White Rose [Chapter 3/7]

Cinta, adalah lawan yang tak kan pernah bisa ku kalahkan.—Lee Donghae.



**



Untuk yang ke sekian kalinya, aku mengetuk pintu mahoni yang tepat di depan mataku. Gadisku—Lee Hyera—tidak masuk sekolah untuk hari ini. Sepulang sekolah, aku meluncur kerumahnya, namun belum ada tanda-tanda respon positif dari sang tuan rumah.



Mungkin aku harus meminta maaf padanya, telah menjauhinya untuk beberapa hari waktu itu. Penyesalan itu ada. Namun setelah hatiku tenang, ia benar-benar bisa membuatku mudah sekali kembali padanya. Menemukan selembar kertas kecil yang dilipat yang diselipkan ke novelku, aku sedikit ragu jika harus menjauhinya lebih lama.



Toh semua karena keegoisanku.



Aku hanya tak ingin ia tahu. Dan sungguh, menyembunyikan sesuatu didepan Lee Hyera adalah sesuatu yang sulit.



Tiba-tiba suara decitan pintu membuyarkan seluruh kalimat-kalimat yang kususun sebagaimana rupa agar Lee Hyera bisa kembali menerimaku. Karena bagaimana pun juga, dialah yang selama ini menjadi pendengar terbaik dalam hidupku. Aku berhadapan dengan sosok yang hampir mirip dengannya, Lee Hyunra.



“Oh, Annyeonghaseyo Noona…” ucapku sembari tersenyum dan sedikit membungkuk. Ia tersenyum memamerkan lesung pipinya yang manis, sama seperti yang dimiliki Hyera.



“Annyeonghi, Donghae-ah. Bagaimana kabarmu?”



“Aku baik…” timpalku. Mataku tertuju pada tangga yang terlihat dari sela-sela pintu. Tangga yang biasa ku pakai untuk duduk-duduk atau tangga yang langsung menyambungkan lantai pertama dan kamarnya. Aku berusaha untuk mengumpulkan segalanya. Nafas, menghapuskan keraguan, dan lainnya, “…Hyera ada dirumah?”



Hyunra Noona terlihat kebingungan. Wajahnya hampir sama seperti wajah Hyera jika ia menemukan kecoa dirumahku. Aku merindukan masakannya yang selalu berhasil membangunkanku. Hyera—tanpa kusuruh pun ia pasti datang, kadang hanya untuk menjemputku, atau hanya mengecek seragam yang akan kita pakai. Aku jadi merasa aneh jika Hyera tidak datang. Tidak ada yang tertawa-tawa dirumahku—yang hanya memiliki satu penghuni itu.



Aku terbangun, melihat Hyunra Noona—lagi. “Oh, Hyera sedang istirahat. Dia….sedikit tidak enak badan…”



“Boleh ku jenguk?” pintaku. Namun senyumku berubah menjadi sendu, mengapa semuanya jadi berubah begini.



“Mianhae, Hae-ah. Dia sedang ingin sendiri. Mungkin lain kali.” Sebisa yang aku mampu, aku menahan diri untuk tidak berlari dan menghambur masuk walau sesungguhnya aku mau. Hyera sedang sakit dan aku tidak tahu?



“Noona, salamkan saja cepat sembuh pada Hyera. Aku sempat marah padanya beberapa hari lalu. Mungkin aku juga harus menyampaikan maaf.” Ucapku. Hyunra Noona hanya dapat tersenyum manis setelah mengacak rambutku seperti saat aku dan Hyera masih duduk dibangku playgroup. Keluarga Hyera memang sudah menjadi keluarga keduaku, selain keluarga asliku sendiri. Entah bagaimana bisa, aku hidup sendiri lalu bergantung pada Hyera yang mau-maunya saja mengantarku kemana pun aku mau. Kadang ada rasa bersalah, aku belum pernah memberikannya sesuatu yang bisa membuatnya tertawa-tawa seperti saat ia memberiku kado aneh di ulang tahunku.



“Ne, akan kusampaikan pada Hyera.”



“Kalau begitu aku pulang dulu. Annyeong…” Setelah melambaikan tangan, kakiku membawaku pergi menjauh dan mengambil sepedaku yang sebelumnya tersampir di dinding pagar rumahnya. Aku ingin tinggal, mungkin Hyera butuh waktu untuk sendiri. Hyera selalu begitu jika ia lelah.



