White Rose [Chapter 1/?]
Seandainya pun kau tiba-tiba tak
ada, mawar yg kau selipkan di relung hati, akan bermekaran sepanjang
waktuku—Lee Hyera
**
Waktu sudah
menunjukkan tepat pada pukul delapan malam, begitulah ucap dua jarum jam yang
tengah berbunyi kencang menggantung di salah satu sisi ruangan ini. Bergidik
ngeri setelah merasa bahwa ini sudah terlalu malam untuk dilalui. Aku hanya
harus menunggu lebih lama lagi. Atau entah sampai kapan, mungkin sampai aku tak
kuasa menahan dingin uap sungai Han yang tertarik awan hitam dan masuk
seenaknya dari lubang jendela.
Aku sedang
melihatnya, terlelap dalam damai tidurnya. Wajahnya begitu letih, hingga tak
sadar sebelah tanganku mendekati alisnya untuk memijatnya perlahan. Ku lihat ia
tersenyum tenang, dan mulai beralih ke posisi menyamping, tepat didepan mataku.
Ku dekati lagi dirinya, untuk kembali melihat tubuhnya naik turun sesuai dengan
ritme nafasnya.
Rambutnya turun
bebas menutupi sebagian keningnya. Wajahnya natural, dan ialah sosok yang
tertampan yang pernah ku lihat dalam hidupku.
Kusentuhkan ujung
ibu jariku di garis alis mata kirinya. Ia menggeliat pelan, dan kembali ke
sifat sleepyheadnya yang memang
sedang ku rasakan pada dirinya malam ini. Ia tak akan dapat bangun dengan
segera jika sedang terlelap seperti ini. Rasanya ingin sekali ikut tidur, masuk
kedalam mimpi indahnya berdua. Sayang, apakah hidupku dan sosok nyataku terlalu
jauh darinya, hingga ia tak dapat melihatku ada disini? Disisinya dan
menjaganya yang sedang demam?
Getaran adiktif
panas menjalar ke punggung tanganku. Dahinya masih hangat karena demam. Ku
tarik selimut tebal yang ada diatas lututnya menuju dadanya, menutupi tubuhnya
yang mungkin kedinginan. Ku alihkan tubuhku menuju jendela dan tirai kamarnya,
agar angin dingin tidak membuat kami membeku.
Ku putar lagi
tubuhku, menatap punggungnya yang membelakangiku. Sambil berdiri, ku pandangi
sebuah manekin tanpa kepala dengan pakaian yang akan selalu menjadi setelan
terindah jika sudah menyangkut ditubuhnya. Tuxedo berwarna hitam, dan kaos
v-neck yang tertutup jas, yang barusan ia pakai sebelum ku ganti. Dengan
sebuket bunga mawar putih yang layu, yang terdapat pada meja kecil di sebelah
manekin tersebut, yang ia bawa sebelum ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Malam ini ia tak
menemukannya lagi, menemukan gadisnya. Gadis bodoh yang selalu ku benci dan
membuatku iri setengah mati yang bisa-bisanya mengambil perhatian lelaki yang
ku cintai lebih-lebih dari aku mencintai tubuhku sendiri. Gadis bodoh yang tak
kunjung datang jika membuat perjanjian. Tapi mengapa lelaki ini begitu ingin
sekali mengejarnya?
Apa ia tak
melihatku?
Mengapa ia tak
menyadari bahwa aku mencintainya sejak kecil?
Dan mengapa ia tak
pernah memberitahuku siapa gadis yang ia kejar hingga ujung dunia itu?
**
“Hye…”
Suara itu sedikit
membuatku menggeliat. Ditambah kepalaku yang berat, dan sinar matahari yang
sudah menggantikan penerangan ruangan ini. Sesekali ku kerjapkan mataku, ia
berlutut dihadapanku. Menyodorkan sebuah cangkir berisikan cairan coklat kental
setelah ia menutupi bahuku dengan selimut berwarna biru yang ku tarik ke
dadanya semalam.
“Gomawo…” ucapku
tanpa inosen yang jelas, karena kepalaku jelas berat sekali. Sedangkan di lain
sisi, aku ingin tersenyum mendapatkan perhatian yang belum tentu gadis bodoh
itu dapatkan darinya.
“Apa kau yang
membawaku ke kamar kemarin?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan, dan itu sudah biasa ku lakukan jika ia tertidur di
mobilku, “…mengapa tidak berusaha membangunkanku, Hye? Aku lebih berat darimu.
