya.



Mungkin ini semua demi Byunghee dan aksi bodoh yang mungkin akan membuat dirinya sendiri didamprat dari iming-iming Mblaq di nama belakang mereka. Ah persetan! Itu urusan Byunghee, bukan urusan Seungho. Walaupun mungkin suatu saat ia akan melakukan hal yang sama.



Dengan susah payah menahan emosi sambil menatap ponselnya yang berdering dengan miris (tentu dengan nama kekasihnya yang terpampang sempurna dilayar sentuh ponselnya), ia mengeluarkan napas lega dari hidungnya saat mobilnya terparkir di sisi jalan Gangnam. Ditutupnya kedua mata dengan bulu mata tebal miliknya. Wajahnya terdongak sempurna seperti menatap langit-langit mobil mewahnya. Ini harus jadi hari terakhir ia membuat kekasihnya menunggu lama hanya untuk Byunghee.



Lalu ia berlari secepat mungkin sambil membawa bingkisan super besar ditangannya. Ukurannya mungkin hampir sebesar kepala Seungho hingga perut. Ia menabrak banyak pasangan-pasangan yang dengan mesra bergandengan tangan merayakan Valentine, dan itu membuat Seungho menahan diri setengah mati. Ibu jarinya menyempatkan diri untuk membetulkan kacamata Ray yang bertengger di hidung bangirnya.



Ia bisa melihat Byunghee dengan kekasihnya, Violin, duduk disebuah meja terpojok di satu café terkenal di Gangnam. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sebuah kalimat.



Aku sudah didepan bodoh!



Kedua matanya bisa melihat Byunghee yang bibirnya sudah tertarik dari telinga hingga telinga saat melihat Seungho mengangkat tinggi-tinggi bingkisan yang diminta Byunghee diambil dari tempat pesanannya. Ada pula Violin yang berdiri melambaikan tangannya dari balik kaca kearah Seungho. Dan….eh? Kenapa bisa ada kekasihnya…. Di belakang Violin?



Gulp.





*





Ditengah sebuah café paling populer di daerah Gangnam, Byunghee dengan langkah tegas dan mantapnya, memecah keramaian yang dibuat oleh para pengunjung café. Ia mendekati Violin sambil tersenyum ramah dan dalam. Ditatapnya pula semburat merah Violin yang merambat hingga ke kuping, yang dibelakangnya terdapat Rian tengah menahan tawa entah karena melihat Byunghee berjalan semantap itu atau karena Seungho yang mengekor dibelakang Byunghee dengan tatapan gemas.



Dalam hati kecil Byunghee, atau dengan nama panggung G.O tersebut, ia merasa sangat bangga bisa menikmati sepasang mata indah yang biasa, rambut berikal gantung yang biasa, porsi tinggi seorang wanita yang biasa, juga senyum yang mungkin semua wanita punya. Tapi semua aspek yang dimiliki Violinlah yang membuat Byunghee begitu tegas mengatakan pada Violin saat Seungho belum membawa benda yang ditunggu-tunggu olehnya: karena aku mencintaimu, mungkin kau akan terkejut.



Dan ini jawabannya. Seorang Hallyu Star, Jung Byunghee, dengan semua tatapan seluruh pengunjung café yang sadar bahwa dua orang dari ratusan orang didalam café ini adalah popular one tertuju padanya, berlutut didepan Violin yang sudah menganga tak biasa. Degupan jantung yang bekerja berkali-kali lipat lebih cepat, hingga aliran darahnya mengalir selancar air, otot-otot dan sendi dalam tubuhnya meregang….



Sebenarnya Violin belum siap dengan ini.



Tapi ia bisa melihat betapa indahnya tas hitam beludru dengan jahitan emas yang bertuliskan nama kecilnya dan nama panggung kekasihnya dibadan tas tersebut. Bukan hanya itu. Violin sampai menahan tangis saat Byunghee membuka tas berlekuk itu. Didalamnya ada sebuah biola hitam mengkilat Metal Claziev-89  yang terkenal dan mungkin hanya ada beberapa didunia. Violin terlalu mendambakan benda tersebut.



