White Rose [Chapter 6/7]
Hari sudah menjelang malam. Langit menghitam dan ia terduduk
menyepi. Rasanya seperti tenggelam dalam keheningan yang ia buat sendiri.
Salahnya datang ke tempat ini, tempat yang menurutnya mengapa tidak ada seorang pun yang datang. Taman belakang rumah
sakit.
Hampir enam jam ia menunggu proses pemeriksaan lelaki itu.
Menunggu Donghae yang tanpa henti berdoa dengan tulusnya. Hyera, gadis ini
duduk sendiri dengan sisa kekuatan yang ia punya. Sesekali ia menahan air mata
yang hampir jatuh dari kedua kelopak matanya. Lalu menoleh kearah depan lagi,
suasana Seoul yang manis ketika malam hari. Bodohnya, tubuhnya sedikit
menggigil oleh angin yang cukup berhembus kencang.
Lantas, ia memegang ponselnya. Berharap sesuatu yang lebih
dari benda kecil yang sekarang jadi hidup-matinya. Ia tak ingin berada didalam,
namun tak pula jauh dari Donghae yang tengah lemah darinya.
Baru kali ini ia menemukan Donghae menangis sedemikian rupa,
setelah saat itu, saat mereka kecil dan ia ditinggal oleh sang ayah, bahkan
ibunda dan hyung satu-satunya, yang membuatnya kini tinggal sendiri. Hyera
menemukan Donghae menangisi ibunya yang kecelakaan, setelah itu tidak ada lagi
tangis dari Donghae kecuali rasa antusiasnya menemui gadis yang ia cintai.
Mati-matian ia mencari pakaian yang paling apik untuk dipakainya saat akan
menemui kekasihnya. Sedemikian pula Hyera membantunya ia hidup.
Donghae yang tak menyadari atau pura-pura tidak menyadari,
atau bahkan tidak peduli sama sekali akan keberadaan dirinya yang selalu ada,
kebahagiaan diri Hyera yang selalu datang ketika sebuket bunga mawar putih
diberikan Donghae padanya. Hyera kembali menangisi hal itu.
Mengapa Donghae memilih lelaki itu dibanding dirinya?
Maka hal itulah yang membuatnya merutuki keadaan bahwa
mengapa cinta itu tak tahu arah.
Hyera menopang dagunya dengan sebelah tangan yang juga
ditopang oleh tangan kursi kayu putih itu. Menggumam tak jelas, rasanya ingin
teriak tapi tak mampu. Sejak enam jam ia ada bersama Donghae, menemaninya dan
melihatnya memaksa dokter Park untuk memindahkan kekasihnya ke ruangan biasa,
tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
Kecuali Ae.
Panggilan kecil Donghae darinya, yang bermakna lebih dalam dibandingkan sarang.
“Hye.” Hyera menoleh kearah sumber suara, tepat dibelakangnya,
seorang lelaki lemah itu berjalan menujunya. Donghae duduk dengan serba salah
yang menyelimutinya. Sedikit menjaga jarak dari Hyera, karena ia pun merasa
bersalah.
Suasana jadi canggung. Tak ada satu pun yang berani
mengutarakan pendapatnya terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Donghae
dengan egonya yang mati-matian membela kekasihnya. Hyera dengan perhatiannya
yang tanpa penurunan terhadap sahabat yang ia cintai ini. Semua berbeda,
bertabrakan, bahkan tak sama.
Mereka terlihat tidak bersahutan. Donghae yang mendorong
sedikit tubuhnya untuk mempersempit jarak mereka, tidak direspon apapun oleh
Hyera yang diam menatap tanah.
“Namanya Lee Hyukjae.” Donghae—akhirnya membuka suara. Demi
hal apapun yang menyangkut dirinya, Hyera tak ingin mendengar nama itu masuk
kedalam telinganya. Membuatnya seakan jatuh tertimpa tangga, tidak mendapat
Donghae, dan tahu Donghae memilih lelaki itu. Bisa dirasakan-kah?
