[Speciclet] Baby This, Baby That
Lee Donghae. Ia seperti bintang
malam ini. Ditengah para pasangan-pasangan serasi dengan muka paksaan bahwa ‘yes I’m so happy in here’ , ia yang
terlihat sangat bahagia dan natural. Semuanya terpancar dari pesonanya yang tak
henti-hentinya keluar, mengingat ia adalah seorang mantan hallyu star yang
masih diancam sana-sini untuk menceraikan segera istrinya dan menikahi semua
Elf saja. Donghae tak sebodoh itu, walau sebenarnya ia harus melakukan itu.
Wow. Kalau memang takdir dan
kehendak mengatakan bahwa Donghae wajib menikahi seluruh Elf, hebat juga
Changmin dan Yunho TVXQ yang memiliki fans resmi online terbesar di dunia
mengalahkan Lady Gaga itu karena harus siap melayani seluruh istri-istri mereka
yang bejibun itu.
Cara jalannya saja sudah keren
sekali. Mengamit lengan sang istri yang memakai gaun super simple tanpa menghilangkan kesan glamour, dan berjalan membelah kerumunan. Bukankah itu lucu?
Sedangkan ia dan Hyemi hanyalah tamu, bukan pemilik acara ulang tahun
perusahaan.
Mereka menemui undangan
perusahaan yang dibuat oleh perusahaan Hyemi. Dan dengan terpaksa Donghae harus
ikut karena Hyemi tak suka pergi sendirian. Mereka enjoy didalam sana.
Mengambil makanan yang sudah tersedia diatas meja seperti kue bolu kotak-kotak
kecil, pudding dan sebagainyalah yang
bisa membuat mereka menahan sumpeknya
aula hotel yang penuh ini.
Dan satu hal lagi yang membuat
Donghae berkeinginan untuk mengantarkan Hyemi ke acara yang pasti penuh dengan
orang-orang berpunya itu. Ya, akan banyak anak kecil disana. Donghae suka
sekali anak kecil, terlebih anak lelaki yang umurnya dibawah tiga tahun. Anak-anak
lelaki dari orang-orang berpunya disini terkadang berkeliaran menjauh dari
ayahnya yang asyik mengobrol dengan temannya sambil berkicau di dunia mereka
memegang gelas tinggi berisi wine anggur merah—dan yang Donghae selalu ejek
dengan sirup merah kelapa biasa.
Sebenarnya Hyemi pernah berkata
dalam hati, kenapa tak pergi ke playgroup saja? Suaminya pasti puas!
Suatu waktu, Donghae bisa asyik
sendiri dengan anak-anak yang berkeliaran disana. Ia lebih suka berbicara
dengan bahasa alien bersama anak-anak itu daripada harus mendengar umbar-umbar
perusahaan atau sambutan, atau kalimat pamer yang pasti keluar dari mulut wanita-wanita
teman-teman istrinya. Untung saja istrinya itu tak suka hal-hal yang seperti
itu, bergosip, mendengar celotehan perusahaan yang hampir delapan puluh
persennya adalah kebohongan, juga sering ikut mengejek diam-diam bersama
Donghae. Setidaknya Hyemi lebih berpengalaman untuk menyembunyikan ketidaksukaannya,
tidak seperti Donghae yang begitu masuk aula langsung meluncur kemana anak-anak
lelaki itu berkeliaran.
Yang paling sering dilakukan oleh
Donghae adalah melihat istrinya yang juga tengah tersenyum padanya. Anyway, Hyemi begitu tahu arti tatapan
itu. Karena acara seperti ini bukanlah acara yang pertama kali mereka datangi.
Awalnya Donghae bisa menahan semuanya. Tidak lagi saat ia sudah kelewatan dan
tak bisa menahan semuanya. Bermain dengan anak orang lain, lalu tersenyum pada
Hyemi. Bercengkrama dengan bayi dengan bahasa planet, memainkan tangan kecilnya
dan berusaha sok kenal dengan ibu sang bayi yang menggendongnya.
