White Rose [Chapter 2/?]
“So now I wanna know the things about you and her.”
“Aku tidak bisa..”
**
Lee Hyera masih diam seribu
bahasa. Ia menjadi rapuh untuk tetap duduk disebelah Donghae. Seminggu yang
lalu, Donghae begitu menjaga jarak darinya. Dan Cho Kyuhyun, yang mengetahui
bahwa kedua soulmate ini tak pernah terpisahkan, hanya bisa menukar
tempat duduknya dengan Hyera sehingga ia diapit oleh dua orang yang sedang
menahan egonya masing-masing.
Ada saatnya Kyuhyun mengajak
Hyera pergi ke kantin atau ke perpustakaan untuk sekedar mendinginkan suasana,
ada pula saat Kyuhyun mengajak Donghae bermain basket. Hanya keduanya terlalu
kompak untuk menolak ajakan Kyuhyun.
Hyera sudah sampai lebih dulu
dibanding Donghae hari ini. Ia mengendarai mobilnya, dan sudah duduk siap di
kursi barunya—tempat Kyuhyun biasa duduk, disebelah partner belajar si ketua
kelas—Kyuhyun selama empat tahun terakhir, Sungmin. Kelasnya masih sepi,
mengingat waktu masih terlalu pagi. Kyuhyun belum kunjung datang, sedangkan ia
tengah menunggu datangnya sang pangeran dingin, Lee Donghae.
Sesekali, ia membuka selembar
kertas yang sudah dilipatnya dengan rapi, untuk segera diberikannya pada
Donghae. Hyera hanya tidak tahan dengan suasana ini. Suasana yang serupa
seperti ancaman untuk persahabatannya sejak kecil dan pertengkaran yang
menimbulkan putusnya persahabatan itu sendiri. Hyera hanya tak ingin ia jauh
dari Donghae.
Ia tahu Donghae mencintai orang
lain pun sudah membuatnya mati.
Apalagi jika jauh dari Lee
Donghae, yang sudah membuatnya ketergantungan?
Tap. Tap. Bunyi
sepatu sneakers yang khas itu terdengar jelas oleh dua telinga Hyera. Ia segera
menaruh kertas itu ditengah-tengah sebuah novel yang ada dibawah laci milik
meja Donghae. Lalu pada waktu yang tepat, ia duduk kembali dan mencoba
mengalihkan pandangan dari Donghae.
Ia memilih untuk tidak menguntit
apa yang sedang Donghae lakukan. Namun Kyuhyun sudah berada dibelakangnya, dan
memijat pelan bahu milik Hyera.
“Kau lelah.” Ucap Kyuhyun tanpa
meminta jawaban. Hyera hanya tersenyum kecil saat memutar kepalanya dan
menemukan Kyuhyun. Ia seperti sedang berada dalam suasana saat masih kecil,
dulu hanya Donghae yang mau menemaninya kemana pun. Sekarang ia yang
menginginkan Donghae ditemani olehnya.
Sedikit menggelikan, namun Hyera
menikmatinya. Walau secara tidak langsung, pandangannya sempat menabrak mata
Donghae. Donghae sedang memegang ponselnya, dan ia mendekatkannya pada telinga
kanannya. Hyera berusaha mengabaikan hal itu, melihat novel dibawah mejanya
masih utuh tak tersentuh.
“Bagaimana bisa kau tahu aku
lelah, Kyu?” tutur Hyera mengalihkan. Kyuhyun hanya tertawa sambil berbisik.
“Well, kau harus kembali
menulis majalah dinding setelah merasa enak dipijat olehku.”
“Yah, bayar…” ucap Hyera dengan
nada tanpa arti. Kyuhyun yang terus memijatnya, malah melihat Donghae yang kini
sibuk dengan ponselnya. Hyera yang begitu penasaran, akhirnya membiarkan kedua
telinganya untuk menguping, walau matanya tetap tertutup berusaha menikmati
pijatan Kyuhyun yang semakin lama semakin merenggang.