“Anemia. Kekurangan darah yang cukup parah. Awalnya karena
kecelakaan biasa, tapi sifatnya yang emosional membuatku sulit sekali
menyuruhnya makan makanan yang lebih bergizi atau sekedar minum vitamin. Ia
menolak hal-hal kecil itu.” Lanjut Donghae lemah. Tanpa disadari, tubuhnya
menegang, rasanya tak tahu harus berbuat apalagi. Hyera, yang semakin ingin menumpahkan
emosinya hanya bisa merengkuh pergelangan tangannya sendiri, untuk menciptakan
kekuatan untuk dirinya yang kini harus tahu kenyataan itu.
“Dokter Park bilang, kecelakaan tadi cukup membuat volume
darahnya menurun. Pembuluh darahnya pecah.” Katanya lagi, menunjuk kemejanya
yang ber-bercak merah.
“Tadi dia kolaps. Jumlah darahnya menurun drastis.” Dua bola
mata Donghae yang sebelumnya menatap tanah, kini menatap Hyera dari pinggir.
Rasanya berbeda, padahal mereka tidur dalam satu kamar pun biasa, “…dia
sebatang kara, Hye. Tinggal sendiri diujung Seoul, dirumahnya yang kecil. Dan…
dan…”
Hyera memaksakan diri untuk mengangkat wajahnya kembali,
menoleh ke arah Donghae yang sedang merangkai kata-kata, “…aku mencintainya.”
Hyera memandangi wajah itu, dan sepasang mata yang tengah
menatapnya lembut. Ingin sekali memeluk lelaki disebelahnya, alasannya adalah
ia sama seperti Donghae, sama-sama rapuh. Begitu berbeda, suasana ini termasuk
hening tanpa damai. Hyera semakin tertekan dalam dirinya. Sesaat. Ia melempar
pandangannya kearah lain. Kelabu yang tersaput di wajah tampan itu tidak dapat
membuatnya semakin tenang, bahkan semakin jatuh dan dalam.
Untuk sekejap, Hyera ingin menyerah untuk tidak
mencintainya.
“Mianhae.”
Donghae membuka mulutnya lagi, seraya menjatuhkan tubuhnya
dari kursi tersebut. Mendekati Hyera, seakan sedang membungkuk meminta
pertolongan.
“Hae?”
“Mianhae, Hye—Jeongmal… Aku tidak dapat memberitahumu,
ini…ini terlalu memalukan…” Dua tangan Donghae bergetar mencapai tangan Hyera yang
dingin. Ia ingin menangis didepan sahabat kecilnya ini. Semua tertahan oleh
emosi yang begitu meluap-luap tanpa henti, karena ia tidak ingin jauh dari
sahabatnya ini dan kekasihnya. Sedangkan mereka seperti dalam dua dimensi yang
berbeda.
“Hae?”
“Ku..mohon…”
“HYERA!” Panggilan seseorang membuat Hyera menoleh. Tak
hanya Hyera, Donghae juga ikut mengangkat wajahnya seraya perlahan bangkit dari
berlutut-nya. Merasa mengenali suara itu, Donghae terbelalak.
Lelaki pemilik suara lantang dengan wajah tirus—Kyuhyun—kini
berdiri dipintu penyambung ruangan dan taman. Ia tak berani mengganggu
aktifitas dua sahabat ini. Apalagi disana ada Hyera, yang sedang menatapnya
dengan meminta. Beberapa detik kemudian, ia mundur beberapa langkah dari sana.
Mencoba mencairkan diri menunggu Hyera datang padanya.
Di sisi lain, Hyera menoleh kembali kearah Donghae. Berdiri
sembari mengangkat lengan Donghae. Donghae yang berdiri berhadapan dengan Hyera
sempat bingung mengapa-ada-Kyuhyun-disana. Hyera yang tengah memegang sebotol
air mineral, diberikannya ketangan besar Donghae yang bergetar. Perlahan, Hyera
menyetak senyum diwajahnya. Perlahan pula ia menyapu bekas air mata dipipi
Donghae.
“Bagaimana bisa aku memarahimu. Kau memilih lelaki itu, dan
kau punya konsekuensi sendiri terhadap itu, ‘kan Hae?” Hyera menepuk sesekali
kepala Donghae, “…aku selalu mendukungmu. Dan seharusnya begitu.”