Maka ku tinggalkan ia. Tujuan terakhirku adalah tempatnya.



Tempat kekasihku.



**



Other’s Side



Kyuhyun menatap fokus kearah jalan. Ia sedang membelahnya dengan sekali jalan, tanpa rem yang ia injak. Mumpung jalanan sedang renggang, ia memanfaatkannya dengan mudah. Tidak seperti biasanya ia menggunakan mobilnya untuk beradu kecepatan dengan angin seperti kali ini. Ia—dulu memang penikmat, bahkan penggila balap mobil jalanan. Mungkin kecintaannya pada game dan dua x-boxnya yang tidak dapat ditinggalkan lagi, ia melupakan bakatnya dalam menyetir.



Kyuhyun akan kembali, jika ia sedang marah. Bahkan frustasi. Rumahnya sedang bising sekali karena noona-nya membawa banyak teman-teman kuliahnya untuk berpesta merayakan ulang tahun dirumah dengan sengaja. Kotak berwarna merah dengan pita besar emas itu sudah diberikannya. Sebuah boneka gajah kecil seukuran kepala diberikannya dengan tulus. Dan itu berkat campur tangan Hyera, yang membantunya dalam memilih kado untuk Ahra.



Tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Hari ini ia tidak datang. Kelas tidak terlalu sepi, namun hatinya yang mulai merindukan seseorang yang tiba-tiba saja merebut hatinya itu.



Empat tahun bersama, baru kali ini ada seseorang yang datang dan memberinya banyak perhatian lebih menyenangkan dari sekedar Combat Strike level 20 di permainan X-Boxnya. Satu yang janggal. Hyera tidak masuk, seharusnya Donghae juga. Bukankah mereka soulmate hidup-mati? Ini agak aneh, karena Kyuhyun tahu bahwa Hyera jatuh dalam pelukannya ketika ia pingsan disekitar taman karena tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang pucat. Kyuhyun melarikannya segera ke rumah Hyera, dan memberi tubuh lemas itu pada Hyunra yang baru ia kenal sebagai onnie-nya. Kyuhyun merasa bersalah, namun gadis yang lebih tua beberapa tahun dari Hyera tersebut memintanya untuk pulang. Karena Hyera meracau….menyebutkan nama namun ia tak tahu siapa. Ae. Ia tak henti-hentinya memanggil satu syllable itu.



Kyuhyun menghentikan kegiatannya dengan meminggirkan mobilnya keujung jalan. Kepalanya frustasi. Ini masalah Donghae dan Hyera mengapa ia harus begitu peduli? Itulah yang dipikirkan Kyuhyun. Namun Hyera begitu berbeda didepan Donghae. Sikap Donghae tidak semanis biasanya. Mereka tidak pulang bersama. Atau bahkan Donghae dengan manisnya tertawa dengan seseorang yang ada diujung teleponnya tadi pagi, seakan ia tak tahu, atau bahkan tidak peduli dengan Hyera.



Kyuhyun—senang. Donghae tidak tahu. Berarti ada satu kesempatan untuknya.



Ia memutar balikkan setirnya, menjalankannya dengan kecepatan yang lebih normal. Dan tidak membuang waktu banyak, sepuluh menit pun ia sampai di kediaman Hyera. Ia mendapati seseorang baru keluar dari pagar rumah yang tidak terlalu megah itu. Lee Donghae.



Sesaat setelah Donghae menjauh, membawa sepedanya kearah berlawanan, ia memberanikan diri untuk masuk kedalam lingkungan rumah Hyera. Berbekalkan selembar kertas yang bisa membantunya.



**



“Gwaenchana?” ucapnya berkali-kali. Ia melihatnya dengan begitu tulus. Tubuhnya yang cukup kerontang membuat Donghae sedikit bermasalah ketika ia sudah mendapati seseorang didepannya lemah tak berdaya melawan dingin.



“Donghae-ah, aku tidak selemah itu.”



“Ani, aku tahu banyak riwayatmu.” Kata Donghae dengan nada menyelidik, menunjuk kearah botol-botol plastik yang masih berisi dan berlabel aneh diatas meja yang tak jauh darinya, “…anemia yang cukup parah, kecelakaan waktu kecil, volume darahmu yang tidak normal, dan kau yang menyebalkan sekali disuruh makan makanan bergizi, mudah lelah juga. Masih mau mengelak, huh?”