‘Yeobseyeo?....JINJJA?....Oh, ne…. Besok, ditempat
biasa….BENARKAH?....akan ku siapkan….Yeay dear, I hope you’ll come…Ne, nado
saranghae…”
Setelah itu, Hyera malah merutuki
dirinya sendiri mengapa ia membiarkan kedua telinganya terbuka lebar untuk
bibir Donghae yang menyebutkan kata cinta pada orang lain. Ia bisa merasakan
bahwa Donghae dengan segera memasukkan segala macam barangnya kedalam tas,
termasuk novelnya. Ia pergi keluar kelas, dan Hyera bukanlah seseorang yang
menemaninya menemui gadisnya lagi.
Hyera beku ditempatnya. Ia
bingung harus melakukan apa. Apakah harus mengikuti egonya untuk mencari tahu
siapa gadis yang disembunyikan Donghae, atau diam saja membiarkan Donghae
pergi? Hyera tidak seperti Hyera yang seorang pendengar Lee Donghae, ia
lebih seperti pengagum rahasia dan tidak tahu siapa Lee Donghae sebenarnya.
“Hye?” Suara sayup-sayup itu
berulang-ulang terdengar. Hyera kembali menemukan nyawanya, dan ia sadar tengah
melamun membiarkan Kyuhyun memanggilnya, “..wae?”
“Apa?”
“Mengapa kau tidak mengejar
Donghae?” Sesaat Kyuhyun menangkap gestur aneh dari Hyera. Entah ia
salah atau tidak, namun Hyera terlihat tidak sesantai tadi. Hyera menanggapi
ucapan Kyuhyun dengan serius.
“Donghae tidak akan menyukai aku
jika ia melihatku sedang menguntitnya. Jadi biarkan saja dia bersama
kekasihnya.” Kyuhyun mendengar suara Hyera yang keruh,
ia kelu. Kyuhyun ragu untuk menduga-duga, ia menunggu dengan resah. Bisa
dilihat dari sudut mata Hyera, ia sedang menahan air matanya. Ia terlihat rapuh
karena kembali kehilangan Donghae-nya. Kyuhyun—pelan-pelan ia mengelus punggung
Hyera. Ia tahu Hyera dan Donghae, bagaimana bisa seseorang yang tanggung
jawabnya paling tinggi di kelas ini tidak mengetahui apapun tentang mereka
berdua. Donghae yang selalu ada jika Hyera ada, dan Hyera yang tak pernah
berubah untuk menjadi seseorang yang Donghae butuhkan. Seluruh penjuru sekolah
mungkin sudah tahu itu.
“Hari minggu, antar aku ke toko buku. Bagaimana?” ajak
Kyuhyun dengan senyum memohon-nya.
Hyera, tentu kaget dengan ajakan Kyuhyun yang tiba-tiba. Hyera mengalihkan
pandangannya ke kursi kosong yang biasa diduduki Donghae, lalu memantapkan
kata-katanya.
“Aku tidak bisa, mianhae…”
“Bagaimana kalau mengantar aku ke mall saja? Noona-ku nanti
ulang tahun.”
“Tidak Kyuhyun…”
“Membuat puisi bersama saja!”
“Aku tidak punya inspirasi.”
Kyuhyun tersenyum kecil, “Inspirasi tidak perlu dicari,
Hye…” katanya. Hyera kembali menatap wajah Kyuhyun yang begitu serius akan
ucapannya. Namun Hyera kembali kalah terhadap egonya yang benar-benar ingin
mengetahui apa yang disembunyi sahabat kecilnya, hingga ia berubah menjadi
dingin didepannya.
