White Rose [Chapter 5/7]


Karena mencintai seharusnya membahagiakan, maka aku mencintaimu.—Cho Kyuhyun

**

“AAAAARGH!!” Ia membanting jas yang kotornya ke pinggir danau, bahkan hampir hanyut. Aku berjalan kearahnya, dia masih tidak dapat mengontrol dirinya. Perlahan namun pasti, ia membuka kemejanya hingga meninggalkan kaos putihnya. Ia melempar semua pakaian yang tadi dipakainya seperti sampah. Ia benci keadaan ini—begitulah yang ku ketahui.

“AAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!” Dia kembali berteriak, lalu menumpu tubuhnya. Sungguh, untuk ke sekian kali aku ingin memeluknya, membiarkan ia membagi kesedihannya yang berlipat itu. Namun rasanya kakiku lebih ingin tetap berdiri disini, menatapnya yang hening menangis dalam hati, menjambak rambutnya sendiri, berteriak tak jelas namun alih-alih itulah yang digunakannya untuk menghidupi lagi dirinya.

Ia hilang, dirinya yang dulu telah hilang. Walau bukan aku yang terdekat, tapi aku yang selalu mendekat. Begitulah caraku mengetahuinya, yang pelan-pelan terbuka bahwa ia mencintainya.

Jiwaku terasa kuat. Lalu kulangkahkan kakiku ke arahnya, yang berlutut dipinggir danau yang tak jauh dari sekolah kami. Kulepaskan jas almamaterku untuk menutupi bahunya yang menggigil. Ia menangis, menumpu wajahnya di lututnya yang tertekuk keatas.

“Sudah Hye…” ucapku, setelah mengelus lembut bagian belakang kepalanya. Ia tidak merespon apapun, hanya terus menangisi hal yang sudah ku mengerti dan sudah sangat jelas. Semua mata tertuju padanya, pada Donghae. Semua telinga mengarah padanya dan Donghae. Dan sekarang, semua bibir membicarakan hal yang sama. Ku pikir itu sudah cukup jelas menyakitkan mereka berdua, sepasang sahabat yang ternyata sedang jatuh cinta.

Hyera pada Donghae-nya, dan Donghae pada lelakinya yang entah siapa.

Aku sudah tak peduli-lah tentang siapa kekasih Donghae. Benar ucap Hyera, cinta tak pantas dipandang hina. Bahkan aku pun yang menyayangi Hyera, jika ia seorang gadis bad sekalipun, mungkin aku akan tetap membelanya. Sama seperti yang dilakukan Hyera, Donghae bukanlah sosok yang pantas dipandang seperti itu.

“Harusnya aku ikut melemparinya dengan telur…” katanya setelah membuka mulut, menyeka air matanya yang terus jatuh dari kelopak mata gelapnya, “…harusnya ku lempari dia dengan semua buket mawar putihku.” Lanjutnya lagi.

“Itu tidak akan merubah keada—“

“Ne, aku tahu. Dia akan membenciku, menjauhiku, memilih kekasihnya. Dan tahun-tahunku bersamanya sia-sia, percuma. Aku sudah tahu, Kyu…”

“Hye—“

“Semua….semuanya….usai.”

“Belum Hye, mungkin Donghae hanya—“

“HANYA APA?! HANYA MENCIUM NAMJA! HANYA MENCINTAI NAMJA DIBANDING AKU!” Tidak ada lagi wajah tenangnya, bahkan seulas senyum tipis dari bibirnya. Hanya guratan geram, murka, dan garis sendu dibawah kelopak dua matanya. Ia berdiri. Memberikan jasku dan dijatuhkannya perlahan. Ia melangkah menjauh. Lantas kukejar ia, dengan rengkuhan tangan kananku yang mendapatkan lengannya.

“Hyera… Ayo menangis lagi….” Kataku. Matanya merambat lurus kearahku. Gugup dan ragu menjadi satu, ketika ia melepaskan tanganku yang ada di lengannya.

“Aku ingin sendiri.”

“Tapi Hye—“ Aku kembali mencengkram tangannya yang melemah. Ruak amis tubuhnya bekas sampah-sampah dari semua teman-temanku itu masih melekat. Aku tak peduli, itu bukan sesuatu yang harus dipandang jijik. Ia melemparkan pandangannya ke tanah. Seperti memohon pada cacing-cacing dibawah kakinya.