“Makanya aku sulit bertemu denganmu, ‘kan?” Tiba-tiba Donghae menarik sebelah tangan ia, tulus. Donghae menatapnya tak menyangka, membiarkan ia teduh dengan tatapan Donghae yang selalu hangat, “…bukankah mencintaimu, hatiku sudah cukup menyatu?”



Tiba-tiba seorang itu memajukan bibirnya. Entah untuk apa, dimata Donghae itu artinya… Ia tengah berpikir.



“Kau harus segera bilang.”



Donghae mengerut, “Bilang apa?”



“Sahabatmu itu.”



Tiba-tiba tatapan Donghae berubah menjadi dingin. Tidak seperti saat ia begitu tulus melindungi seseorang yang sangat ia cintai didepannya, “…ia takkan mengerti, sayang…”



**



“Kau boleh masuk, Kyuhyun-ssi.” Ucap Hyunra menunjukkan pintu kamar Hyera yang terbuka. Ini pertama kalinya ia melihat kamar Hyera, berantakan. Dan pertama kalinya juga ia dipersilahkan masuk oleh kakaknya. Kyuhyun mundur selangkah, lalu membungkukkan badannya beberapa derajat. Merasa tidak enak.



“Ani. Aku tidak berhak, Noona. Aku hanya ingin menjenguknya, bukan menemaninya dikamar.” Ucapnya pelan. Rasanya berat, apalagi bicara didepan seorang wanita yang ia belum tahu siapa. Kyuhyun menarik senyumnya lagi. Ia hanya ingin melihat Hyera, setelah itu cukup.



“Hyera membutuhkanmu, mungkin.”



Raut wajah Hyunra tak dapat dipungkiri, ia benar-benar sendu. Kyuhyun semakin tidak enak jika menolak. Ini aneh. Ini terlalu aneh. Mana bisa ia masuk kedalam kamar seorang gadis yang notabenenya adalah temannya sendiri, dan ia tidak sedang sehat mungkin. Kyuhyun meneliti sekali lagi wajah Hyunra didepannya, “…hingga saat ini, hanya Donghae yang dipersilahkan Hyera menemaninya dikamar. Hyera terlalu menyayangi Donghae sejak kecil. Ia menyerahkan apapun miliknya hanya untuk lelaki itu. Tenaga, air mata, tawa, harta, bahkan hatinya.”



Kyuhyun merasa beku, hingga ia diharuskan untuk mendengar terusannya, “…aku hanya kecewa. Ia tidak menemani Hyera.”



“A—aku melihatnya baru keluar tadi?” tanya Kyuhyun retoris, sedikit terbata. Kaget saja, bukankah matanya baik-baik saja? Jelas-jelas ia melihat Donghae dengan wajah bahagianya keluar dari rumah ini, yang bahkan suasananya saja sendu sekali.



“Tapi Hyera tidak menginginkannya..” jawab Hyunra, “…aku tidak mengerti. Bantu aku, Kyuhyun-ssi.”



“M—maksudnya?”



“Aku tidak sanggup melihatnya seperti itu. Tadi malam, ia tidak tidur. Menangis, dan aku tak dapat membujuknya untuk bercerita. Makan saja ia tidak ingin.” Suara Hyunra lemah, dan itu membuat Kyuhyun mantap akan keinginannya untuk masuk membantu keluarga kecil ini. Kyuhyun mengangguk sembari tersenyum, setelah Hyunra menepuk lengannya sebanyak dua kali. Mentransferkan semangat untuk adik semata wayangnya itu, “…mungkin kau bisa membuatnya mau makan, walau sedikit. Ia sedang sakit, dan akan terus sakit jika ia terus begitu.”



Kyuhyun berjalan masuk dengan langkah besarnya, namun tidak terkesan terburu-buru. Dalam langkahnya ia diam, namun tak ada sedikit pun niat berhenti menggumamkan keheranan. Bagaimana bisa Donghae ditolak oleh Hyera, yang jelas-jelas dimatanya mereka adalah sahabat paling dekat?