“Kau tidak akan menguntit Donghae, ‘kan?” Kyuhyun tiba-tiba
bertanya. Nada suaranya melayang rendah. Matanya menjadi layu, menyiratkan
sesuatu yang ingin ia ketahui dari Hyera. Hyera ingin mengangguk, karena ia memang berencana menguntit Donghae. Tapi
ia tahu, gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakan itu meski didepan Kyuhyun,
seseorang yang sudah empat tahun menjadi classmate-nya.
“Tidak. Untuk apa aku menguntit sahabatku.” Kata Hyera
lemah, lalu berubah menjadi senyuman, “…aku akan ikut denganmu.”
Mata Kyuhyun berubah berbinar. Ia menepuk-nepukan dua
tangannya di pipi Hyera, menyimpulkan bahwa Kyuhyun senang sekali mendengarnya.
“Gomawo..” Kyuhyun beranjak dari kursinya, “..aku harus
memanggil songsaengnim. Annyeong.” Dan Hyera membalasnya dengan anggukan.
Kyuhyun sadar, ia selalu berubah dihadapan Hyera. Dan mata
Hyera tidak menyiratkan bahwa ia menyayangi Donghae, melainkan lebih dari itu.
Maka hal itulah yang membuat Kyuhyun ragu terhadap hatinya
sendiri. Ia benci dengan kenyataan itu.
**
Hyera’s Side
“Jadi bagaimana jika kita ganti jadi warna oranye? Atau
warna dasarnya hijau saja?” Ia tetap berceloteh tanpa henti. Ku pikir ia akan berhenti
setelah melihatku kelelahan sore ini. Sungguh mengagetkan, empat tahun aku
mengenalnya, ternyata sosok Cho Kyuhyun yang tampan dari luar dan bisa dinilai
dari garis wajahnya yang seperti kotak X-Box, shopaholic juga jika sudah masuk mall. Kami duduk berhadapan dengan
sebuah meja melingkar dan payung besar diatas kami, di dekat taman. Ia sedang
merancang majalah dinding baru untuk ditempel didepan kelas, membantu panitia
ketua kedisiplinan yang memintanya untuk membuat pekerjaan yang sungguh membosankan
ini. Ku jatuhkan kepalaku ke meja, berusaha untuk menidurkan dan menenangkan
pikiranku yang masih abstrak dan tercampur rasa pusing yang berkedut.
Dia—mungkin tak tahu alasanku memilih tempat duduk yang tak
jauh dari kios-kios kecil dan berdekatan dengan taman. Aku hanya ingin
memastikan sesuatu yang menjadi rahasia dan aku tak pernah tahu apa itu.
“Hye-?”
Aku terbangun canggung, merasa membiarkan Kyuhyun berbicara
sendiri tanpa direspon, “Oh. Sorry, Kyu…
Aku…”
“Gwaenchana?” Kyuhyun menaruh sebentar spidol merahnya
diatas meja, membiarkan kertas warna-warninya itu dianggurkan. Ku tutup mataku
saat tangannya membelai lembut dahiku. Tangannya mirip sekali seperti…
Donghae…. Entah, bagaimana kabar lelaki itu. Sungguh aku merindukannya lebih
dari merindukan Jung songsaengnim yang tampan dan baiknya luar biasa, bahkan
dari tubuhku sendiri karena ia bisa saja tidak membuatku bernafas selama
beberapa hari.
“Kau panas, Hye.” Ucapnya, mengembalikan nyawaku yang sempat
melanglang buana. Aku menoleh kearahnya, sambil menutup bolpoin yang ku pegang
hingga basah karena keringatku.
“Ani, aku tidak apa-apa, Kyu..” timpalku beralibi. Memang
rasanya aneh, tubuhku lelah. Namun jika aku terlalu jujur, akan membuatnya
malah kelabakan. Aku menemaninya sejak siang hari hingga sore untuk mencari
kado yang cocok untuk Ahra Onnie juga menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan
untuk bahan majalah kami. Aku tak mungkin mengacaukan semuanya.
