[Speciclet] R | Rainbow

Rainbow


Alphabetic Speciclet







© Ghaziana, 2013


Better Guess :p Rate : T
Warn! Sedikit nyeleng! Typos! 


*






Adakah pelangi yang lebih indah dari hari ini?


Ada.

Kamu.

*

Ketika rasa itu kembali datang dan mengetuk, awalnya aku takkan pernah berpikir bisa seindah ini. Bisa sebahagia ini, bahkan bisa membuatku terbang jauh menembus awan. Seperti sedang bergandengan tangan dengan sesosok malaikat yang turun dari langit, yang kembali terlihat nyata membuatku ingin mengembalikan senyumnya.

“Ayo sini!” malaikat tersebut menarikku ke sudut taman yang sebelumnya tak pernah ku kunjungi. Hari terakhir dikota indah bernama Seoul ini semakin terasa hangat ketika jemari lembutnya dengan erat bertautan dengan jariku yang lain.

Hidupku sebentar lagi, dan dokter mengatakan begitu dua bulan yang lalu. Di Jakarta. Tapi tidak ketika ia menyuruhku untuk berobat dan berusaha melaksanakan terapi penghilang sakit ganas yang dua tahun ini menyerang tubuhku hingga semakin lemah dan tak berdaya.

Dan aku kembali menemukannya. Menemukan malaikatku yang masih membawaku berlari menerobos beberapa ilalang tinggi yang mungkin tingginya sebatas lutut. Membuat celanaku dan rok miliknya mungkin sedikit basah karena bulir-bulir air hujan yang menempel di dedaunan kuning tersebut. Musim semi dan berhujan, aku ingat dia cinta sekali dengan hujan.

“Sebentar..” kataku, mungkin tak didengar. Rambutnya beterbangan indah, membuat gelombang anak rambutnya menari-nari didepan mataku. Dapat kulihat dari sudut pandang mataku, bahwa senyumnya tengah terpasang dengan indah, menarik dua pipinya yang bersemu mempesona.

“Lihat!” kami berhenti di rerumputan hijau kosong, yang disekelilingnya penuh dengan bunga. Aku berdiri disebelahnya. Telunjuknya menunjuk-nunjuk langit yang berwarna indah. Betapa cantiknya tetesan air dan sinar matahari yang memiliki tujuh warna itu. Mulutku hampir saja menganga, karena aku tak pernah mendapati pelangi seindah diatas sana selama hidupku. Bahkan jarang sekali Jakarta menampilkan lukisan Tuhan yang luar biasa ini.

Tapi bukan pelangi itu yang membuatku jatuh cinta. Tapi malaikat disebelahku yang lebih indah bahkan lebih dari pelangi yang ditunjuknya.

“Gimana? Keren kan?” ucapnya sambil menoleh dan mendapatiku tersenyum manis padanya. Sebelah tanganku masih bertaut dengan tangannya. Seketika saja wajahnya berubah malu dan kaget ketika tanganku yang lain sengaja menjatuhkan payung yang kubawa. Aku membelai lembut pipinya.

“Kamu bawa aku kesini buat lihat pelangi?” tanyaku. Wajahnya melembut layaknya kapas. Ia menarik tanganku yang sebelumnya mengelus pipinya hingga ia kembali memandang pelangi diatas kami.

“Ini hari terakhir kamu di Seoul, dan kamu udah sembuh. Aku nggak punya waktu banyak untuk main-main sama kamu. Aku cuma ingin waktu kita yang singkat bisa berkesan. Itu aja.” Aku masih memandangnya tulus. Betapa dewasanya gadis ini. Telah lama kami saling mengenal. Saling berbagi cerita, bekerja sama, bahkan jatuh cinta.

Dulu, kami sering sekali bermain-main ditengah-tengah guyuran hujan. Ia memelukku saat aku kalah karena tak bisa memenangi pertandingan besar yang datang padaku. Aku memeluknya ketika orang tua gadis ini meninggal karena sebuah kebakaran besar yang merenggut hampir seluruh anggota keluarganya. Aku ingat ketika kami harus berpisah hanya karena salah paham, dia yang tak bisa segera pulang dari Seoul, tempatnya tinggal sejak ia tak lagi memiliki keluarga, dan aku yang tak lagi punya waktu untuk menghubunginya karena kesibukan yang begitu menumpuk.

Kami hidup dalam alur yang berbeda. Setelah penyakit itu hampir merenggut nyawaku, tepat ketika semua masalahku bercampur dengan sosoknya yang selalu membuatku rindu.

“Aku nggak mau pulang, Fy…”

Tuhan memang baik. Ia membawaku ke Seoul, bersama dengan penyakitku hingga aku bisa kembali mau untuk hidup ketika mendapati malaikatku yang menjagaku dirumah sakit, dengan seragam khas rumah sakitnya, dengan senyum yang sama, dan matanya yang selembut dulu. Aku bisa kembali membelai pipinya yang basah karena tangis yang membasahinya. Aku ingat dia tulus mendoakanku dengan sedu yang terdengar jelas ketika aku tertidur lemah diatas ranjang rumah sakit.

Dia menoleh kearahku lagi, “tapi keluarga kamu, pekerjaan kamu, semua tanggung jawab kamu, bahkan tiket kepulangan kamu sudah diurus kan? Jangan coba-coba main-main lagi, Yel.” Dia mengingatkanku.