Dan mengapa kau tidak menarik kasur saja dari kamar sebelah? Mengapa kau
memilih tidur di sofa? Kau tahu, tadi malam pipimu pucat dan buku-buku jarimu
membiru karena beku.”
Inilah yang ku suka
darinya, walau ia tak menganggapku ada, perhatiannya selalu tertuju padaku.
“Ani, kau demam
kemarin.”
“Menjagaku malah
membuatmu demam juga ‘kan akhirnya?” katanya renyah. Aku hanya dapat tertawa
lemah, aku selalu kalah telak untuk melawan. Dia menghempaskan tubuhnya
disebelahku, duduk di sofa yang sama.
Aku menghela
nafasku, mengumpulkan banyak tenaga untuk menanyakan alasannya kembali dan
apakah kebiasaan si gadis bodoh yang
selalu tidak datang itu kembali melakukannya?
“Oh ya, bunganya
untukmu saja, Hye…” kata Donghae setelah menunjukkan buket bunga mawar putih
padaku. Aku hanya bisa tersenyum ketir, karena buket bunga mawar putih bekas selalu jatuh padaku. Ada
kebanggaan, mawar itu diberikan Donghae untukku, bukan untuk si gadis bodoh. Rasanya aneh, menggelikan, aku yang
mencintainya didepan mata saja tidak pernah menerima bunga secara langsung.
Aku hanya
membalasnya dengan anggukan, namun pertanyaan-pertanyaan itu terlalu
mempengaruhi.
“Hae..”
“Ne?”
“So, what’s about your night? Did you?”
tanyaku dengan nada pelan. Dan itu kembali membuatnya tersenyum, tanpa arti,
dengan guratan juga garis tanpa gairah yang tercipta di mimik wajahnya. Bisa ku
tebak, hal itu memang kembali terjadi.
Gadisnya tak datang
lagi. Dan ia benar-benar beku di
taman kemarin. Membuatnya ketiduran dan mengharuskan aku mengangkat ia ke
kamarnya, seperti biasanya.
“I didn’t.” Katanya, dengan senyum
paksaan. Ia meninggalkanku lalu duduk di tempat tidurnya, menatap jendela
kamarnya yang ada disebelahku. Dapat ku temukan garis wajahnya yang terpuruk
karena semalam. Ia tidak menemukan gadis itu.
“Ayolah Hae… Kau
selalu seperti ini. Membuat janji dengannya, dan ia tak pernah datang
menemuimu. Kau masih mengejarnya, sedangkan aku yang selalu mengantarmu saja
tidak tahu seperti apa gadis itu. Dia cantik atau tidak, dia manis atau
berperilaku buruk, aku tak peduli. Aku yakin dia yang terbaik untukmu. Tapi,
sampai kapan kau akan begini terus?” tanyaku dengan nada sedikit lebih tinggi.
Aku menyibakkan selimut yang ia pakaikan padaku. Mendekatinya tanpa ia minta,
mencoba mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri lewat sudut matanya yang
berkilauan.
“Aku mencintainya,
Hye..” ia menjawab lemah, namun itu bukanlah jawaban yang aku inginkan. Aku
tahu hal itu lebih dari ia berucap padaku.
“Sampai kapan kau
membunuh dirimu sendiri, menunggu ditengah taman dengan salju yang masih menyelimuti,
ditambah angin dingin yang menusuk tubuhmu setiap bulannya? Kau tahu, aku yang
khawatir akan kesehatanmu, Hae...”
“Kau tak tahu bahwa
aku mencintainya, Hye.. Aku akan menyerahkan jiwa ragaku hanya untuk dia, hanya
untuk mencintainya.. Hye, kau harus tahu itu!” Timpalnya dengan nada yang lebih
tinggi dariku. Sungguh, aku benar-benar tak dapat meruntuhkan dinding hatinya
yang egois itu. Ia memilih untuk mati dibanding tidak melihat kekasihnya.
Sedangkan aku seperti malaikat yang kemana-mana ada disampingnya, tanpa ia tahu
arti dalam lubuk hatiku sebenarnya.
“….Kau juga akan
melakukan hal yang sama jika kau mencintai seseorang, bukan?” Entah, kini aku
begitu kalah atas kata-katanya. Ia seperti sedang menyudutkanku. Ya, aku melakukan hal yang sama padamu.