Donghae tersenyum bahagia. Hyemi
juga. Tapi….. itu untuk kurun beberapa jam yang lalu. Setelah dengan bodohnya,
lagi-lagi ia melakukan hal yang salah untuk istrinya yang sudah dinikahinya tiga
tahun lalu, diwaktu yang selalu serupa—acara besar dengan orang-orang besar.
Ia baru sadar setelah sang istri
tiba-tiba tertelan kerumunan, persis setelah ia baru ingin membawa bayi orang
lain kehadapan Hyemi untuk memberinya sedkit perhatian. Seharusnya ia tak
bermain dengan anak-anak. Seharusnya ia memilih duduk dan tidur saja dipojok
ruangan. Seharusnya. Mengapa ia bodoh sekali!!
Ya, bodohnya lagi ia bingung
mencari istrinya itu dimana. Dihubungi tak diangkat, dikirimi pesan juga tak
dibalas. Ia tentu tahu dimana letak kesalahannya—bermain dengan anak kecil…
didepan istrinya yang sama sekali tak memiliki pengalaman tentang mengandung
anak. Salah. Sakit. Sekali lagi,
ini-bukanlah-yang-pertama-kali-Donghae-lakukan. Egoisnya, Donghae juga lelaki
yang begitu ingin memiliki junior dari pernikahannya… Sayangnya Tuhan belum
memberikan hal itu pada Hyemi dan dirinya.
See, istrinya hilang, ia
kehilangannya sekarang. Donghae akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf
dari istrinya yang selalu ia sakiti tanpa sengaja itu.
Sampai satu waktu, saat ia
kehilangan arah, saat ia tengah membelah jalan dengan Audi hitamnya menuju
rumah minimalis didaerah subur ban sekitar kota Seoul miliknya, sebuah pesan
masuk kedalam ponselnya.
Kau apakan lagi istrimu? Dasar laki-laki kurang ajar!Cepat kesini, dia menangis bersama istriku ugh-____-Sender : Donghwa Hyung
Beberapa menit kemudian ia sudah
meluncur di jalanan menuju rumah sang kakak. Hyemi memang tak bisa mengatasi
emosinya sendiri, dan suaminya itu bodoh—tak bisa membantu merubah emosi Hyemi
yang seringkali membuncah. Ia diam dalam dingin malam, berpikir, seharusnya ia
tak seegois itu pada istrinya sendiri. Bagaimanapun, semua bukan salah Hyemi,
bukan salah dirinya juga.
Lagipula, Donghae juga tak pernah
sekalipun sengaja menyalahkan Hyemi. Tiga tahun menikah, tanpa tanda-tanda
kehamilan diperut ramping Hyemi. Melihat bayi, melihat tingkah laku anak kecil
lalu menginginkannya, adalah sesuatu yang sedang dihindari oleh Hyemi. Istrinya
itu takut frustasi sendiri, jealous
pada temannya yang sudah memiliki bayi. Lagi-lagi Donghae bodoh, karena pernah
melakukan hal gila dihadapan Hyemi juga teman-teman Hyemi saat acara besar itu
didatanginya.
“Sayang,
bayi ini lucu sekali. Apa kita bisa memilikinya?” lalu raut wajah Hyemi berubah
masam, namun senyumnya masih tertera disudut bibirnya saat itu.
“Memangnya
kalian belum punya? Bukankah kalian sudah menikah jauh lebih lama daripada
kami?” ucap
seseorang yang tengah menggendong bayi, yang anak lelakinya baru saja dipuji
oleh Donghae. Perlahan Donghae memasang senyum, menggenggam erat tangan Hyemi
yang baru disadarinya berkeringat.
“Tuhan
belum memberi.” Komentar
Hyemi singkat dan ingin sekali merubah topik yang lain. Lalu Donghae tertawa
kecil, menginterupsi hal lain, “kalau
waktu masih belum berpihak pada kami, mengadopsi anak juga bisa, kok.” Begitulah
yang terjadi di acara sebelumnya.