Selangkah demi selangkah ia pijaki. Semakin juga ia merasakan aura aneh dikamar ini. Menggeleng kencang, Hyera dan Donghae tak pernah serenggang ini. Hampir empat tahun ia bersama dua anak manusia itu dan mereka tak pernah bertengkar lebih dari berhari-hari. Mereka saling melengkapi. Dan tindak-tanduk Hyera yang menyatakan bahwa ia memang benar menyayangi Donghae sudah terasa sejak mereka baru masuk dan tergabung dalam satu kelas.



Kyuhyun duduk, menghempaskan pikirannya yang terus melanglang buana. Lagi-lagi ia mengeluh, kenapa harus peduli?



Hyera sedang berselimut memunggungi Kyuhyun yang kini duduk disebelah tempat tidur Hyera. Ia memberanikan diri untuk membacakan sesuatu, yang kini ada ditangannya, yang menjadi sebuah pertanyaan besar untuk Kyuhyun.



“Aku menari diatas pelangi… Mencari kehangatan dan lebih dekat dengan mentari. Sayapku lepas, hatiku patah. Eden tertawa, bunga-bunga tak peduli..”



Tiba-tiba saja Kyuhyun berhenti. Melihat Hyera kini terduduk dengan lemah, menyandarkan tubuhnya ke bantal-bantal yang tersusun untuk menyangga punggungnya, matanya menyiratkan bahwa ia terkejut. Kyuhyun dapat melihat wajah Hyera yang sungguh, lebih mirip seperti mayat hidup dibandingkan malaikat. Kyuhyun meraba pelan tangan Hyera yang kurus. Direngkuhnya jemari-jemari kecil itu, memberinya kekuatan untuk tetap mendengar.



“Mawar berduri terpilih. Aku—malaikat dicampakkan..”



Kyuhyun menatap Hyera sebentar, lalu kembali melayangkan pandangannya ke selembar kertas ditangannya.



“Sekotor itukah malaikat sepertiku, dengan sayap yang telah gelap, tanpa cahaya?”



Hyera meneteskan air matanya lagi, menambah bengkak matanya. Dan air mata itu mengalir sengaja ke tangannya yang sedang direngkuh hangat oleh seseorang yang bukan Lee Donghae namanya.



“Aku menunggunya bicara. Hingga sayapku patah pun, aku menunggunya bicara. Mawar merah yang kejam, mengambil hatiku yang kini semakin padam.”



Tangan Kyuhyun yang memegang kertas turun, lalu dengan sengaja ia menaruh kertas lusuh itu ditangan Hyera. Hyera mengerti, lalu mengambilnya perlahan. Kyuhyun menarik senyumnya untuk Hyera, yang wajahnya jauh sekali dari kata bahagia.



“Itu puisimu. Kau tinggalkan di taman kemarin. Untung aku menemukannya, dan sudah kusalin di majalah dinding kelas kita.” Tuturnya lebih pelan lagi. Kyuhyun tidak ingin mengganggu mood Hyera yang bisa terasa dari jauh, ia sedang tidak baik-baik saja.



“Go…mawo..” Suara Hyera berat, namun berhasil dikeluarkannya. Bibirnya kering, matanya sembap. Suara miliknya berubah serak, tidak seperti Hyera—kawan sekelasnya yang ia biasa lihat dengan senyuman dan sikap manisnya hanya untuk Donghae.



“Cheonma…” Kyuhyun tetap membiarkan sebelah tangannya terpaut dengan tangan ringkih Hyera yang lebih dingin suhunya, “…bagaimana keadaanmu? Baikan?”



Hyera menggeleng sesaat, “..bisa kau nilai dari wajahku, dan letak barang-barangku dikamar ini.”



“Aku baru pertama kali kesini. Jadi aku tak bisa menilai kamarmu yang well berantakan sekali. Seperti terkena bom atom, Hyera-ya…” katanya setelah menunjuk-nunjuk kearah selimut berwarna putih yang berada dibawah begitu saja, “…untuk wajahmu… kau memang masih sakit.” Kyuhyun melepaskan tangannya tersebut, lalu memindahkannya ke dahi Hyera yang ternyata masih hangat.



“Kau harus cepat-cepat sembuh, Hye…” Hyera tidak membalas, hanya terangkum dalam sebuah senyuman tipis dari sepasang bibirnya. Lalu Kyuhyun menambahkan, “…mungkin soulmate-mu itu sudah merindukanmu sangat. bukankah ia selalu bersamamu, kemanapun?”