Aku yang merasakan tangannya tak lagi memberontak, ku lepaskan dengan gontainya, tanpa kata keras. Ia mengangkat kepalanya, setelah aku menatapnya lebih dalam. Mencari sisa kekuatan.

“Gomawo, Kyuhyun-ah.” desisnya, lebih seperti bisikan lembut. Kini ia benar-benar pergi. Berlari menuju mobilnya.

Lalu untuk apa aku mengejarnya, jika matanya hanya tertuju pada dia, yang memang hina?

Aku juga percuma.

**

Other’s Side

“Sayang…” Ia berjalan cepat menghampiri sosok yang sudah berbaring lemah disalah satu ranjang rumah sakit berwarna putih. Melirik kearah alat infus yang terpasang dilengan kekasihnya, kemudian dialihkannya pandangannya tersebut untuk menatap sosok yang lemah itu tepat di manik mata, “gwaenchana?”

Tangannya beralih ke kepalanya. Dekecup dahi berwarna putih susu itu dengan lembut. memberi kekuatan lebih untuk bertahan.

“Gwaenchana. Hanya sedikit sakit dibagian kepala. Seperti dipukul, tapi tidak mengapa. Sekarang membaik.” Lelaki manis itu tersenyum, lalu menekan lembut tangan kekasihnya yang menurutnya wajah itu tidak familiar dimatanya. Wajah Donghae sulit diterka, sedang sakit, seperti sedang lelah, hanya saja ia tersenyum. Tidak. Dimatanya, Donghae mudah sekali ditebak raut wajah dan artinya.

“Kau sendiri?” tanyanya lebih lemah lagi.

“Aku..” mulutnya kelu, rasanya sulit untuk jujur jika sudah menyangkut hal ini. Hal paling sensitif yang mereka berdua hindari selama berhubungan cinta, “…aku…”

“Ada apa denganmu?”

“Me—mereka sudah tahu.”

“Tahu?”

“Semua.”

“Apa saja?”

Respon Donghae berubah menjadi dingin. Entah setan bentuk apalah yang sedang ada ditubuhnya. Ia berpeluh, wajahnya frustasi. Untuk sekali gerakan, ia mencengkram kepalanya sendiri, mengacak rambutnya geram, “Semuanya, sayang. Semuanya. Aku. Kau. Hyera. Sahabat kelasku, Kyuhyun. Satu kelasku, satu sekolahku. SEMUA! SEMUANYA!” Donghae mengacak rambutnya frustasi, merasa tak tahan lagi.

Donghae membara. Suasana semakin panas. Kekasihnya tak tahu lagi bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskan apa yang ia rasakan. Karena sudah terlalu sakit ia menahan darah minim di pembuluhnya, kini semua luka berpindah membuat lubang tepat ditengah hatinya. Rasa sesak memberatkan nafas mereka berdua. Takut merayu jantung untuk berdebar cepat, lancang. Pikiran mereka melayang berarah sama. Wajah lelaki yang kini sedang menatap Donghae takut berusaha duduk meluruskan punggungnya.

“Sayang, sayang…” kata Donghae menyadari sedikit perubahan dari kekasihnya yang terlihat ingin beranjak pergi dari singgasananya.

“Aku mau pergi.”

“Eoddiya? Kau masih—“

“Aku yang menyakitimu kan? Merubah semuanya? Sudah ku bilang ini akan terjadi, Donghae-ssi.” Tubuhnya terangkat pelan. Donghae mendorong dada kekasihnya itu mundur, namun sang pemilik dada tersebut memberontak beranjak.

“AKU INGIN PERGI DARI SINI, DONGHAE!”

“KAJIMA! ANDWAE!”

“SEMUANYA KARENA AKU, HAE! SEMUA!”

“JANG—ARGH!” Alat infus yang terpasang di pergelangan tangannya hampir putus jika tangan Donghae tidak mendorong tubuh lelakinya kebelakang dengan cepat, “andwae. Andwae.” Ucap Donghae menggeleng keras.

“ARGH.” Lenguhnya. Bayang-bayang masalah dan keadaan kritis sang kekasih kini menjelma sebagai hantu diotaknya. Berputar menari membuatnya bingung sendiri. Donghae berusaha berlari mengambil jarak cukup banyak dari kekasihnya yang kini menahan sakit yang kelihatannya cukup parah. Donghae menuju kearah luar untuk bertemu dengan sang suster perawat, mencari pertolongan.