Bagi Donghae itu adalah jalan
terbaik bagi mereka yang belum memiliki anak. Tapi bagi Hyemi? Bukankah itu
menyakitkan? Seorang wanita yang tiga tahun menunggu keajaiban datangnya
malaikat yang harus dijaga nyawanya selama sembilan bulan, dan disayanginya
sepanjang masa itu pada akhirnya harus mengadopsi anak tanpa melewati proses
sesakit apa melahirkan itu. Hyemi bersumpah akan kuat jika ia harus menahan
seluruh rasa sakit itu sendiri, agar ia bisa memilikinya sendiri. Agar ia bisa
menjaga calon bayi bersama suaminya.
Tahukah rasanya? Donghae tidak,
Hyemi tahu itu. Dan suaminya itu selalu saja mengulangi hal yang sama, bermain
dengan anak kecil, lalu memberi tatapan ingin pada Hyemi. Untuk awal, Hyemi
masih bisa tersenyum. Tapi jika berkali-kali, Hyemi pasti memilih untuk pergi
saja.
Seperti sekarang. Saat Donghae
berlari menuju pintu rumah yang ditujunya, Donghwa sudah siap melipat tangan
didepan dada, menahan Donghae yang ingin segera masuk mencari istrinya.
“Kau mengulanginya lagi, Hae.” Ucap
Donghwa sinis. Ia tak habis pikir bagaimana sih jalan pikiran adiknya ini.
Apakah tiga-belas-tahun terkurung dalam kontrak budak Lee Soo Man tak
memberinya pelajaran tentang bagaimana caranya menghargai wanita?
Ah. Berpacaran saja sulit—ketika itu.
Terlihat bagaimana canggungnya ia jika sudah berhadapan dengan wanita didalam
acara reality show. Donghae yang baru
saja berlari dari tempat diparkirkannya mobil Audi miliknya ke rumah ini, masih
mengatur nafasnya dan membalas tatapan kakaknya tersebut.
“Kau—kau tak tahu, hyung.. Aku
tak bisa menahannya. Bermain bersama anak kecil, sesuatu yang sungguh ku
inginkan dan ku miliki, apakah itu normal? Bukankah kami berdua sudah mengecek
bersama ke dokter dan dokter pun memberikan pernyataan bahwa kami baik-baik
saja? Apakah salah meminta seperti itu? Hyemi tentu mengerti, kan? Awas aku mau
masuk!” Donghae mendorong dada kakaknya, tapi ternyata tak semudah itu.
“Hyemi? Mengerti?! Ish istrimu itu memang sangat-sangat
mengerti. Terlebih sikap childishmu
itu, Hae! Kau benar-benar buta sekali tentang menghargai perasaan seseorang!
Dia istrimu! Kau pernah melakukan hal yang sama seperti ini sekali! She hurts so much when you keep mentioning
about baby. Baby this, baby that, and that’s always about baby. Hyemi sudah
berusaha tapi Tuhan memang belum menghendakinya! Dia sungguh terluka jika
mendengarmu menginginkannya…” Donghae yang berdiri terancam itu menunduk,
mendengar seluruh pengertian kakaknya yang lebih tahu tentang itu karena
Donghwa sudah sering kali mendapat cerita dari sang istri tentang adik iparnya
itu, “…istrimu di kamar tamu. Semua pakaian kalian masih ada di lemari bawah.
Malam ini kalian menginap saja sampai masalahmu selesai. Sana temui istrimu!”
kata Donghwa tanpa inosen jelas membela siapa. Ia ingin membela Donghae yang
notabenenya adalah adiknya, tapi ia bodoh dan childish. Membela Hyemi juga untuk apa, karena Hyemi tak melakukan
apapun.
Donghae mengangguk. Memulai
langkahnya perlahan hingga ia berhasil masuk kedalam kamar kecil itu dimana ia
bisa melihat sang istri tertidur dengan short
dress hitam yang sama. Selimut ditubuhnya hanya sampai bagian pinggang, dan
Donghae berusaha untuk mendekati istrinya tersebut.
Ia duduk di tempat tidur
menoleh pada istrinya itu, menyadari
bahwa kesalahannya adalah yang paling fatal daripada saat ia berbicara pada Elf
tentang putusnya hubungan tidak waras antara Eunhyuk dan dirinya hingga para
fansnya mengancam, padahal kan tak mungkin juga ia menikahi Eunhyuk?
