[Speciclet] For Good, For Eternity

I have loved you for a thousand years. I love you for a thousand more—Christina Perri, A Thousand Years.

**

Semua kembali terasa nyata, walaupun kau ingin sekali menjadikan dunianya semakin sepi dan menyendiri. Kau tak ingin bersama orang lain, hanya perlu sendiri, untuk sementara waktu dan saat ini. Langkahmu terus berani dan membawamu kelantai bawah, hal itu pula yang membuatmu begitu enggan meneruskan perjalanan sepasang kakimu menuju satu sosok yang suaranya terdengar jelas dari tempatmu  berdiri. Kau menguping sedikit lelaki itu yang ternyata tengah bermain lego bersama adik lelaki berumur empat tahun satu-satunya milikmu.

Rasanya beku. Rasanya sakit, dan juga rindu. Tanpa kau sadari, tubuhmu membeku dan tiba-tiba saja berani memunculkan diri—setelah berusaha berlama-lama tetap berada didalam saja. Wajahmu pucat sejak beberapa hari yang lalu, dan matamu bengkak terlihat sembab. Rasanya malu sekali menampilkan dirimu yang kini didepannya.

Kau dapat dengan jelas melihat punggung lelakimu, yang sungguh suara tawanya kau rindukan setengah mati. Tawa tulus yang keluar dari bibirnya adalah energi positif dan bisa membuatmu berdiri dan tersenyum menahan tangis jika berada disisinya.

Kini perubahan telah menyita segalanya dari dirimu juga dirinya. Kau tak lagi ingin bersamanya, sedangkan hatimu masih sangat ingin bersama hatinya. A complicated one.

Untuk yang kesekian kalinya, ia berusaha menampilkan wajah paling tegar sembari berjalan mendekati tubuhnya yang sekarang berbalik dan matanya menabrak pandangan matamu tajam. Ia tersenyum sambil berdiri, “hei.”

Dia menyapamu setelah mengangkat tangannya didepan dada. Kau berjongkok untuk menyuruh adikmu bermain dikamar saja, dan untungnya ia menurutinya dengan baik.

Untuk kali ini, kau tak sedang ingin mempersilahkan lelakimu itu duduk dan mengambil sebagian tempat diatas sofamu. Bukannya tidak sopan, dan bukannya benci, tapi kau tengah lemah untuk melakukan apapun apalagi dihadapannya.

“Ada perlu apa kau kesini?” ucapmu ketus, tanpa sedikitpun ada keinginan untuk menatap wajahnya. Menahan tangis diantara rasa marahmu—hanya itu yang bisa kau lakukan untuk sementara ini jika ia masih setia berdiri didepanmu tanpa kata-kata, dan itu terasa sangat sulit untukmu. Mengingat tahun-tahun sebelumnya, tidak seperti ini rasanya.

“Meluruskan hubungan kita.” Ucapnya santai, namun nada tulusnya begitu terdengar jelas olehmu. Entah apa yang ada dibenakmu, dan apa yang dibenaknya ketika kau sudah berhadapan dengannya seperti ini. Kalau dahulu, ia selalu menggenggam tanganmu erat, menggandengmu, bahkan sesekali menggendongmu, pernah juga mengecup bibirmu saat kau sudah hampir turun dari mobilnya. Itu dahulu, dan entah kapan akan kembali terjadi. Beberapa hari tanpa kontak berlalu dan terlalu berarti bagimu.

Meluruskan hubungan? Bukankah semua sudah lurus? Bagian mana yang berkelok?

“Bukankah perasaan kita masih sama seperti dulu?” tanyanya, dan membuat hasratmu untuk menangis dan mencerna semua kata-katanya begitu membuncah ketika kau mendengar kalimatnya. Wajahnya memilih untuk menatap hal lain yang bisa dijadikan sudut pandang terbaik—tepatnya menghindari wajahnya yang begitu memohon. Kau berkata tidak, dan sekali lagi…..hatimu masih butuh dirinya.

Masa lalu yang sudah dilewati olehmu, tak bisa kembali kau raih dan diperbaiki. Sedangkan saat itu, kau tengah butuh ia, pelukannya, ciumannya, semua perlakuannya. Dan permintaanmu itu dibalas telak oleh sebuah adegan panasnya dengan seorang wanita yang jelas-jelas kau ketahui siapa ia, sahabatmu sendiri, sahabatnya juga. Adegan panas yang memang hanya ciuman dalam itu memang biasa di kultur negaramu, tapi apakah normal jika adegan panas itu dilakukan diruang rawat milikmu saat kau tengah terbaring sakit?

Dan dia adalah kekasihmu. Dan dia—yang lain adalah sahabatmu. Dan kau begitu tahu apa yang terjadi sebelum kau memilih untuk menjalin kasih bersama sosok dihadapanmu ini!

“Apa kita dapat kembali? Apakah permintaan maafku yang kesekian kali ini akan terabaikan olehmu lagi?” tanyanya, menggenggam tulus sebelah tanganmu. Kau tak berani mengatakan apapun, karena untuk menatap masa depan dan tidak mengulang kembali kesalahan terbodoh—mencintai lelakimu—itu sulit sekali. Yes he’s idiot, playboy, bastard, fucking bad. And you love him for good on and on.