Ia kecolongan. Ia tak tahan. Satu sisinya ia menderita karena kini kepercayaannya menyurut di sekolah. Ia bukan gay, sungguh. Hanya mencintai seorang lelaki, okay, hanya mencintai sahabatnya yang ia anggap lebih. Ia bukanlah seseorang yang menginginkan anak dari lelaki, tidak, sungguh bukan itu alasannya mencintai kekasihnya yang sekarang.

Atau ia dibutakan—mungkin. Ia tak melihat ke sekeliling.

Satu hal lagi adalah, ya, ia mencintainya. Lalu apalagi? Bagaimana lagi?

Tinggal selangkah lagi ia dapat menuju meja perawat, langkah tap-tap keras terlalu terdengar ditelinganya. Ia ragu untuk membalikkan badan, hanya tangis itu sudah cukup dapat ia tebak dengan pasti. Ia berbalik, dan mendapatinya yang sedang menangis, terseok, dan membiarkan darah setetes-demi-setetes jatuh dari punggung tangannya.

Donghae terlambat. Ia sudah masuk ke dalam elevator dengan mudahnya.

Semuanya yang sempat ia susun dalam kepala seketika menyusut, luruh menjadi remah-remah berkeping. Ia berteriak dengan suaranya yang kini tinggal desahan saja, sambil berlari dan hampir tersandung di tangga darurat yang sedang ia pijak. Sesekali ia benar terjatuh, karena terlalu kencang.

Tujuh lantai dituruninya, menghabiskan seluruh tenaganya.

Matanya mengekor mencari pusat yang ia cari, seperti sedang mendeteksi. Lelaki berambut coklat acak dan jubah biru rumah sakitnya itu sudah sampai didepan rumah sakit, hampir menuju gerbang.

“HYUK!”

Lelaki yang dipanggil itu tidak menoleh sekali pun. Hanya mengikuti apa yang ada dipikirannya, menjauhi Donghae, demi mereka berdua yang sudah sering dipandang hina. Bukan untuk mengikuti hatinya, yang ingin terus ada untuk Donghae, satu-satunya orang yang bisa diandalkannya, mengerti ia, bahkan mau menemaninya hingga mati sekali pun.

Pikirannya terlalu jauh melanglang buana. Tubuhnya yang minim dengan darah itu semakin menyusut jatuh diaspal hitam panas. Pinggangnya remuk, kepalanya terbentur sempurna.

Baru saja ia berlari, menghindar, mobil besar disebelah kirinya menabrak tubuh kecilnya. Donghae melihatnya dengan jelas, terbelalak.

“HYUKKIE!!!!”

Mobil itu pasti tidak sengaja, karena kekasihnya itu memang menerobos jalanan yang sedang penuh dengan mobil-mobil yang berjalan kencang. Seburuk-buruknya kemungkinan, ia akan kehilangannya. Kehilangan satu lagi seseorang yang mewarnai hidupnya. Lee Hyuk Jae, kekasihnya. Sekali ia berpikir, saat ia melihat wajah Hyukjae yang pucat dengan air mata bercampur darah. Semua teriakan dan pandangan tertuju pada mereka yang kini terduduk di tengah jalan. Donghae segera mengeluarkan satu benda dari sakunya, satu-satunya cara agar ia tidak kehilangan kemungkinan paling berharga tersebut, kehilangan.

“Hyera.. Bantu aku.. Ku mohon..”

**

Dengan mudahnya ia berlari menuju lantai tujuh, ruang insentif. Hyera mencari celah dari kerumunan orang-orang yang menghalanginya di jalan lorong. Setengah berlari, setengah berjalan, dan sisanya ia gunakan untuk menahan tangis. Tenaganya terkuras habis untuk hari ini. Untuknya, untuk sesuatu yang sia-sia karena segalanya berjudul Donghae, seseorang yang menelepon hanya karena ia butuh Hyera.

Bodohlah.

Dari tempatnya berdiri sekarang, untuk membetulkan ritme nafasnya yang tak beraturan karena pecah tangis dan mengendarai mobil dengan kilat, ia bisa melihat lelaki yang dicintainya itu menyusut didinding hingga terduduk menutup kedua wajahnya. Pandangannya kosong mengarah keatas. Hyera tak berani mendekat. Ia tak ingin bertemu dengan Donghae lagi.

Lalu mengapa ia ingin datang?