Pada akhirnya, aku hanya dapat berkutat kembali dengan
kertasku yang masih kosong. Sedangkan Kyuhyun menggulung kembali kertas besar
polos didepannya.
“Biar ku selesaikan sendiri nanti..” katanya, membuatku
menatapnya bingung, “….sekarang aku ingin melihat ratu atas flashfiction ini menulis puisi.” Aku
meletakkan bolpoinku mendadak kehilangan nafsu yang sudah ku tata untuk menulis
di taman ini. Diam-diam aku tersenyum dan mendesah. Sesekali menatap taman yang
masih kosong dan tidak ada tanda-tanda penghuni. Sebelah tanganku memutar
ponsel yang diam tak bergeming didalam saku coatku.
Aku ingin mengeluh, karena inspirasiku buyar dan berantakan.
Mungkin Kyuhyun bisa membaca sirat mataku yang kebingungan.
Hingga ia memaksaku untuk kembali memegang bolpoin.
“Karyamu yang kemarin saja banyak dipuji. Oh Lee Hyera,
inspirasi tidak perlu dicari. Semuanya ada pada kenangan bahkan mimpi yang
sedang kau atur sendiri.” Kyuhyun tersenyum, sedang berusaha menyemangatiku.
Dan aku tahu itu, “…akan kutinggal kau sejenak. Aku akan pergi ke kios makanan.
Cari cemilan.” Senyum pamit Kyuhyun pergi bersama langkah kaki besarnya yang
meninggalkanku sendiri.
Kini aku bisa melihat dengan jelas, tak ada seorang pun yang
datang mengunjungi taman yang sering dijadikan tempat aku berceloteh ria
bersama sahabatku, Lee Donghae. Sejak kecil kami sudah berdua, sejak kecil aku
sudah mencintainya. Rasa cinta itu tumbuh bersama usiaku yang semakin dewasa,
hanya saja Donghae tetaplah Donghae. Ia menyembunyikan segalanya dariku.
Bahkan tentang hal ini, tentang sesuatu yang sama sekali tak
pernah bisa ku tebak. Oke, mungkin gadis bodoh itu lebih cantik dariku. Aku
tetap tak bisa melepaskannya walau gadis itu nilai plus dalam dirinya lebih
tinggi. Aku yang lebih dulu mengenalnya.
Aku mengangkat ponselku. Menekan pelan tombolnya hingga
muncullah sosok diriku dan Donghae saat kami masih duduk di bangku kelas 3,
saat aku memenangkan lomba menulis puisi cinta. Puisi cinta dengan beberapa
bait yang tidak istimewa, hanya mencerminkan watak sesosok seorang yang dingin—berjudul Donghae—tanpa menuliskan
namanya di kertas lomba saat itu.
Seirama dengan itu, aku masih menunggu kabarnya. Entah
bagaimana bisa, melihat wajahnya di ponselku membuat tangan kananku dengan
cepat menuliskan apa yang sedang ku pikirkan. Lancar dan tenang sekali, seperti
sedang berenang.
Aku tersenyum pada hasil goresanku kali ini. Lumayan juga
hasilnya. Kutolehkan lagi kepalaku ke taman.
Tunggu… Itu Donghae! Ya! DIA DONGHAE! Bersama seseorang
yang… well… cukup terlihat tomboy
jika dilihat dari jauh.
Perlahan namun pasti, aku berjalan mengikutinya. Searah
dengan kemana kakinya membawa ia melangkah. Ku dapati ia sedang menggenggam
erat tangan gadis tomboy itu. Gadis yang sungguh jauh dariku, style-nya tidak
pas dengan gadis yang biasa Donghae emburkan didepanku. Gadis dengan sepatu
besar ala lelaki hiphop, celana hitam selutut, juga jaket berwarna putih dengan
topi-jaketnya yang menutupi bagian belakang kepalanya. Membuatku tidak bisa
melihatnya secara jelas. Omo… aku penasaran!