Hyera merubah rautnya, seakan meralat pernyataan Kyuhyun, “..aku yang tidak bisa tidak bersamanya. Dia bisa tanpaku.”



“Kalian ada apa?”



Kyuhyun mendapati Hyera terdiam, lalu ia mencoba memecah lagi keheningan, “…kalian ada masalah? Aku tak pernah melihat kalian serenggang ini? Empat tahun kau menjadi sahabatnya, itu yang bisa kulihat.” Kritik Kyuhyun yang tidak ingin merutuk siapapun. Walau ada rasa ingin membela Hyera.



Lagi-lagi Hyera terdiam. Kyuhyun mengalihkan wajahnya dari Hyera menuju sekelilingnya. Dimana ia dapat melihat meja panjang, seperti meja belajar, dengan dua figura besar menggambarkan Hyera dan Donghae saat mereka masih kecil dan dewasa. Disebelahnya ada pula buket-buket bunga mawar yang men-coklat setara dengan umur mawar itu. Kyuhyun menarik alisnya kebawah, bingung. Hyera mengoleksi bunga mawar bekas?



“Untuk apa kau menyimpan bunga mawar layu? Mereka sudah busuk, Hye? Mau kubuang?”



“ANDWAE!” Kyuhyun tercekat. Ini suara Hyera yang menggelegar pertama kali, hari ini. Setidaknya Hyera masih memiliki semangat untuk bicara.



“Wae?” tanya Kyuhyun. Kyuhyun menatap Hyera dari dekat, matanya berlinang, wajahnya mengerut pucat, tangannya bergetar, dan ia kembali berwujudkan mayat hidup. Ia menunduk lemah. Kyuhyun memegang lagi sebelah tangan Hyera, memijatnya, takut-takut Hyera sakit lagi.



Tiba-tiba sebelah tangan Hyera ikut menggenggam tangan Kyuhyun. Kini satu tangannya terkunci oleh getaran yang dibuat Hyera. Ia menangis. Membenturkan dahinya ke kedua tangannya dan tangan Kyuhyun. Suara tangisnya semakin pecah, membuat Kyuhyun membelai lembut kepala Hyera. Dalam hatinya, ia merutuk siapapun yang membuat Hyera lemah tak berdaya seperti saat ini.



Ia akan membenci siapapun yang berani menyakiti malaikatnya.



“Aku…”



Suaranya getir.



“…Sangat mencintainya…”



Begitulah isi hatinya. Semuanya, tangisnya, tawanya, karena alasan singkat itu. Yang justru ia sembunyikan namun tak tahan dengan Kyuhyun yang begitu lembut mengelus kepalanya saat ia benar-benar sedang tak berdaya. Hyera sangat mencintainya.



Kyuhyun merengkuh tubuh mungil Hyera. Membiarkan sejuta pertanyaan di kepalanya terbang begitu saja. Ia menangis saja sudah dapat Kyuhyun mengerti. Hyera.. Patah hati..



**



Kyuhyun’s Side



Untuk alasan lain yang tak kumengerti, ku hitung dengan jari kekosongan kursi itu. Kursi Lee Hyera. Sejak saat itu, aku ingin sekali datang untuk merengkuhnya. Namun sulit untuk melangkahkan itu, sifat posesif ini masih menyelimut di tubuhku. Hyera mencintai seseorang, yang masih tanda tanya. Aku bisa saja menebaknya, siapa lagi kalau bukan Donghae. Tapi pernyataan itu belum ada, kan?



Ini sudah hari yang keempat aku kembali duduk dikursiku, tepat disebelah Sungmin, tidak lagi ditengah kursi Hyera dan Donghae. Berarti empat hari juga Hyera tidak masuk sekolah. Rasanya kosong, tidak ada yang bisa diajak bercerita tentang puisi romansa yang sudah bisa dinilai bahwa Lee Hyera-lah jagonya. Tulisan Hyera banyak membuat kesan positif, majalah dinding kami terasa hidup dengan feel yang sengaja ditulis oleh Hyera. Malaikat… Mawar… Sayap… Cinta…



Aku merindukan Hyera. Ia terlalu lemah untuk menjadi malaikat, jika aku memasukkan namanya kedalam puisinya. Itu pun jika aku tidak salah. Aku bukanlah seorang puitis seperti Hyera, hanya seorang yang membawa psp kemana pun, dan tidak sengaja menjabat sebagai ketua kelas. Seperti itulah aku saat ini. Kosong.