“yob—yobseyeo?....” suaranya terbata-bata. Melihat caller ID di ponselnya saja ia sudah ingin membuang ponsel ditangannya ke dinding hingga rusak, kini telinganya harus terpaksa mendengar suara itu lagi. Ia tak dapat membenci, ia terlalu mencintai. Maka dari itu, ia tak menjawab.

“Hyera…” suaranya memohon, tangisnya ia tahan walau aliran air mata it uterus keluar tanpa suara, “bantu aku…” lanjutnya lagi. Ia hendak menjawabnya, namun suara lelaki diseberang sana memaksanya untuk terus mendengarnya, “…ku mohon.”

Ia menoleh kearah tumpukan bunga-bunga busuk diatas mejanya. Sudah terlalu lama ia menyimpannya. Bunga mawar putih yang Donghae berikan untuk kekasihnya, namun berhasil jatuh ketangannya. Umurnya bisa dihitung cukup lama dari warnanya yang menghitam ke tangkai dan kelopak. Itu masih jauh dari lama umur kasih cintanya pada lelaki itu.

Semuanya berjalan singkat. Hingga Hyera menyadari lelaki itu terus memohon ditengah-tengah suara bising yang menenggelamkan suara Donghae diluar sana.

“Kau dimana?” jawab bibirnya diluar kendali.

Lalu Hyera berjalan mendekat. Selangkah-demi-selangkah, hingga Donghae menoleh kearahnya. Sedetik kemudian, ia menghambur ke pelukan Hyera. Menangis sejadi-jadinya.

Pelukan ini yang ia suka, yang membuatnya kecanduan setengah mati, hingga ia bisa berdiri hingga sekarang, ditengah sebuah hal yang semua orang benci yang disebut cemburu.

“Hye…” panggilnya ditengah-tengah tangisnya. Tangan Hyera yang menggantung disebelah pinggang beralih menuju kepala Donghae. ia menutup kedua matanya, merasakan hangat badan Donghae yang sejak dulu ia rindukan.

“Ae..” Cinta.

**

Tidak ada yang salah di dunia ini
Tuhan memberi kebahagiaan
Kesedihan
Semuanya bisa terangkum dalam satu hal, Ae

Wujud dirimu terlalu jelas
Ku sarankan kau menjauh saja, atau harus aku?

Sudahlah
Langkahku akan kembali padamu
Bagaimana pun jauhnya jarak antara aku dan kau

Ia sudah berulang kali membacanya. Berulang kali juga ia berpikir. Ini tulisan sederhana, mengapa dibuat bingung? Tanyanya dalam hati. Mungkin karena pikirannya terlalu penuh. Kyuhyun menghela nafasnya panjang. Ia baru menyadari, akhir-akhir ini ia tidak datang kesini untuk bertanding combat-strike di x-box bersama sahabatnya. PSP portable yang setia ditasnya-pun jarang disentuhnya. Ya, ini pengaruh apa, mungkin jawabannya hanya Hyera.

Dadanya sesak, ketika Hyera pergi menjauh darinya, karena mencintai Donghae yang sudah jelas-jelas salah disemua mata.

“Hey brotha.” Seorang lelaki membuyarkan lamunannya, membuat Kyuhyun dengan segera meremas kertas yang sedikit basah hingga benar-benar rusak, “…Byunghee.”

Lelaki bernama Byunghee itu hanya merespon dengan menepuk dua kali pundak Kyuhyun. Ia menarik sebuah kursi yang tak jauh dari dirinya untuk didudukinya dekat dengan Kyuhyun, “…tumben kau kemari. Biasanya hari minggu datang hanya untuk melawanku. Sekarang sebulan saj—“

“Jangan membuatku terlihat seperti fucker gamer, Byunghee!” ucap Kyuhyun yang sengaja merubah suasana menjadi lebih hangat. Byunghee tertawa puas hingga Kyuhyun mencibirnya dengan pukulan keras di lengan Byunghee. Ia hanya benci saja, gelarnya serasa main-main. Untuk apa ia si magnae kelas, si kecil yang pintar sekali dalam ilmu matematis dan sejenisnya itu ternyata ketahuan fucker gamer? Oh shit juga kan, itulah yang dipikir Kyuhyun. Menurutnya wajar saja sih, ia hanya tidak mau kelihatan puas saat bermain combat-strike didepan teman-temannya. Terlihat jauh dari nilai 100 dalam ujian, pabo choreom.