Ia memanggil dengan berani, “Hye….”
“Perlukah kita mengadopsi anak saja?”
tanya Hyemi tanpa berbalik. Of course
Donghae menggeleng menarik tubuh Hyemi untuk bangun.
“Aniyo. Mianhae, Hye… Aku yang
salah… Tidak perlu…”
“Apakah besok kita perlu ke rumah
sakit lagi untuk mencari alternatif yang lain agar aku bisa cepat hamil?”
“A—Andwaeyo… Tidak… Hyemi,
Mianhae…”
“Aku ingin kau bahagia, Hae… Apa
yang harus kita lakukan agar apa yang kau inginkan itu segera dikabulkan?”
“Ti—tidak… Tidak begitu, Hyemi…
Aku mohon maafkan aku…”
Tiba-tiba mereka kembali terbalut
dalam diam. Hyemi dengan kefrustasiannya, sedangkan Donghae kembali bergelut
dengan kesalahan-kesalahannya. Donghae mendekat kearah Hyemi untuk memeluknya
lembut. Berusaha mendinginkan pikirannya tentang bayi-bayi-dan-bayi-sialan itu.
Mungkin benar, Tuhan menyayangi mereka dengan cara seperti ini, membiarkan
mereka hidup berdua lebih lama dan mengenal satu sama lain. Jika mereka
terbalut dalam diam sambil berpelukan seperti itu, mereka takkan lagi merasakan
buncahan emosi dalam masing-masing hati. Toh didaalam lubuk hati mereka yang
paling dalam, begitu mengerti tentang arti kepercayaan cinta yang akan segera
menumbuhkan apapun yang diminta oleh mereka. Masalah waktu. Tinggal bagaimana
manusia bisa menunggu dan sabar akan itu.
“Mianhae…” katanya lagi, dan
Hyemi tak segan-segan mengangguk membalasnya. Untuk apa marah, itu hal yang
biasa untuk mereka. Tak ada yang perlu disesali.
Ketika tangis Hyemi telah mereda,
tangan Donghae telah selesai mengelus lembut punggung mulus istrinya, berulang
kali Donghae menyebutkan ‘uljima´ditengah-tengah
tangis gadis cantik itu, juga setelah mereka bisa mengontrol satu sama lain,
Donghae kembali memagut bibir Hyemi lembut. Mereka menikmatinya. Seperti biasa.
“Aku tak apa belum diberi anak.
Kita masih bisa terus berdua..” ucapnya, lalu kembali meraup bibir Hyemi
posesif.
*
“Begitulah jika gadis cantik
polos menikah dengan laki-laki bodoh yang lebih polos lagi, Hwa-ya...” Ucap
seorang wanita setelah mereka sempat menguping sedikit pembicaraan dua orang
didalam satu kamar privasi. Sang lelaki tiba-tiba saja merangkul bahu istrinya
tersebut, tersenyum menyetujui.
“Mungkin kapan-kapan kita harus
menyuruh mereka lebih agresif lagi.”
***
aaaawwwwww
hyemi-hae nih gara-gara ga keliatan di allof dan aku gatau harus pake
nama siapa jadi pinjem daaaan OHMAYGAT HAE elo beneran polos abis kalo
ketemu cewek (yg gatau musti nonton blinddate teukso!) eugh semua ide
keluar dari sana dan setelah aku nonton film jepang koizura, makin aja
gereget bikinnya :"> yes special for my calvinklein, Donghae~ :*
anywaaaay,
HAPPY BIRTHDAY DOOJOON BEAST, USA, AND ME OF COURSE AAAAAAAAA SEMOGA
HARI INI JADI 48 JAM YA ALLAH AMIN!!!!! ~ [permintaan yang sangat tidak
mungkin] ya ampun aku seneng deeeeeeeeh karna hari ini jadi banyak yang peduli deh sama aku u.u*edisigalau *dasarjomblo
yang udah baca dan terus mantengin blog aku..... bagi aku itu udah
hadiah :) makasih buat semua yg dukung proyek asal ini... review blogku
jadi meningkat karna kalian HAHAHAA pokoknya kirim kecup cinta buat kalian *flyingkisses*