“Hyera…”
“Aku menyayangimu, aku pasti memaafkanmu, ‘kan?” ucapnya.
Donghae sempat terpana sesaat. Baru kali ini ia mendapati wajah Hyera yang
begitu kuat dari mulai sehari terakhir ini. Tiba-tiba ada desiran kecil
dihatinya, mengapa rasa sesal harus
datang belakangan.
“Kyuhyun sudah datang, aku harus pulang, Hae. Jaga dirimu.
Sampaikan salamku pada Hyukjae jika sudah sadar nanti. Jangan berhenti berdoa
untuknya. Aku akan kembali nanti.” Donghae terdiam mendengarnya. Hyera menoleh
memandang Donghae yang tengah menatapnya lekat, dan sekilas melihat ada kabut
menyuramkan di wajah tampan yang selalu menjadi heroinnya. Selangkah Hyera
mundur, melepaskan pertautan tangannya dengan tangan Donghae yang tidak
menggenggam botol mineral pemberiannya.
“Hye..”
“Hm?”
“Gomawo.”
Untuk satu kata itu. Ia lupa tersenyum. Hyera hanya
mengangguk tipis lalu berjalan dengan langkah yang sedikit terburu-buru
meninggalkan sahabatnya itu. Untuk langkahnya yang semakin jauh, air matanya
malah turun tanpa ia kendali. Keputusan yang cukup fatal, meninggalkan Donghae,
merelakannya…
Ayolah. Bukankah Hyera mati-matian mencintainya?
Untuk alasan lain, egois itu harus. Tapi disaat-saat seperti
ini, Donghae butuh seseorang yang mungkin bisa menyetarakan dirinya dibanding
Hyera. Mungkin lelaki itu jawabannya.
Ia menyerah.
Satu lengan kekar merangkul pundaknya perlahan, membuat
Hyera menoleh ke pemilik lengan tersebut.
“Jadi pulang?” Ya. Seseorang inilah yang ia tunggu sedari
tadi untuk menjemputnya atau hanya sekedar menenangkan hatinya yang tengah
bimbang apakah ia harus menyerah atau
tidak. Jawabannya hanya sebuah anggukan, dan ia berjalan bersama Kyuhyun
keluar rumah sakit. Menjauhi Donghae sejenak, menghentikan waktu dan
menafsirkan mengapa ia begitu bahagia melihat Donghae bahagia, dan mengapa ia
tidak tertawa saat Donghae menangis untuk seorang lelaki.
Bunga mawar putih mungkin bisa menjelaskannya.
**
Hyera mengerjap-ngerjapkan matanya. Sesekali ia merasa sinar
didepannya terlalu silau menabrak retinanya. Perlahan ia bangkit dari tidurnya,
dan merasa janggal. Ia berada didalam mobil dalam posisi tertidur.
Berselimutkan jas sekolahnya yang—miliknya? Bukankah ia sudah membuangnya tadi
pagi?
Hyera mengucek matanya untuk mencari sang pemilik mobil yang
tengah ia tempati, Kyuhyun tidak terlihat oleh sudut pandang matanya. Merasa
kebingungan, Hyera membuka pintu disebelahnya dan dengan cepat ia melompat
seraya memakai jasnya. Suasana diluar dingin sekali, mengingat ini sudah malam.
Ia berada ditaman yang sama. Tempat ia bersenandung ria dengan Donghae saat
masih dalam popok balita, saat masih belajar tentang perkalian, atau saat
belajar mengerti apa itu cinta. Hyera melakukan semuanya ditaman ini.
Gadis ini menutup pintu mobil Kyuhyun tanpa menimbulkan
suara yang terlalu kencang. Ia tak mungkin sendirian disini, maka hal itu yang
membuatnya berani berjalan ketengah taman. Mengulas masa lalu indah tentangnya
dan Donghae.
Bukankah disini pula ia melihat Donghae mencium bibir namja
itu pertama kali?