Tidak seperti seseorang yang sedang menahan senyum saat memegang ponselnya yang tak jauh dariku. Wajahnya berbinar karena terpantul cahaya matahari. Ia begitu bahagia, dan harusnya akulah yang seperti itu, dan dia yang merindukan Hyera. Donghae. Anak itu benar-benar tidak peduli.



Aku berjalan menuju meja terdepan. Hanya untuk ikut berkumpul bersama laki-laki yang lainnya, yang sedang memamerkan permainan barunya. Aku tidak fokus, hingga kakiku melangkah menuju Donghae. Ia terlihat welcome, dan tidak bertele-tele, aku mengambil kursi Hyera dan duduk diatasnya.



“Wae, Kyuhyun-ssi?” Bahkan panggilannya padaku saja berubah. Seakan kami baru saja masuk kedalam jurang dan ia amnesia terhadapku yang menjadi teman sekelasnya selama empat tahun terakhir.



“Bagaimana kabar Hyera? Ia kosong di absennya. Aku jadi khawatir.” Ucapku sambil memperlihatkan buku absen ke depan wajahnya. Donghae hanya mengangguk-angguk, entah ia mengerti atau bahkan tak peduli. Sahabat macam apa Lee Donghae ini?



“Oh. Aku sudah menjenguknya. Tapi Hyunra Noona bilang, Hyera baik-baik saja. Ya sudah kudoakan saja semoga ia cepat sembuh.” SUNGGUH! Aku ingin menyumpalkan sepatu pada mulutnya! Donghae berubah. Ia tidak seperti Hyera yang mengerti Donghae, mungkin hingga selamanya.



Oke. Aku tak berhak masuk kedalam masalah mereka berdua. Kuusahakan untuk tutup mulut, dan kembali memancingnya. Ia terlihat sedang membuka novelnya, dan mengeluarkan selembar kertas. Diperlihatkannya padaku kertas itu, sedikit aneh, namun aku mengerti.



Lee Donghae, mianhae jeongmal jika membuatmu marah. Aku tak tahu kesalahanku apa. Jadi maafkan aku. Persahabatan kita tetap jalan, ‘kan? Jika keadaanmu sudah berangsur baik, hatimu sudah tenang, segera telepon aku ya. Neomu-neomu bogoshipposeoyo~ jangan lupa^^



Lee Hyera



“Aku sudah menghubunginya hari minggu sore. Tapi ia tak kunjung mengangkatnya. Terakhir, aku tidak dapat mendengar suaranya. Aku sedang dijalan. Lalu dia sakit hingga sekarang. Begitulah…” Donghae memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya. Aku yang sedikit bingung, hanya bisa mengangguk. Itu bukan jawaban yang ingin ku dapatkan. Namun bisa kusiratkan, bahwa Hyera memang benar-benar tidak bisa jauh dari Donghae. Se-sebentar apapun itu.



Lalu aku membuka mulut, untuk mencari tahu.



“Sebenarnya kalian itu ada apa? Sungguh, kalian berbeda sekali.” Kataku mengkritik, mencari tema yang apik. Donghae—yang tadinya menyimpan kaki diatas kursi, diturunkannya dan ia menatap lurus. Aku siap mendengarnya.



“Jika diminta menceritakan tentang Hyera, kami baik-baik saja. Aku kenal dia sejak balita. Appa meninggal dan Omma membawa Donghwa hyung pergi ke Seoul. Di Mokpo, aku bertemu dengan Hyera. Sahabat baik sekaligus teman yang paling bisa mendengarku. Dia sebatang kara, namun tak seperti aku yang benar-benar sendiri. Dia punya kakak perempuan. Aku dan Hyera tinggal bersama Hyunra Noona. Dan kebetulan, Hyera dan aku mendapatkan beasiswa yang cukup membantu. Kami pindah ke Seoul, mengejar beasiswa langka itu.” Aku melihat Donghae tersenyum, seakan sedang berusaha mengembalikan ingatan masa lalunya bersama Hyera. Sungguh membuatku iri.