“Kau memang fucker gamer. Kau bisa bercinta bahkan menikah dengan seperangkat X-Box dan enam laptop starcraft-mu. Atau bahkan tahun depan aku sudah mendapatkan keponakan dari X-Box dan kau.”

“Jangan sampai kau, si Byunghee, manusia yang katanya punya psikologis tinggi ini kulempar ke jurang dan kusebarkan informasinya bahwa kau adalah—“

“YAK! Oke, aku menyerah. Jangan beritahu itu.” Byunghee mendesah keras-keras. Merasa malu akan dirinya yang selalu kalah melawan kyuhyun si mulut pedas. Sesekali Kyuhyun meraba perutnya yang sakit karena tertawa. Sedetik kemudian, Byunghee mengancam Kyuhyun dengan sandal rumahnya yang sudah sedikit lagi menyapa lembut pipi Kyuhyun yang tirus, “…haha…oke. Ampun, yak. BAWA SANDALMU PERGI, BAU SEKALI!”

Byunghee hanya menyengir, pertanda percakapan tentang saling memojokkan ini selesai. Byunghee kembali menoleh kearah pintu depan rumahnya yang sudah tertutup. Mengingat sesuatu yang belum ia tanyakan sedari tadi, “…jadi untuk apa kau kesini?”

Kyuhyun mendengus, “…membawakan Hyerim eskrim, dan memintanya mencucikan baju seseorang.”

Jawaban Kyuhyun membuat Byunghee mengerutkan dahi. Ia turun dari kursinya menuju meja makan, mengambil dua buah gelas dan sekotak sirup siap minum dari lemari esnya, tanpa melupakan pembicaraannya yang sempat dipertanyakannya, “…baju siapa?”

“Adalah. Gadis.” Ucap Kyuhyun sambil kembali menatap kertas lusuh tak bernyawa itu ditangannya. Rasanya, ia selalu jatuh pada kertas-kertas tulisan Hyera. Aneh, tapi memang begitulah. Tanda-tanda mencintai Hyera, mungkin muncul, walau masih sedikit, tapi tak dapat hilang.

“Mr. Cho ini sedang jatuh cinta?” kata Byunghee menyengir, saat menyodorkan Kyuhyun segelas orange juice yang sudah tersedia diatas meja.

Kyuhyun mengetuk-ketukkan jarinya perlahan. Setelah itu, muncul sekelibat ide dari otaknya, “…Byunghee-ah. Bukannya kau si pemilik IQ tertinggi dikelas saat SMP?”

Byunghee menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal. Berusaha untuk tidak gugup, ia hanya sedikit malu saja, “..well. Makanya gelarku berubah menjadi seorang mahasiswa psikolog dan calon psikolog handal Korea Selatan. Keren, ‘kan?” katanya menggebu. Kyuhyun tidak peduli. Hanya menyodorkan kertas yang dipegangnya sedari tadi pada Byunghee.

“Gadis itu yang menuliskannya. Kau bisa tebak maksudnya?” Byunghee mendengus terang-terangan. Matanya terlihat kosong namun sebenarnya, ia sedang berkonsentrasi. Kyuhyun hanya bisa melihat sirat mata Byunghee—sahabat sejak kecilnya itu sedang kebingungan. Yah, Byunghee yang IQ-nya tinggi saja bingung, apalagi Kyuhyun. Begitulah matematisnya.

“Ini mudah, Kyu…” Katanya saat sempat termenung sebentar, lalu melirik kyuhyun tanpa ekspresi, “…gadis ini sedang patah hati. Ia tidak mau jauh dari kekasihnya atau seseorang yang dicintainya. Ya ampun, ini mudah sekali, Kyuhyun-ah.”

“Ne, otakku sedang sakit jadi mungkin sedikit lemah hari ini.” Tuduh Kyuhyun pada dirinya sendiri, itu sudah biasa terjadi ketika Byunghee sudah menatapnya dengan cibiran bahwa Kyuhyun memang bodoh tapi alibinya luar biasa.

“Oh, aku harus segera pergi, Kyu. Jadwalku ke rumah sakit bertemu dengan dokter psikolog..” Jelasnya sambil turun dari kursinya, mengambil tas ranselnya yang memang sudah dipersiapkan sejak lama. Mungkin.. “Perlu kau ketahui, aku asistennya sekarang.”