Hyera duduk dihamparan rerumputan yang tidak tinggi. Melipat
kakinya hingga ia bisa memeluk lututnya untuk sekedar bersandar. Memikirkan
matang-matang terhadap suasana hatinya yang tak tentu arah. Ia kalah, ia salah.
Mencintai Donghae dengan cara membiarkannya bersama seorang namja. Ini terlalu picisan, tapi berbeda
jika seseorang yang dicintai adalah yang mencintai sesama-nya.
Oh ayolah, cemburu itu biasa. Apalagi umurnya yang masih di
tingkat SMA akhir—ucap Hyera tanpa suara. Ia benar-benar berantakan kali ini.
Donghae, Hyukjae, dan kini dirinya yang membelit satu sama lain.
“Hyera-ya.” Hyera menoleh ke belakang, melihat Kyuhyun yang
datang kearahnya lalu duduk berdampingan. Kyuhyun tersenyum melihat Hyera
tersenyum manis padanya. Dengan cepat, Kyuhyun memberikan Hyera satu kotak
makanan lengkap dengan minumannya, membuat Hyera sedikit bingung.
“Kau tertidur dan perutmu itu keroncongan. Jadi aku
membelikanmu fastfood disekitar sini.
Ayo makan, aku juga lapar. Kau belum makan dari siang, ‘kan?” Kata Kyuhyun
menjelaskan. Hyera mencibir sambil memiringkan kepalanya.
“Tahu apa kau tentang perutku yang tidak diisi sejak siang,
huh!”
“Cacing-cacing di perutmu itu memberitahuku, jadi jangan
membantah. Cepat makan!” Timpal Kyuhyun
setelah menunjuk-nunjuk kotak makan yang dipegang Hyera. Sedetik kemudian,
Hyera meluncurkan senyum tawanya dan mendorong pelan lengan Kyuhyun. Ia ingin
tertawa, walau sebenarnya lelucon itu tidak dapat menurunkan rasa marahnya
terhadap dirinya sendiri.
Keberadaan Kyuhyun saat ini membantunya. Ia bisa makan
tenang tanpa suara dan air mata, tentu bersama Kyuhyun yang juga tengah memakan
makanannya ditengah-tengah taman seperti ini.
Setelah Hyera menyelesaikan kegiatan makan malamnya, ia
termenung menatap Namsan Tower yang tak jauh dari pandangannya. Terlihat besar
karena taman yang ia tempati kali ini memang tak jauh dari sana. Kyuhyun sempat
menoleh kearah Hyera, mencari arah matanya menuju kemana.
“Kau mau ke Namsan, Hye?” tanya Kyuhyun. Hyera menoleh pada
Kyuhyun sedikit mengejek.
“Kau pikir aku belum kesana, huh?”
“Kau melihat tower
seperti baru melihatnya saja. Matamu tajam sekali melihatnya.” Jelas Kyuhyun.
Ia mengalihkan pandangannya juga ke tower
warna-warni itu. Cahaya bagian atasnya terlalu indah dipandang jika langit
sedang gelap tanpa bintang seperti malam ini. Romantis.
“Aku pernah sekali menuju kesana, bersama Hyunra onnie,
Donghae, dan Donghwa oppa saat Donghwa oppa belum pergi ke Jepang untuk bekerja
disana. Kami semalaman bercerita diatas sana, tertawa, bercanda, sesekali
membicarakan masa laluku dan Donghae saat kecil yang tidak diketahui oleh oppa
ketika itu.” Hyera yang bercerita tanpa mengalihkan pandangannya, membuat
Kyuhyun semakin antusias mendengar cerita dari gadis disampingnya ini.
“Aku rindu pergi berdua bersama Donghae. Bercerita, atau
hanya sekedar membeli ddeukbokki di kios jalanan, atau membeli eskrim, atau
membeli bunga mawar putih. Kami suka bermain ditaman ini sejak kecil, sejak aku
dan Donghae pindah ke Seoul. Rasanya….mengasyikkan. Dan berbeda.” Hyera
menaikkan kakinya hingga ia menyilangkannya, memutar badannya beberapa derajat
hingga berhadapan dengan Kyuhyun yang sejak kapan pula ia memutar badannya
kearah Hyera.