“Ayolah ini sudah yang kesekian hari kau begini. Dan semua tak sama seperti apa yang kau lihat. Semua salah paham, kau tak mengerti apa yang dibutuhkannya. Aku butuh kau lebih, jangan buat aku menyendiri begini…” ucapnya lagi, membuatmu tercekat, karena sebelah tangannya mengangkat dagumu. Sesaat kau menyadari bahwa kini sudah tak sama lagi. Dan masa lalu tak dapat diperbaharui, juga dirimu yang tak ingin beralih dari kesendirian walau kau ingin kembali.

“Aku benci kau.” Katamu.

Semua itu terlalu nyata. Ciuman. Kata sayang. Dan semua itu untuk sesosok yang kau sayangi, sahabatmu sendiri. Dan semua itu membuatmu berani menatapnya dengan tajam, menepis tangannya dari dagumu.

“Kau tak mengerti, aku ini lelaki, Yoon. Dia yang memulai semuanya dan aku….aku….” Lelaki itu berusaha berkilah dari tatapanmu, “…aku tak bisa menahan segalanya, Yoon! Dia butuh ketenangan dan aku terlalu jatuh kedalam permainannya… ayolah… aku mencintaimu… tahun-tahun kita akan hambar jika kau terus seperti ini!”

Still don’t get it, huh?!” Kau memberikan tawa sindiran, ditambah lagi dengan air matamu yang turun tanpa kendali, “I wanna have special memories with you, hold your hand during winter, sit next to you under a blanket while were watching a movie, sleep next to you when it’s cold, give you a goodnight kiss without others looking me like an idiot, walk in the rain with you…. Like you do with…” kau mundur selangkah dari tempatmu berdiri, menjauh dari ia yang menatapmu memohon, “…with her, long time ago!”

“Yoon…. Yesterday is yesterday, and I kissed her by accident!”

“BUT I DAMNLY KNOW SHE IS YOUR EX GIRLFRIEND, HONGKI!” Interupsimu, setelah emnahan amarahmu yang membuncah, disertai dengan kerinduanmu tentang ia yang selalu protective terhadap kau jika tengah sedih seperti ini. Kau menangis sejadi-jadinya, menutup kedua matamu dengan sebelah tangan. Sedangkan ia tiba-tiba saja memelukmu erat, seperti saat dahulu kau tak pernah melihat hal menjijikan itu.

Seperti sedia kala. Kau ingin pelukan ini lembut seperti sedia kala.

Menghirup aroma tubuhnya yang menyenangkan, menenangkan, menidurkan kepalamu diatas dada bidangnya, merasakan hangat dua tangannya yang melingkar dibelakang punggungmu, memiringkan kepalanya didekat telingamu. Kau butuh ini, ternyata hanya ini yang bisa membuatmu tenang, bukan dengan menyendiri dikamar saja dan menangis tanpa ada jawaban didalamnya.

Hongki. Lelakimu. Sejak beberapa tahun lalu, dan kau mencintainya hingga akhir hayatmu.

“Bisakah kita kembali saja, Yoonhae? Bisakah kita saling mengerti lagi? I wanna be with you because there’s Yoonhae, there has been Yoonhae, there will always be Yoonhae. And Yoonhae is you, understand it?” Kata Hongki padamu, tepat saat ia setelah mengecup lembut dahimu yang lama tak tersentuh oleh bibirnya.

Ya, ia tak bisa menolak semuanya… Tak bisa memperbaiki masa lalu, tapi Hongki terdengar ingin sekali merubahnya dimasa depanmu. Dan nyata untukmu, hanya Hongkilah yang bisa membuatmu merasa terisi, dan tak sendiri. Hanya. Dan satu-satunya.

“Why would you stop being with her because of me? Just think about me? I just wanted you to know how I really feel when saw you and her side by side, and I’m still your girl, Hongki… think that…” pintamu lebih dalam. Karena kau memang mencintainya. Hingga mati pun kau tetap mencintainya. Setidaknya seperti itu karena hanya Hongki yang mengisi penuh hatimu.

“You’re my girl, my only for my eternity. We just knew that we didn’t have to say a single word. That was when I knew that the one I loved really loved me back….” Ucap Hongki sambil mengelus puncak kepalamu. Merasa kembali. Merasa hidup lagi, kau mengulurkan kedua tanganmu untuk membalas pelukannya.

“Tetap peluk aku..” Tuturmu tulus, sambil menutup kedua matamu, menetralkan semuanya dan merasakan lurusnya permasalahanmu.

“Aku takkan pernah berpikiran untuk bisa melepasmu lagi.”

**

sialaaaawwwwwn gue beneran pake feel bikin ini............ walaupun menurut orang2 gagal, nyaho ye gue berusaha banget ngumpulin mood bikin speciclet hongki ftisland tapi gak ada mulu dan TADAAA inilah jadinya ==" semua draft hongki udah dihapus dan jadilah begini *ohok* abisnya pengen banget bikin hongki... walaupun suka dianya sedikit, tapi di MV severely aku rasa dia menawan banget hahaha

awalnya galaw tapi jadi bagus kan =3 oh ya bad grammar and unbetaed abisnya si clara kaga online takut ditaguh 6jib sama gue :p uhm... hutang saya 4speciclet lagi :"> !!!!!

p.s : Hongki, thanks to call my heart for a moment :p hffft and thanks mbak dinta udah kasih liat video hongki jadi moodnya lumayan hahaha 

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!