“Hingga umur 14, Donghwa hyung datang. Ia bilang bahwa Omma kecelakaan. Entah bagaimana ia bisa menemukanku dan akhirnya ia kembali ke Jepang. Setiap bulan ia mengirimkan uang. Dan Donghwa hyung membelikanku rumah kecil sedikit jauh dari rumah Hyera. Aku tinggal sendiri. Melakukan semuanya sendiri. Membuatku mandiri, meski terkadang aku banyak mengandalkan Hyera.” Aku memutar kursiku, agar bisa lebih nyaman duduk mendengar cerita ini. Tak bisa ku bayangkan betapa lugunya Hyera saat itu.



“Hyera memiliki mobil yang biasa ia bawa ke sekolah. Setiap hari menjemputku. Membangunkanku, bahkan pagi buta ia sudah ada dikamarku, membereskan seragamku. Saat masuk ke sekolah ini, Hyunra Noona memilih untuk bekerja sebagai pegawai kantor di Ilsan. Membuat Hyera benar-benar sendiri, hingga ia memilih untuk banyak memindahkan barang-barangnya kerumahku. Jangan heran jika kau datang kerumahku dan menemukan banyak benda berwarna pink.” Aku tertawa kecil, dan Donghae juga melakukan hal yang sama.



“Aku mencintai seseorang. Dan Hyera bilang juga begitu. Mungkin karena aku lelaki, kadang aku kehabisan saran jadi terpaksa Hyera yang sering mendengarkanku. Dan ya… persahabatan kami lucu, ‘kan Cho?” Kupamerkan barisan gigiku, yang dibalas dengan pukulan pelan dibahuku oleh genggaman tangannya. Hyera benar, ia memang dekat sekali dengan Donghae. Mana mungkin patah-hatinya itu karena Donghae.



Dia kan sahabatnya.



“You are a lucky one, have the best sweet yeoja like Hyera. Too much, too lucky. Membuatku iri, hyung.” Ucapku sedikit lebih formal. Menghormati Donghae yang memang lebih tua setahun dariku, yang magnae dikelas ini. Lalu aku menuju pada satu poin yang akan menjawab sejuta tanda tanya. Ini pasti akan menyenangkan. Aku bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya Donghae dan Hyera sedang sembunyikan, iya kan?



Yah. Walau aku maniak game, setidaknya IQ-ku untuk mengerjakan pelajaran karakter tidak buruk.



“So, kau jauh dari Hyera akhir-akhir ini. Waegeurayo?”



Aku menunggu jawabannya, Donghae terlihat sedang memainkan pulpennya diatas meja. Namun dua orang yang mungkin aku kenal wajahnya tapi tidak di nama mereka, masuk dengan langkah bebas seenaknya mengganggu kami. Tepatnya menggangguku yang sedang sibuk menunggu jawaban Donghae.



Mereka berdua anak kelas sebelah, anak nakal. Biasa-lah.



Mereka tidak melakukan apapun. Hanya berhadapan satu sama lain, tapi mengapa harus disebelahku dan Donghae?



“Well, ku lihat ketua kelas 4-A sedang merayu Lee Donghae, ya?” Ucap salah satu dari mereka. Tunggu, tunggu… Apa maksud mereka? Aku diam. Donghae diam.



“Oh ya? Tuhan, ternyata di dunia ini masih ada juga ya perayu yang tidak puas dunia? Ya ampun.” Sungguh, mereka membicarakan apa aku tidak tahu.



“Oh Cho Kyuhyun-ssi, kau ini ‘kan keren. Jangan dekati Donghae, kau bisa tertular!”



“APA MAKSUD KALIAN!” Donghae berdiri dengan tatapan marahnya. Menggebrak meja dengan sekuat tenaga. Aku yang sedari tadi diam jadi kalut, ingin mundur namun penasaran. Ada apa dengan Donghae?



“Lee Donghae. Kau masih tidak mau mengaku?” salah satu dari dua orang itu mencibir Donghae sambil mendorong dahi Donghae dengan telunjuknya. Aku ingin marah, namun apa hubungannya denganku? “Lee Hyera-mu itu dikemanakan, Donghae-ssi? Gadis lugu, cantik, manis, pintar itu hanya dijadikan pelampiasanmu saja, huh?”