“Kau tahu rasanya….. Ada substansi aneh saat aku berjalan
bersama Donghae. Seseorang yang selalu ku jaga mati-matian, dan dulu, ia pun
begitu padaku. Protektif berlebihan, namun sangat kurindukan saat ini. Ia
jarang menemuiku, setelah ia bicara padaku bahwa ia mencintai seseorang. Yang
ternyata…. ya…. kau sudah tahu siapa.” Wajah Hyera berubah sesaat, lalu
tersenyum seraya menahan tangis. Ia hanya tak ingin rapuh didepan orang yang
tiba-tiba dipercayainya.
“Didalam sini.. Rasanya sakit. Ia memilih Hyukjae-ssi
sebagai seseorang yang dicintainya, dibandingkan aku yang menyayanginya
setengah mati. Bertahun-tahun aku memberikannya kode, tapi rasanya lebih kelu
saat aku berusaha bicara padanya bahwa aku mencintainya.”
“Kau sempat mengatakannya pada Donghae?” tanya Kyuhyun ragu.
Dan Hyera hanya menggeleng sebagai jawaban paling singkat dan terjelas, “…sama
seperti saat Donghae sulit untuk memberitahuku tentang kekasihnya. Malu dan
takut itu bercampur jadi satu.”
Kyuhyun mendekat menyentuh lengan Hyera yang tertutup oleh
kain hitam jasnya yang lembut, menunggu Hyera bicara lagi, “…Kyu, menurutmu…
apakah salah jika aku menyerah saja?”
“Menyerah untuk apa?”
“Menyerah untuk mencintai Donghae lagi?” Suara parau Hyera
dan tatapannya yang kini sendu membuat Kyuhyun kehilangan kata-kata. Tentu ia
ingin berkata ya, karena ia mulai
mencintai Hyera. Di sisi lain, ia tak ingin Hyera menderita lagi karena sulit
melupakan Donghae.
Kyuhyun bungkam, melihat Hyera yang menatapnya penuh
permintaan, ia berusaha menjawab.
“Tidak. Tidak sepenuhnya salah, Hyera-ya.” katanya, “…cinta
memang rumit. Aku tak tahu rasanya bagaimana, tapi menyukai seseorang selama
bertahun-tahun dan tidak mendapatkannya itu… sulit sekali, Hye… Pada akhirnya,
kau memang harus menyerah.” Tuturnya tulus tanpa egois meminta Hyera beralih
padanya dan melupakan Donghae. Memang benar, ‘kan? Menyerah itu jawaban paling
terbaik ketika suatu hal yang dilakukan sudah sampai klimaks-nya?
“Apakah aku akan menderita setelah melupakan Donghae nanti?”
tanya Hyera retoris, karena Kyuhyun tak tahu harus menjawab apa. Tapi sekelibat
jawaban tersangkut dalam sepasang bibir tipis Kyuhyun, membuatnya merasa
bahagia sendiri.
“Mungkin tidak.” timpal Kyuhyun cepat tanpa berpikir dua
kali, membuat Hyera menatapnya penuh pertanyaan dengan dahi yang mengkerut
hingga menjadi beberapa lipatan, “…kau bisa andalkan aku.”
Selintas, wajah Hyera berubah menjadi semu. Kyuhyun
menyadari bahwa ia terlalu lancang mengutarakan rasanya pada Hyera yang tengah
bimbang. Sedikit ada rasa sesal atas komentarnya barusan.
“Oh ya, siapa yang mencucikan jasku? Wangi sekali? Kau, Kyu?
Ku pikir kau hanya bisa memperkosa PSP-mu, hahaha!” Ucap Hyera sembari tertawa,
membuka percakapan baru. Dengan lega Kyuhyun ikut tertawa tipis, berusaha
mengalihkan pikirannya dari percakapan tadi.
“Bukan aku, adik sahabatku. Dia adalah fans beratku jadi ku
pikir dia mau melakukan apa saja, hahaha!”