“Iya, ‘kan Hye?”
tanyanya sedikit memaksa. Sedangkan aku hanya bisa diam, menatap lantai yang ku
pijak, seakan lantai itu adalah lantai paling indah di dunia.
“So now I wanna know the things about you and her.”
“Aku tidak bisa..”
“Sampai kapan aku harus menunggu?”
“Nanti akan ada saatnya, Hye…”
“Aku sahabatmu, ‘kan Hae?”
Dan akhirnya, aku hanya bisa melihat punggungnya menjauh
tertelan dinding, ia meninggalkanku dikamarnya. Hal ini yang mengharuskanku
untuk menelan saja apa yang ingin ku ketahui darinya selama ini. Melupakan
permintaanku. Melupakan semuanya. Dan kembali menjadi sosok pendengar bagi
sahabat yang ku cintai, Donghae.
**
Other’s Side
“Hae… aku mohon
jawab aku kau kenapa? Pusing? Demam lagi? Atau lemas? Perlu ku antar pulang
atau bagaimana?” tutur Hyera tanpa menghela nafas. Ia begitu khawatir terhadap
sikap Donghae yang semakin aneh sejak dua hari setelah malam itu. Hyera kembali
menggoyangkan bahu Donghae pelan, namun lelaki itu menepisnya tanpa ragu. Ia
tetap memandang pemandangan luar dari lantai empat yang sudah pasti membosankan
karena statusnya yang sudah mendekam di sekolah ini bersama Hyera selama empat
tahun.
Sedangkan
Hyera—yang hidup matinya hanya untuk Donghae ini, memendam ribuan tanya akan sahabatnya
yang tak kunjung surut dari rasa sakit dalam hatinya. Hyera tahu Donghae gagal lagi untuk kencan bersama kekasih—yang
tak tahu siapa namanya itu. Tetapi sejak pagi itu berlangsung, sikap Donghae
yang dingin tak kunjung surut. Rasanya ingin mati saja jika Donghae benar-benar
tidak dapat berubah dengan segera. Hyera sudah melakukan banyak cara dan
semuanya bisa dibilang sia-sia.
“Nanti ku antar
pulang, ya?” ajak Hyera memohon. Ne, forever
driver is a driver. Hyera menyerahkan dirinya pada Donghae, bahkan untuk
menjadi sopir disetiap Donghae ingin pergi. Hyera hanya tahu bahwa sahabatnya
ini trauma akan kecelakaan yang menimpa dirinya saat sekolah menengah pertama.
Dan seperti
sebelum-sebelumnya, Donghae tidak merespon. Seakan-akan ada penyumpal didalam
telinganya, sehingga ia tak dapat mendengar sepatah kata pun dari sahabat
kecilnya itu. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu namun tak
kunjung menemukan jawabannya. Hyera mengerutkan dahinya, mungkin Donghae masih
terpuruk.
Tapi bulan-bulan
sebelumnya, Donghae tak tampak seperti ini. Ia akan tersenyum dan percaya bahwa
gadisnya akan datang, dengan segera.
“Kenapa lagi
Donghae-mu, Hye?” Sosok ketua kelas dengan wajah ketusnya itu akhirnya menarik
kursi dan duduk disebelah Hyera yang tengah menyerah melawan keegoisan Donghae.
“Ani, dia… demam…”
Hyera menaruh lagi punggung tangannya diatas dahi Donghae. Namun sedetik
kemudian, pemilik dahi tersebuh menepisnya dengan reaksi amarah lalu pergi
menendang kursi dan menjauh dari pandangan Hyera dan si ketua kelas, Kyuhyun.
Hyera tenggelam dalam lubuk hatinya yang perih, beginilah Donghae, lelaki yang
dicintainya dengan tanpa sadar menolak Hyera yang jelas-jelas hanya hidup untuk
dirinya. Sedangkan Kyuhyun masih tidak percaya dengan masalah antara Hyera dan
Donghae, soulmate di kelas yang tak
pernah menunjukkn tanda-tanda ketidak-harmonisan mereka.
“Wow-wow.
Donghae-mu ganas, Hye!” Entah kalimat itu dianggap sebagai pujian atau bahkan
ejekan, Hyera hanya bisa memandang pintu kelas yang hampir goyang karena dibuka
paksa oleh Donghae. Kyuhyun menarik sebelah tangan Hyera saat ia mulai berdiri,
membuat Hyera menatapnya tanya. Mimik wajah Hyera sudah menunjukkan bahwa ia
kesakitan, tepatnya sakit dalam hatinya.
