[Speciclet] Shining Star
Dejavu.
Itu yang mungkin
banyak diumbar-umbar oleh semua teman-temanku ketika mereka merasa sangat
nyaman seperti kembali ke masa lalu. Begitu pun aku kini yang tengah merasakan
hal yang serupa. Di bukit dekat rumahku, duduk tanpa alas, bertelanjang kaki dan
hanya memakai piyama tidur berwarna pink polkadot. Aku pasti terlihat sangat
gila sekarang, tengah malam, tersenyum pada langit sembari menekuk lutut. Tapi
hanya ini yang dapat membuatku tenang.
Aku rindu pada ibu dan ayahku
yang sudah pergi beberapa tahun yang lalu. Dulu, mereka sering sekali membawaku
ke bukit ini hanya untuk sekedar bermain kejar-kejaran bola. Menjadi anak
satu-satunya adalah sebuah keajaiban untukku, dimana perhatian mereka selalu
tertuju hanya padaku. Permainan-permainan anak kecil seperti bermain bola, atau
hanya menertawkan ayah jika ia tidak memasukkan bola golfnya kedalam lubang.
Kami terlihat serasi dan bahagia.
Sampai dimana suatu waktu, ketika
umurku sudah mulai beranjak dewasa, ayah dan ibu bertengkar lalu membicarakan
‘siapa yang akan membawaku pergi’. Aku bingung dan pergi berlari, mereka
mengejarku dan….kecelakaan mautlah yang terekam oleh kedua mataku.
Aku ingin merutuk pada diriku
sendiri, karena sebenarnya ini bukanlah dejavu.
Karena tempat ini malah membuatku semakin rindu pada dua mutiara hatiku yang
selalu siap menjagaku setiap ku akan jatuh, menenangkanku setiap aku mulai
menangis. Aku benci pada Tuhan, karena Ia seenaknya saja mengambil mereka
sedangkan aku tak memiliki teman.
Cerita masa laluku terpaksa ku
ceritakan lagi pada satu sosok yang kini akan mengambilku dari hati gelapku. Ia
akan segera merubahku menjadi lebih baik. Ya, disinilah aku akan berdoa pada
ayah, ibu dan Tuhan tentang kehidupanku yang akan berganti beberapa minggu
lagi. Meminta restu kepada mereka yang sudah tenang diatas sana, bahwa Shin
Ahjussi sudah siap untuk mengantarku berjalan dikarpet berwarna merah saat aku
melangkah menuju altar dan calon suamiku yang sudah menungguku.
Ada rasa sedih didalam sini, aku
menunjuk hatiku. Ayah dan ibu tak bisa melihatku yang bahagia, dan mereka tak
bisa menimang cucu mereka nanti. Tapi aku yakin Tuhan menyampaikan salamku pada
mereka. Dan tak seharusnya aku membenci Tuhan, ia memberikan dunia lebih indah
untuk kedua orang tuaku.
Semua bintang itu… Ku rasa,
mereka tengah ikut bahagia karena memunculkan diri bersamaan saat aku sedang
sendirian dan berusaha menghapuskan bayangan tentang masa laluku kini.
“Jangan melamun…” Suara itu
menginterupsiku. Menghampiriku dan akhirnya duduk disebelahku. Menawarkanku
sekaleng kopi hangat yang pasti baru dihangatkan olehnya didalam rumahku yang
tak jauh dari bukit ini.
Aku tersenyum menerimanya. Ia
tahu pasti apa yang kupikirkan, karena ialah yang kini tahu segalanya tentangku
setelah Tuhan dan diriku sendiri.
Dari raut wajahnya yang tengah
menatapku hangat dan tulus, aku mendapatkan lagi bayangan tentang ayah ibuku
yang tercipta begitu saja. Ayah dan ibu benar-benar harus tahu tentang cueknya
lelakiku, tapi dibalik sikap dinginnya, ia yang paling terbaik yang pernah
kutemui.
“Arrayo..” katanya setelah
menarik tubuhku lewat rangkulannya dan tangannya yang besar itu menepuk pelan
bahuku. Ku sandarkan kepalaku didepan bahunya, sehingga dapat dengan jelas
kudengar suara gumamnya dan harum aroma tubuhnya.
Kami saling diam, mungkin kami
menatap hal yang sama diatas sana. Bintang-bintang yang ribuan tak terhingga
itu berkilauan cemerlang mewarnai hampir seluruh langit yang hitam tanpa bulan
purnama. Aku menikmati ini… Sangat-sangat menikmatinya. Dimana tubuhku terasa
hangat berada disampingnya.
Tiba-tiba kami saling berhadapan,
saling memandang satu sama lain. Goosebumps!
Kadang aku bingung mengapa tubuhku menegang setiap lingkaran hitam dimatanya
itu terjepit oleh kulit matanya yang sipit, dan terus mengarah kearah mataku.