“Tapi aku masih mau sama kamu, Fy.”

Ada kelu dihampir seluruh kulit lidahku. Dadaku berdebar ketika memutar badannya hingga ia bisa berhadapan denganku. Dua tanganku mengelus jari-jarinya. Dan tanpa sadar, pikiranku membawa tanganku untuk mengelus jari manisnya yang belum tersemat cincin.

Entah hanya tanganku, atau memang ini benar. Aku melihatnya bergetar sambil menunduk. Dia terisak menahan tangis. Walau bulir-bulir air hujan masih terlihat dihelai-helai rerumputan, aku masih bisa melihat air matanya yang jatuh perlahan.

“Tolong jangan, Yel…”

“Kenapa?” tanyaku, “dua bulan aku hidup di Seoul, dengan berbagai macam terapi, berbagai macam obat dan berpasang-pasang tangan dokter. Bukan itu yang buat aku kembali hidup, Fy. Tapi kamu. Aku nemuin kamu disini tuh bikin aku nggak mau lagi kehilangan kamu. Aku mau bawa kamu ke Jakarta lagi.”

Kepalanya menggeleng keras, “aku nggak mau hidup kayak dulu, Yel. Disana, aku nggak punya keluarga lagi. Tapi disini, semua teman seperjuanganku kerja dirumah sakit yang sama. Aku sudah punya hidup disini. Hidup yang lebih tenang, tanpa bayang-bayang ketakutan kematian seluruh keluargaku, Yel.”

“Fy…”

“Jangan paksa aku buat pulang..” kedua tangannya berusaha keluar dari tautan jemariku. Aku benar-benar ingin mengembalikan senyumnya yang seindah pelangi diatas sana. Kulepas sebelah tanganku, tapi tidak untuk membuatnya pergi lagi dariku. Kuraih punggungnya hingga ia bisa menangis didekapku. Ini lebih tenang dibanding aku harus kehilangannya lagi.

“Aku cuma mau kamu senyum lagi, Fy.” Kataku setelah beberapa detik aku mendengarnya menangis, “aku ingin bawa kamu ke hadapan orang tuaku. Aku ingin mereka kenal sama kamu. Aku ingin ngelamar kamu didepan mereka. Aku mau bawa kamu ke kehidupan kita yang lebih baik. Biar aku nggak terus tergantung sama keputusan orang lain, biar kamu nggak hidup sendirian, biar kita bisa saling melengkapi lagi. Cuma kamu pelangi terindah satu-satunya buat aku. Nggak ada pelangi seindah kamu.”

Ia menarik tubuhnya dari dekapanku. Matanya yang berkaca-kaca dan anak rambutnya yang menempel dipipi membuatku kembali berharap bisa memiliki malaikat sepertinya. Semua ucapanku terlontar begitu saja, bahkan dihari terakhir aku bisa menginjak kota Seoul. Malam ini aku akan pulang, dan aku tak ingin hanya membawa berita tentang kesehatanku saja.

Beberapa menit kami terdiam tanpa kata-kata yang terlontar dari masing-masing mulut. Kuselipkan rambutnya dibelakang telinga kecilnya, ia memandangku lagi. “Aku nggak akan pergi ninggalin Seoul. Semuanya aku bangun dari awal. Aku nggak mau bergantung sama orang lain disana.” Seluruh kulit wajahku mengerut kecewa, ketika air mata dari dua bola onyxnya kembali turun kedasar rerumputan.

“Tapi aku mau hidup sama kamu, Yel.”

Kedengarannya seperti bisikan dewi langit. Kedua sudut bibirku tertarik membuat sebuah senyuman lebar, bersamaan dengan dua lipatan merah muda didepanku yang juga menampilkan senyuman. Dua tanganku menarik pinggulnya hinga bibirku bisa melumat bibirnya yang lembut dan manis.

“Aku cinta kamu, Fy.” Hatiku berteriak tak karuan. Dibawah pelangi yang paling indah selama hidupku, akhirnya aku bisa mengembalikan pelangiku yang bisa membuat hatiku berwarna lagi.

Dan ketika leherku meremang mendapati kedua tangannya memeluk tengkukku, aku bersumpah akan menjaga ciptaan Tuhan terindah ini dengan segala kemampuanku, dengan rasa cintaku, dengan kasih sayangku yang tak termakan waktu.

*

CIYEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE CIYE CIYE BALIK LAGI SAMA GHANA DISINI *alay*

Kan ceritanya aku udah muv-on dari kegalawan februari awal dan kandang dwaeji :3 hello baby-baby ICL yang super aku kangenin muach *smooch* kalau boleh curhat sih /gaboleh/ aku kan memulai nulis-nulis dari alay-alayan suka sama Mario, terus Gabriel, Sivia, Ify, pairing-pairing kaya kyuhyun sungmin lololol duc duc aku bikin ini tuh pas merasa 'wew, tulisan gue di tc part 30 sampe akhir kok dalem ye?' ya kadang merasa alay banget baca tulisan dulu-dulu. tapi seneng tau ga si lo

Tapi ify gabs memang cucox berkat papa ify yang menyatukan mereka /halah/
 
p.s : bukan korea ini, makanya yang ga suka ya jangan protes ya :) kalo kamu mantan icl....ehm....siapa bias kamu sekarang? Rio? Yah. dia kelelep dilaut terjun dari kapal titanic *glek*  
 

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!