Dan diantara selir empat kawat biola itu, mengkilap dengan manis sebuah cincin perak yang sukses membuat aliran darah dan air mata Violin bekerja dengan tidak normal.



“Menikahlah denganku.” Seperti sebuah bisikan dari langit yang menyapa telinga Violin, ia menatap dengan dalam mata Byunghee yang berkilat harap. Tidak. Yang tadi bukanlah sebuah pertanyaan. Melainkan pernyataan yang seakan mengharuskan Violin mengikutinya.



Seungho hanya berjalan merangkul kekasihnya dengan sayang, sembari menatap adiknya yang akhirnya mengeluarkan jurus mati-nya. Semua member Mblaq tentu sudah tahu apa yang akan dilakukan Byunghee, itu karena Byunghee tak henti-hentinya menegaskan bahwa ia benar-benar mencintai Violin.



Suasana café seakan-akan sepi menunggu anggukan dari wanita secantik Violin, yang jari-jemarinya tengah menari diatas badan mengkilap biola dipangkuan Byunghee. Tidak… Sebenarnya Byunghee tak harus melakukan hal segila ini. Bahkan jika Byunghee hanya berkata ijinkan aku menikahimu, Violin tentu akan mengiyakan.



Hampir sepuluh tahun mereka melewati hal-hal gila dalam kisah cinta diam-diam, dan itu takkan mungkin terus berjalan hingga mereka tua nanti. Byunghee tak ingin kekasihnya itu terus tergantung oleh embel-embel artis dinamanya. Sebuah penegasan dibutuhkan dalam satu hubungan, kan?



Dan karena Violin merasakan desiran yang tak biasa dalam dirinya, yang membuatnya semakin mantap akan melangkah ke tahun-tahun selanjutnya bersama lelaki yang sangat dicintainya itu, ia mengangguk dengan senyum yang tertera di lipatan bibir merah mudanya.



Pengunjung café memberi applause dan sahut-sahut menggoda untuk pasangan ini. Mungkin café yang tengah ramai ini haruslah bangga karena menjadi saksi hubungan seorang Byunghee dan pemain biola handal Korea Selatan, Violin Park. Tak sedikit dari mereka mengabadikan Byunghee yang saat ini memeluk Violin posesif dengan kamera ponsel. Tak sedikit pula dari mereka yang semakin lengket dengan pasangannya. Termasuk Rian yang tersenyum tak henti-hentinya, berbeda dengan kekasih kerennya itu.



“Kau mempermainkanku, Rian…” Goda Seungho sambil mencubit kecil hidung kekasihnya itu. Mereka tertawa-tawa kecil saat saling menggoda satu sama lain, “…tadi di telepon kau marah karena aku tidak menjemputmu tepat waktu, huh?”



Rian tertawa gemas, “kan aku bercanda. Lagipula… aku juga mau lihat Violin.” Katanya. Lalu dengan sebuah jinjitan kecil, Rian mengecup sudut bibir Seungho dengan buku menu yang menutupinya, “Happy Valentine, oppa.”



Seungho tertawa lagi, “Happy Valentine juga, sayang.” Dan Seungho ikut mengangkat buku menu ditangan Rian untuk menutupi aktvitas pribadi mereka seperti mengecup singkat bibir bentuk M milik Rian yang tak ingin ikut terabadikan pengunjung café. Hampir tak mau kalah dengan Byunghee yang dengan terang-terangan memagut bibir Violin, dengan dua tangan yang menahan pipi pualam Violin agar tetap ditempatnya, ditengah pengunjung café dengan tak tahu malu.



Begitulah segelintir kisah malam Valentine. Bagaimana denganmu?




[끝]

tadinya aku mau pake jio jadi sudut pandangnya. cuma...........................dia tuh bikin ilfil kemarin di gayo daejun dengan rambut kuningnya aku ga suka >.<

jadi aku pake seungho, hahahahahahaha 

p.s : no comment for jio-_-  

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!