He
keeps staring at me like I’m a maniac who obsessed with him. And of course
that’s yes! Kami
tertawa beriringan, menertawakan tingkah kami yang sebenarnya sangat childish. Bagaimana bisa bride and groom saling menatap lalu
canggung dan tertawa.
Aku melepaskan tubuhku dari
tubuhnya. Menekuk lututku lagi lalu menatap langit. Aku berani bersumpah, ingin
sekali ku minta pada Tuhan kembalikan ayah dan ibuku untuk malam ini saja. Akan
ku perkenalkan calon suamiku ini pada mereka, dan memberikan mereka penjelasan
bahwa anak mereka satu-satunya ini sudah mendapatkan pemimpin yang paling
terbaik.
“Apa kau memikirkan hal yang sama
denganku?” tanyanya. Aku melemparkan pandanganku dari langit indah diatas sana
menuju wajahnya yang tampan luar biasa—setidaknya menurutku.
“Apa kau tengah memikirkan
bintang?” tanyaku lagi. Dan ia tersenyum memamerkan giginya yang rapi. After looking at the same thing, we think
about the same thing, aren’t we?. Tiba-tiba saja aku melihatnya mendongak
keatas, dan diikuti olehku yang juga penasaran apa arti dari senyum manisnya
itu.
“See
that, the brightest star that we can see. I know that just a star. Your parents
never leave you, because they’re always watch and protect us from up there. I
don’t wanna see you cry when you starring at sky. Let’s never sad too long,
Belle…”
Aku mendengar suara pelannya yang
menghipnotisku. Tubuhku lebih tenang dan tak tegang, dan kedua mataku lebih
bisa menahan air mataku. “Thanks.”
Ku lihat ia mendekat kearahku,
dan memberikan kecupan hangat diatas dahiku, “Then you have to promise to me, never cry and hide anything from me, yaksok?”
jari kelingkingnya terulur kearahku dan kubiarkan jari kelingkingku menyapanya.
Senyum kami merekah bersamaan, seperti bintang-bintang disana yang tengah
berkilauan.
“Anyway, apakah kau percaya pada ramalan bintang?” tanyanya
mengejutkanku. Sejak kapan lelaki ini peduli terhadap ramalan bintang?!
“Kadang. Habisnya apa yang
dikatakan peramal bintang selalu hampir benar dan juga hampir meleset.
Memangnya kenapa?” jawabku. Kulihat wajahnya lagi yang terplihat tengah
berpikir. Ia mengendikkan bahunya lalu kembali menatapku.
“Sebenarnya aku pernah iseng surfing di internet. Bintang Aquarius-ku
tidak cocok dengan bintang Gemini-mu. Jadi,
menurutmu apa kita harus percaya?”
Aku berdeham, “….dulu orangtuaku
juga memiliki zodiak yang tidak cocok. Tapi mereka bisa menjagaku dengan baik.”
“Jadi kau pikir kita bisa menjaga
anak kita dengan baik nanti?” What?
Aku menahan tawaku, memukul sebelah lengannya dan menjauh darinya yang sudah
memasang tampang menyebalkan khasnya. Tatapan tajam dengan mata sipit, juga
bibirnya yang tertarik ke sebelah arah.
“Jangan ungkit itu!” Kataku
berdiri dan mundur darinya.
“Apa kita juga bisa membuatnya
dengan baik?”
“MWOYA!!!!” Aku seperti akan
diculik olehnya karena ia mengejarku. Yes
we’re so childish now. Diatas bukit, berkejar-kejaran. Aku harap tak ada
seorang pun dibawah sana yang melihat kami seperti ini. Dimulai dengan
tangannya yang merangkulku dan menarik leherku, mengecup dahiku lalu turun ke
bibirku.
Sudah biasa. Sangat biasa. Ia
selalu begitu.
Memberikan ciuman yang sedikit
tak tahu diri dan tak tahu malu, karena melakukannya sepihak tanpa sedikit pun
membiarkanku mencoba membalasnya karena aku bingung harus melakukan apa jika
bibir tebalnya sudah menyapaku dan kedua tangannya sudah dengan baik mengelus
punggung juga tengkukku.
Goosebumps! Aku mendorong dadanya yang mulai
berkotak itu, “ssh! Kita belum menikah dan…it’s
not good at all, Junho!”
“ahf……I really want yooooouuuuuuuuu!!!!!!!!!!” Sekarang aku merasa bahwa
semua sumpahku sia-sia. Apakah aku benar untuk mempertemukan ayah dan ibu
dengan calon suamiku yang super pervert
dan menyebalkan ini! Ish!
“Shut up!” Kataku mendorongnya lagi karena ia mengunci kedua
tanganku, “ayah dan ibu tak boleh melihat kita seperti ini!”
“Jadi kalau dikamarmu boleh?”
**
balik lagi sama aku yang pervert dan menyukai junho yang juga pervert (?) bahaha ini ide dari orang lain daaaaan aku gatau mau ngomong apa karna junho ngeselin juga disini kkkkkk
anyway tiga lagi nih :">