“Kau kejam juga, Kyu. Tapi… gomawo.” Hyera tersenyum pada
Kyuhyun, membuat suasana kembali canggung namun lebih tenang dibanding tadi.
Kyuhyun mengangguk tulus, “…akhir-akhir ini kau baik sekali padaku, Kyu. Mau
masuk kedalam masalahku dan Donghae, berbeda dengan dirimu yang ku kenal Selama
empat tahun terakhir menjadi seseorang yang bangga terhadap gelarnya sebagai magnae dikelas dan ketua kelas pula.”
Kyuhyun menggaruk tengkuknya geli, merasa dipuji, “….kau
melupakan hobiku?”
“Ohya. Dan kau bisa-bisanya melupakan seperangkat X-Boxmu
untuk menjemputku tadi. Gomawo.” Kyuhyun menghela nafas, menatap Hyera yang
tersenyum padanya. Saat memandang kedua mata itu, rasanya ia benar-benar
menyadari bahwa substansi aneh dalam perut dan hatinya bersamaan mengeluarkan
gelitik yang menarik. Mata Hyera begitu teduh, lembut.
Ia tidak bisa menemukan kata-kata lain selain
mengutarakannya, egonya terlalu tinggi dibanding apa yang harus ia tahan
disaat-saat seperti ini.
“Kau mencintai Donghae kan?” tanya Kyuhyun, membuat raut
Hyera berubah tanpa jawaban jelas, “…aku juga mencintaimu, Hye.”
Hyera menatap Kyuhyun kosong, lalu menggeleng perlahan.
Membuatnya kembali merenung tentang keinginannya menjauhi Donghae. Memahami
kata-kata Kyuhyun, tepat ditaman ini, membuatnya seperti sedang dejavu sendiri.
Hyera memundurkan dirinya untuk menjauh dari Kyuhyun,
berusaha mengelak.
“Kau percaya padaku, kan? Aku ada untukmu…”
“Aku tidak bisa.”
“Aku bisa menunggu. Kau dapat mencobanya.”
“Aku jatuh padanya.”
“Aku jatuh padamu.”
“Tolong sedikit mengerti aku…”
“Kau yang tak bisa membaca keadaan. Kau sakit karenanya, kau
seperti terjebak didalam hidupnya yang hina. Lantas mengapa kau memilihnya? Aku
bisa memberikan mawar putih yang lebih cantik, lebih banyak, lebih indah dari
pada miliknya yang sudah busuk!”
“AKU MEMANG TERJEBAK!” lalu ia terdiam, mundur selangkah
lagi, “…apa salahku jika aku mencintainya? Dia juga tidak salah mencintai
lelaki bodoh itu!”
Suasana menjadi panas. Tak lagi tenang, apalagi damai. Emosi
keduanya membuncah bersamaan, sehingga tak ada satu pun yang berani berhenti.
Kyuhyun menyerah melawan Hyera masih dibayang-bayangi kisah bersama
Donghae-nya. Salah Kyuhyun yang mengungkit tentang Donghae. Kyuhyun mencoba
mendekati Hyera yang sedari tadi melangkah mundur menjauhi dirinya. Menggenggam
erat satu tangannya.
“Aku bisa menunggumu berubah, Hye…”
**
Hyera menutup pintu kamarnya tanpa tenaga. Ia menutup
matanya yang lelah, bersandar ke dinding pintu yang sudah sempurna tertutup
hingga tak ada seorang pun yang berani macam-macam masuk ke dalam kamarnya.
Sejak Kyuhyun kesini kemarin pun, Hyunra, onnienya sudah kembali bekerja.
Hyera berjalan sambil menggenggam erat satu benda yang
disukainya. Ia terduduk di kursi belajarnya, menghadap jendela kamar yang
memperlihatkan suasana Seoul ketika malam, termasuk Namsan tower yang terlihat
kecil dari sudut pandang matanya. Ia menidurkan kepalanya diatas meja, memeluk
benda yang masih baru dan wanginya menyeruak itu. Tangannya memainkan
buket-buket bunga mawar putih—menghitam dan memikirkan kata-kata Kyuhyun untuk
yang kesekian kalinya.