“Sudahlah, Hye-ah.
Ikut saja aku, ya?”
“Kemana?”
“Kau tahu, ketua
kedisiplinan butuh kau untuk mengisi majalah dinding. Daripada kau terpuruk
ditinggal soulmate-mu itu, lebih
baik ikut aku dan mengisi waktu. Ayolah…”
“Kenapa harus aku?”
“Oh Lee Hyera, Everybody
knows how gorgeous your words are. Poem, flashfiction,
cerpen, dan macam-macamnya yang tentu aku tidak tahu. Kau ratunya atas hal-hal
itu, Hye..” lanjut Kyuhyun melebih-lebihkan. Hyera menatap penuh persetujuan,
sedangkan aroma setuju itu sudah sangat menyeruak dari Kyuhyun yang
terlihat memaksa.
Pada akhirnya Hyera menyerah,
berdiri dan mengikuti ajakan Kyuhyun yang menatapnya bahagia. Meninggalkan
segala macam alasan mengapa ia begitu tergantung pada Donghae. Terlalu banyak
memang, namun satu yang paling ia acu hingga hidupnya kini benar-benar
berantakan, ia mencintai Donghae yang mencintai gadis lain.
**
“Aku pulang..” ucapnya setelah
membaringkan tubuh diatas sofa dan melemparkan tas ranselnya. Ia menghirup
nafas dalam-dalam dan mencoba membuat dirinya sendiri lebih rileks. Matanya
lelah untuk mengeluarkan air mata hari ini.
Donghae meninggalkannya, tanpa
sepatah kata pun, dan itu bukan sahabatnya. Pertanyaan Hyera tak satu pun ia
jawab, dan Hyera seratus persen tidak mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan
sahabatnya hingga ia benar-benar berubah dingin seperti hari ini.
“Tumben tidak pulang malam, Hye?”
tanya seorang gadis dengan rambut dikepang satu dengan tanktop berwarna hitam
panjangnya. Hyera mengangkat kepalanya, melihat seorang yang dirindukannya mungkin,
sosok yang lebih tua dua tahun darinya, dan memiliki lekuk wajah yang hampir
serupa.
“Onnie-ya?”
“Kaget aku disini, huh?” Tanpa
disadari, kaki-kaki kecil Hyera berlari kearah gadis bernama Hyunra, memeluknya
dari belakang tanpa memberikannya sedikit pun waktu untuk menghela nafas
panjang. Dan setelah menyadari pelukan Hyera sedikit menyesakkan, ia
melepaskannya.
“Bogoshippo…”
“I always know, dear…”
Hyunra mengecup dahi adiknya itu, lalu menariknya untuk ikut duduk di kursi
ruang makan, “bagaimana dengan sekolahmu? Tidak ada masalah ‘kan? Uang yang ku
kirimkan sudah cukup untuk kebutuhanmu disini, ‘kan?”
“Selagi surat peringatan tidak
jatuh ke tanganmu, ku rasa itu sudah lebih dari baik kok. Mengenai uang…
bisakah kau tambahkan sedikit?”
“Mwo? Itu sudah cukup, Hye-ah.
Penghasilanku sebagai orang kantoran hanya segitu.”
“Kalau ada lebih, berikan padaku!
Aku ‘kan sudah besar, banyak keperluan!” Hyunra hanya membalas dengan anggukan
pelan, lalu mengacak rambut adiknya yang ia rasa semakin memanjang saja,
“..bicara tentang dewasa… bagaimana dengan kekasihmu?”
Hyera menatap Hyunra tidak
mengerti. Meneliti tarikan ujung kedua mata kakaknya yang meminta penjelasan
namun lebih seperti memaksa butuh jawaban cepat, seperti sedang kuis
fisika. Hyera mengerti topik ini berujung kemana, namun ia memilih untuk tidak
tahu.
“Apa?”
“Kau tahu?”
“Tahu apa?”
“Tentang Donghae?”
“Donghae?”
Suara cibiran dari bibir Hyunra
begitu terdengar jelas ditelinga Hyera, yang masih menutupi segalanya, “….. Oh Ayolah,
jangan pura-pura tidak tahu. Kau pikir selama aku tidak ada dirumah, aku tidak
memikirkanmu, apa? Kau, Lee Hyera yang mencintai seorang Lee Donghae, lelaki
yang introvert namun menyenangkan dan berhasil mencuri full of your passion
untuk hidupmu sendiri. Lelaki yang sudah menjadi sahabatmu sejak kau masih
didalam popok, huh?”