Ku langkahkan kakiku menuju pohon pinus yang agak besar,
sembari berdoa semoga ia tidak melihatku disini. Setidaknya aku bisa mendapati
suaranya dan suara gadisnya walaupun terdengar samar-samar karena aku masih
menjaga jarak dari keberadaannya.
‘Oh jagi… ini menyenangkan sekali….’
Donghae yang memulai pembicaraan pertama saat mereka selesai tertawa lepas di
taman. Aku bisa melihat Donghae, namun sulit untuk melihat gadis di depannya.
‘Donghae-ya, sungguh tak ku sangka
kita bisa berkencan pagi ini. Walau sempat tertunda beberapa kali..’
Gadis itu menjawab dengan suara seraknya. Aku bergeser lagi ke pohon
selanjutnya, memastikan apa yang sedang Donghae lakukan karena ia tengah
mendekat kearah gadis itu.
‘Apapun yang terjadi, aku tetap
mencintaimu…’ Tiba-tiba kedua tangannya merengkuh
pinggang gadis itu hingga membuatnya maju selangkah. Gadis itu tak melakukan
apa-apa selain mengangkat kedua tangannya menuju pinggang Donghae yang tertutup
oleh jaket Donghae. Aku berusaha untuk tidak melakukan aksi apapun supaya
mereka tidak mengetahui keberadaanku. Jika iya, ini-sangat-tidak-lucu.
Kepalanya dimiringkan dan masuk ke sela-sela lubang topi
jaket si gadis. Ia menidurkan kepalanya di bahu gadis itu, dan pelukan mereka
terlihat sangat erat sekali. Dapat ku lihat kini mereka tidak berdiri dengan
stabil, karena gadis itu terus tertawa-tawa kecil.
‘Donghae… jangan, jebal andwaeyo…
haha, jangan Hae, jangan…’ Tanganku melemah untuk terus
memegang ponselku. Sebelah tanganku yang lain masih mencakar batang pohon pinus
yang sedang menutupi tubuhku. Donghae tidak sekasar itu, Donghae-ku tidak
pernah seperti itu.
Tiba-tiba kepala Donghae kembali ke tempatnya semula. Mereka
berdua berdiri berhadapan dan jaraknya terlalu dekat untuk tempat sepublik ini.
Mereka salah mencari tempat untuk berkencan, apalagi harus dilihat oleh kedua
mataku. Ini tidak adil, ini masalah, otakku benar-benar berantakan dibuatnya.
Satu tangan Donghae menarik pelan topi itu ke belakang,
membuatku dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas. Tunggu… ini…
Tidak.
Ia tidak mungkin begini, aku tak mengerti, tapi ini jelas
sekali.
Aku ingin mengabaikan ini, namun sulit untuk berhenti.
Ketakutanku merajam dari segala arah. Tak pernah sedikitpun
terbesit tentang hal ini.
Aku mencintainya.
Ku mohon ini bukanlah Lee Donghae sahabatku.
Tuhan ku mohon jangan buat ini menjadi nyata.
Di leher jenjang seseorang dihadapan Donghae itu, terdapat
garis berwarna merah seperti gigitan yang baru. Ku pastikan itu sebabnya
Donghae menidurkan kepalanya disana.
Rambutnya, lekuk wajahnya, tubuhnya, pakaiannya…
‘Saranghae…’
Donghae memajukan kepalanya hingga bibir milik mereka benar-benar terpaut tanpa
jarak. Sungguh, dari kejauhan aku memperhatikannya. Ia milik mataku seutuhnya.
Bibirnya belum terlepas, dan aku ingin jatuh sekarang.