Kini hampir teman-temanku mengintip dari luar kelas. Sedangkan yang dikelas menonton dengan bangganya, seperti sedang menonton film action secara live. Aku menggenggam tanganku sendiri, keringat bercucuran. Aku bukanlah seorang yang suka bullying, jadi jika aku marah, tidak seenaknya kulayangkan pukulanku pada mereka. Walau kali ini, rasanya ingin sekali. Mendengar nama Hyera disebut-sebut, aku yakin ini masalah yang besar.



“Kyuhyun-ssi.” Mendengar namaku dipanggil, aku menoleh ke seorang yang tidak sedang mencengkram kerah kemeja Donghae. Dia memberikanku I-Phone miliknya. Aku memegangnya, lantas ia menarik bibirnya ke sebelah arah. Ku perhatikan lamat-lamat isi gambar itu, “…kau kenal dia ‘kan?”



Donghae.



Aku melihat wajah Donghae sekilas, menatapnya penuh tanya bahkan amarah. Mataku terbelalak setelah melihat gambar-gambar itu ke yang kedua kalinya. Ini tidak mungkin. Ini-tidak-bisa-dipercaya.



Aku kembali melihat Donghae. Wajah marahnya berangsur surut, seperti sedang menyerahkan diri. Aku berdiri mengangkat ponsel itu, tak percaya. Butuh beberapa detik untuk mengumpulkan nyawaku, yang nyaris tidak percaya atas apa yang kulihat.



Kini aku bisa mengerti semuanya. Walau ini tidak dapat dicerna dengan utuh. Tidak mungkin teman sekelasku melakukan hal seperti ini, dan dia namja. Selama beberapa detik aku tidak bisa bernafas.



Arraseurayo! Semuanya jelas. Hyera, Donghae, aku mengerti.



“Well, teman kalian yang tampan ini ternyata sedikit terganggu. Jadi, jika kalian sudah mendapatkan informasi kotor tentang dia, jangan kaget ya!” Orang itu melempar Donghae ke belakang, hingga ia terjatuh. Matanya memintaku membantunya, namun seluruh tubuhku beku. Semua mata tertuju pada kami, yang sebentar lagi akan ditinggal oleh dua siswa pembawa masalah itu. Mereka—yang menonton bertanya-tanya tak mengerti, dan aku tak bisa mengatur nafasku lebih normal lagi karena Donghae yang membuat hal ini buruk.



Ponselnya sudah kembali ke tangannya. Mereka melangkah pergi, namun seorang lagi membalikkan tubuhnya, seakan ada tambahan. “Oh ya Donghae-ssi. Ku peringatkan. Jika kau ingin mencium seorang namja, jangan ditaman. Bawa saja ia ke kamar hotel, dan lakukan hal-hal pribadimu! Malu ‘kan ketahuan orang!”



Kini setengah dari yang menonton menganga, melotot terbelalak, seperti reaksiku pertama kali mengetahuinya. Setengah lagi mundur ketakutan. Aku masih membeku, menatap Donghae yang kini dicibir dari sudut mana pun ia diam. Tubuhnya jadi lemah, dia bukan Donghae yang ku kenal.



Aku mundur, mengambil ranselku. Meninggalkannya yang sedang menatapku menjauh. Aku tak peduli dengan pelajaran apa yang akan berlangsung, biarkan aku pergi hanya untuk hari ini.



Ini saatnya aku meluruskan segala pertanyaan di benakku. Aku ikut sakit, merasakan apa yang sebenarnya Hyera rasakan.



Mencintai seseorang, yang mencintai sesama jenisnya.



Donghae, mencium bibir seorang namja.



Sakit hati yang sangat mendalam.



Lebih sakit dibandingkan dicampakkan oleh seorang yang kau cintai sedang mencium bibir lawan jenisnya.

*

*

*

HAAAAI AKU SIAP DI-BASHING AFTER POSTED THIS >.< BAHAHAHA
TERIMA KASIH ATAS KEGILAANNYA UNTUK ORANG DI POLANDIA SANA YANG BIKIN FOTO HAE SEGITU PERVERT SAMA NAMJA (jelegherr)

INI FIKTIF! CAPSLOCK RUSAK! KOMEN KE TWITTER GUE DAN YA..... SELAMAT MARAH-MARAH

regards : double xo, ghaziana :P 

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!