Hyunra yang seperti sedang
memaksa pelanggan membayar hutang ini membuat Hyera malah bingung akan jawaban
yang ingin ia berikan. Hyunra tahu segalanya, apa yang harus Hyera beri tahu
lagi? Itu pun sudah cukup jelas, menurut Hyera.
“Ada perkembangankah?”
Hyera menghembuskan nafas pendek,
lalu lompat dari kursinya. Mengambil tas ranselnya yang tergeletak di sofa, dan
pergi menuju tangga untuk pergi ke lantai atas dan menenangkan diri. Pertanyaan
Hyunra malah semakin membuatnya tak karuan.
Sedangkan saat Hyunra memicingkan
matanya, mengikuti kemana adiknya itu pergi, ia menginterupsi tanpa basa-basi,
singkat, tepat.
“Kau masih mencintainya?”
Hyunra dapat melihat adiknya itu
kehilangan arah, bahkan keinginan untuk pergi ke kamar. Hyera membalikkan
badannya perlahan, lalu mengangguk samar-samar. Ia menghela nafas panjang.
“Cinta yang
kuletakkan dalam jantungnya, takkan pernah kujauhkan dari kebahagiaan. Sudah kupastikan, sekali lagi;
sajakku akan lebih berkaca-kaca dari mata yang sedih daripada harus menunggu
lebih lama.” Hyera menatap atap rumahnya yang tidak menarik itu, berusaha
menahan air matanya yang hampir jatuh, “…ku biarkan ia memilih sendiri siapa
mawarnya.”
Hyera kembali meneruskan langkahnya, tanpa peduli apa yang
sedang diteriakkan Hyunra. Walau kalimat akhirnya sedikit bernada memojokkan.
Namun ia mengerti, lalu tersenyum samar melebar pada angin.
“AKU TAK MENGERTI MAKSUD SAJAKMU! TAPI AKU TAK INGIN KAU
MENYERAH, HYE! KALAU KAU MENYERAH, APA ARTI PENYERAHAN DIRIMU PADA LEE
DONGHAE?”
**
Kuinginkan sebuah kepastian dari bibirmu
Bukan kecupan yang biasa hinggap dikelopak mataku
Namun satu kata yang bernada cinta
Yang lebih menyatakan bahwa aku dapat dipercaya
Lalu hingga kapan kau begitu bisu?
Dihadapanku
Menjadi sebuah patung yang tak dapat ku raih hatinya?
Lee Hyera,
Kelas 4-A
Donghae—lelaki yang tengah
membaca majalah dinding disisi lorong kelasnya, kembali bermandi peluh untuk
yang kedua kalinya karena memilih menaiki sepeda menuju sekolah. Tubuhnya tak
menginginkan Hyera, maka dari itu ia memilih pergi sendiri sebelum Hyera
menjemputnya seperti biasa. Disinilah Donghae, yang datang lebih pagi, dan
tercekat akan sebuah tulisan berwarna biru tua yang tertempel di majalah
dinding. Mengikuti perlombaan menulis puisi, dan ia mendapat penghargaan
favorit dibanding karya lainnya.
Donghae tidak tersenyum, walau
disisi hatinya ada rasa bangga. Donghae hanya merasa jatuh, ialah yang dimaksud
oleh Hyera. Donghae-lah patung itu, patung yang bisu.
Donghae menjatuhkan punggungnya
hingga menabrak dinding, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Setelah itu, ia
menutup wajahnya sebisanya. Ia menjadi begitu lemah sejak saat itu. Dia tak
dapat menemui Hyera, walau hatinya ingin.
Tidak tahu apa alasannya.
Ia hanya mencintai gadis
itu, seseorang yang bukan Lee Hyera namanya. Seseorang yang menurutnya gadis
terbaik sepanjang hidupnya.
Ia ingin memberitahu segalanya
pada Hyera, namun itu terlalu sulit.
Ia hanya malu untuk mengakuinya.
*
*
*
Yip see rawr-____- ini asal abis. sok banget. typo bertebaran, dan gak lucu~ sok romantis tapi hae emang romantis to the max..
I wanna tell this, AE = Love dalem bahasa korea selain 'Sarang' hihi :'> hm, gausah komentar abisnya mau komentar apa ini juga iseng banget buatnya ngikutin hati yang sedang penuh dengan calvinklein-nya hae jadi *skip* *kebanyakanomong*