“Jangan bilang padaku kalau dokter itu cantik.” Goda Kyuhyun.

“Memang cantik.” Byunghee berubah haluan pada sepasang sepatunya. Menerawang ke mata Kyuhyun yang tertawa dan terus mencibirnya. Seperti sedang benar-benar bertanya tentang isi otak Byunghee,”..ya.. aku tahu maksud matamu itu Kyuhyun-ah.”

“Jadi bagaimana?”

Mata Byunghee memicing lucu, setelah menampilkan aegyo dadakannya didepan Kyuhyun, “Dia memang menggoda.”

“Eits, Byunghee sedang jatuh cinta.” Timpalnya sama seperti saat Byunghee menggodanya beberapa saat yang lalu. Tawa mereka kembali pecah, hingga Byunghee membuka mulutnya lagi untuk menyebutkan hal yang lain, “..okay. Kau memang bisa datang kapan saja jika kau mau. Rumahku selalu terbuka untukmu, terutama Hyerim yang mengejarmu. Tapi untuk satu dan lain hal, jangan buat Hyerim sebagai budakmu. Semenariknya dirimu pun, dia tetap adikku. Arra?”

Kyuhyun tersenyum mendekat kearah X-Box Byunghee yang berada disisi ruangan, “..arra tuan Psikolog.”

“Okay. Aku pergi dulu, anny—“

“Hey, brotha!”

“Wae?”

“Kau masih mengoleksi video yadong straight?”

“YAK! JANGAN SEBUT-SEBUT ITU DISINI BODOH!” Byunghee mengerutkan dahinya geram, sedangkan Kyuhyun tetap tertawa kencang tanpa inosen yang jelas bahwa ia berhasil mempermainkan sahabat SMP-nya itu. Byunghee yang mati-matian memendam amarah—tawanya itu mendobrak pintu dengan keras dari luar. Bukankah ia sedang dikejar deadline dirumah sakit?

Kyuhyun menyadari bahwa hal yang bodoh itu ia tertawakan sendiri. Semakin lama ia menatap X-Box didepannya, semakin ia bingung juga mengapa rasanya malas untuk menyentuh benda hitam penuh game kesukaannya itu. Bahkan tidak ada secuil pun nafsu untuk memainkan combat-strike level 20 yang biasa ia mainkan setiap datang ke rumah Byunghee.

Sesaat ia tampak bingung sendiri antara harus mengurus kertas puisi penuh rahasia itu atau harus memperkosa X-Boxnya. Mungkin baru gadis ini yang bisa membuatnya beralih dari dunia visualnya itu, Hyera.

Kyuhyun memikirkan sesuatu yang ia sadari betapa—mengapa Hyera bisa membuatnya seperti ini. Ia beranjak dari tempatnya semula, membuka pintu dan berlari keluar. Mendapati mobil Byunghee masih terparkir rapi didepan garasi, dan pemiliknya baru bersiap memakai sabuk pengaman, Kyuhyun bergegas menujunya.

“Byunghee-ah!” sapanya dengan nada cukup tinggi. Nafasnya memang tidak tersengal, tapi wajahnya menandakan bahwa ia sedang kebingungan setengah mati.

“Hm?”

“Apa…” Kyuhyun menggaruk-garuk tengkuknya, seraya memperlihatkan kertas yang ia selidiki bersama Byunghee itu, seperti FBI memang. Ini menyangkut Kyuhyun kedepannya, bukan?

“Apa gadis yang menulis ini bisa beralih pada orang lain?” Kyuhyun melihat raut wajah Byunghee yang tidak dimengertinya. Namun perlahan, Byunghee mengangguk.

“Asal orang lain itu bisa lebih baik dari orang yang ia sebut-sebut di puisinya itu.”

‘Lalu aku harus melakukan apa, Hyera?’

*

*

*

gatau mau ngomong apa lagi bete bangeeeet udah kabur-kaburan sama fajar carfreeday eh taunya superduperunluck-__- setelah kejadian beda kota, beda negara, beda benua dan sekarang kejadian beda provider, hidup aku udah cukup keren ckckck mungkin hari ini lagi beranjing hfffttt keseeeeel-__-

gak minta apa-apa pretty please kalo bisa long comment lah gapapa gak jelas juga-_-

p.s : ada byunghee karna ini pesanan kaolv. dan disponsori oleh telkomsel yang minta dicabik-cabik dan bikin aku asah golok *trims

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!