“Ini caraku membantumu melupakan
kesedihanmu, Hye. Dengan cara ini, kau bisa melupakan kebimbanganmu tentang
menyerah atau terus maju. Kau bisa menyimpan ini bersama sisa-sisa buket mawar
hitam itu, atau kau bisa menaruhnya sebagai pengganti. Bunga mawarnya tetap
sama, ‘kan?” Kyuhyun memaksa Hyera untuk menerima sebuket bunga mawar putih
basah dan segar itu . Pada akhirnya, Hyera mengangguk dan menerimanya, walau
ada sedikit penyesalan. Itu berarti, akan ada bunga mawar lain yang mengisi
relung hatinya selain Donghae, satu-satunya yang bisa menerobos ego Hyera
hingga saat ini.
“Jangan terlalu dipikirkan. Aku
tidak memaksamu mencintaiku, ‘kan? Kau bisa datang kapanpun kau mau. Kalau kau
mau bercerita, datang saja padaku. Itu pun kalau waktunya memadai.” Hyera
tersenyum tipis lalu berbalik mau meninggalkan Kyuhyun yang sudah mengantar
Hyera hingga kedepan rumahnya. Hyera menatap buket bunga mawar putih yang
dipeluknya, sedangkan tangan kanannya sudah menggapai kenop pintu rumahnya.
“Hyera-ah.” panggil Kyuhyun sekali
lagi. Hyera memutar kepalanya.
“Hm?”
“Selamat malam.”
Hyera menaruh buket bunga mawar putih pemberian Kyuhyun
tepat disebelah buket-buket busuk pemberian Donghae. Ia menyadari, Donghae
sudah terlalu lama ada di hatinya, namun tak kunjung memberi respon positif
terhadapnya. Kyuhyun datang dengan dirinya yang berbeda, yang bisa membaca
Hyera saat ia sedang gundah atau susah.
Hyera mengelus sedikit bunga-bunga hitam rapuh itu. Sedetik
kemudian ia mengangkat semuanya kedalam pelukannya, lalu dibuangnya ketempat
sampah. Rasanya sakit—membuang pemberian Donghae. Tapi bukankah ini caranya
merubah diri?
Ya. Ia benar-benar ingin melupakannya. Bukan menghindari
Donghae, hanya menatapnya seperti seorang sahabat ke sahabatnya. Bukan seperti
seorang yeoja yang menginginkan namja, tetapi yeoja yang memperhatikan namja.
Hyera tersenyum menatap luar jendelanya. Ia semakin tenang.
Bukan karena Kyuhyun datang untuknya dan sedang berusaha menggantikan diri
Donghae. Ia tenang karena bisa terlepas dari bayang-bayang Donghae yang
dicintainya sejak kecil, yang sudah memutuskan jalannya sendiri untuk mencintai
namja bernama Hyukjae itu.
Hyera mengambil sebuah kertas kecil diatas meja belajarnya.
Perlahan, ia menuliskan sesuatu yang tulus keluar dari hatinya.
Mawar putih telah datang membawa kebahagiaanBidadari turun dengan senyumanMenyapa seseorang yang datang memberi pelukanLantas, apa artinya melupakan?
This is unintentional injuries love
This is love when the temper changes
The setbacks also expect you to say ‘you don’t believe this is love’…
This is love when the temper changes
The setbacks also expect you to say ‘you don’t believe this is love’…
(This
Is Love – OST Skip Beat)
*
*
SUCKISH!!!! sorry i posted now bcs i'm so upset right now. problems are appearing my life nowanight........i dont wanna push you to comment this but i need someone who wanna cheer me up [like yesterday but provider is so fucking damn] and sadly, my tourguide in aussie only come when they have problems and they wont hear me if i talk.
i prepared special scene from this but....thats making me frustated.......i feel empty right now [ah shit HAEHYUKTEUKJUNHO HELP MEEEEEE!!!!!!!!]
i beg you sooooo much to cheer me :( please give me 'gwaenchana' after that, i give you my love more much.
thanks.
p.s : do you wanna to give me teuk's ficlet? :p