Mereka tertawa-tawa setelah menyelesaikan hal pribadi
mereka, membuatku meneteskan bulir air mata dan mencoba melangkah mundur untuk
menjauh. Tangannya seperti sedang berpamitan, dan suara mereka tak terdengar
jelas olehku. Donghae berjalan enggan menjauhi partnernya, dan aku masih terhenyak melihat dialog itu terdengar
olehku, adegan itu terlintas dan terekam jelas oleh mataku. Harapan itu hancur,
semua keinginanku hancur. Aku tak bisa menjadi mawarnya.
Tidak bisa.
Dan setelah ia melepaskan genggaman partnernya, ia kembali berlari mendekatinya untuk mengecup lagi
bibirnya. Lalu mereka pergi saling berjauhan, setelah saling melambaikan
tangan.
Aku berlari mencari arah atas hatiku. Sempat ada harapan
yang tersirat dan kokoh berdiri untuk bisa memahaminya, menyingkirkan segala
sesuatu yang minus dan tidak
tentangnya. Segalanya, aku ingin tahu. Kemana ia melangkah, aku ingin tahu.
Bersama siapa ia pergi, aku ingin tahu.
Aku seperti gadis bodoh yang tidak memiliki kompas, karena
hanya dapat mengikuti jejak Donghae. Aku menyesali. Namun cinta itu masih ada.
Sedangkan kini, aku lelah untuk terus ada didepannya. Melihatnya melakukan
adegan tadi, aku sudah ditolak mentah-mentah. Kami berbeda jalan, berbeda arah,
bahkan dunia.
Cinta itu tak tahu arah.
Aku berlari menuju tempat sebelumnya. Menangisi segalanya.
Melampiaskan samar-samar sakit yang masih menjadi luka dalam hati. Satu hal
yang bisa membuatku diam, ponselku berbunyi. Kutemukan namanya dilayar, aku
lemah, aku tak dapat bertahan.
‘yobseyeo Lee Hyera…’
Aku diam. Mendengar suaranya. Ia bahagia, dan kami
benar-benar sedang berbeda.
‘Hallo Lee Hyera, bisa jawab aku?’
‘Hae…’
‘Suaramu kecil sekali, Hye.’
‘Sarang…hae…’
‘apa? bisa kau keraskan suaramu?’
‘sa…rang…hae…’
Aku bisa merasakan tubuhku terhempas dengan keras ke
bebatuan dan tanah yang kini menempel dengan punggungku. Ponselku masih
terdengar—suaranya. Namun kepalaku tak dapat membendungnya, segalanya tentang
dirinya, kapasitasku terlalu berlebih.
Lama-lama, suara sedikit orang mengerubungiku. Semua menjadi
gelap. Semua menjadi tak terlihat. Terakhir yang dapat ku dengar, suara khas
dari sosok yang tidak kuinginkan. Tangannya mengangkatku, dan ia memanggil
namaku.
Kyuhyun.
Lalu aku benar-benar tak sadarkan diri. Meratapi. Membiarkan
nafasku yang kehilangan tujuan.
Before I know it, everything of you
I’ve grown fond of everything of you
Silently, more silently, I’ll some closer to you
I like all that you are, like everything
Even though the words ‘I love You’ aren’t said
Please, just stay with me, promise me
Forever
(Fallin in Love With a Friend – Beige ft Super Junior’s
Ryeowook)
*
*
*
what the?! ini apaan sih-_- #mulaigapededeh iya ini kan tulisannya makin lama makin 'sok' puitis tau sendiri guenya kan jeletak-jeletuk-pecicilan haha
kabar si hyera makin hari makin sakit ati aja.... donghae sama siapa sih?! sama siapa!!!! *kokemosi
bytheway gimana-gimana? aneh kan? yang baca ya.... kalau bisa komentar di twitter aja ya kan disini ga bisa komentar gitu ya (?) @ghana704 siap nunggu komentar-kritik-bashing apapun kok :) makasih khusus buat temen-temen promosi di xpm1 sama kapten calvinklein yang lagi nunggu hasil. semua ini berkat kalian (kayamauperpisahan-__-) okeey tunggu chap3nya~