White Rose [Chapter 5/7]
Karena mencintai seharusnya
membahagiakan, maka aku mencintaimu.—Cho Kyuhyun
**
“AAAAARGH!!” Ia membanting jas
yang kotornya ke pinggir danau, bahkan hampir hanyut. Aku berjalan kearahnya,
dia masih tidak dapat mengontrol dirinya. Perlahan namun pasti, ia membuka
kemejanya hingga meninggalkan kaos putihnya. Ia melempar semua pakaian yang
tadi dipakainya seperti sampah. Ia benci keadaan ini—begitulah yang ku ketahui.
“AAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!” Dia
kembali berteriak, lalu menumpu tubuhnya. Sungguh, untuk ke sekian kali aku
ingin memeluknya, membiarkan ia membagi kesedihannya yang berlipat itu. Namun
rasanya kakiku lebih ingin tetap berdiri disini, menatapnya yang hening
menangis dalam hati, menjambak rambutnya sendiri, berteriak tak jelas namun
alih-alih itulah yang digunakannya untuk menghidupi lagi dirinya.
Ia hilang, dirinya yang dulu
telah hilang. Walau bukan aku yang terdekat, tapi aku yang selalu mendekat.
Begitulah caraku mengetahuinya, yang pelan-pelan terbuka bahwa ia mencintainya.
Jiwaku terasa kuat. Lalu
kulangkahkan kakiku ke arahnya, yang berlutut dipinggir danau yang tak jauh
dari sekolah kami. Kulepaskan jas almamaterku untuk menutupi bahunya yang
menggigil. Ia menangis, menumpu wajahnya di lututnya yang tertekuk keatas.
“Sudah Hye…” ucapku, setelah
mengelus lembut bagian belakang kepalanya. Ia tidak merespon apapun, hanya
terus menangisi hal yang sudah ku mengerti dan sudah sangat jelas. Semua mata
tertuju padanya, pada Donghae. Semua telinga mengarah padanya dan Donghae. Dan
sekarang, semua bibir membicarakan hal yang sama. Ku pikir itu sudah cukup
jelas menyakitkan mereka berdua, sepasang sahabat yang ternyata sedang jatuh
cinta.
Hyera pada Donghae-nya, dan
Donghae pada lelakinya yang entah siapa.
Aku sudah tak peduli-lah
tentang siapa kekasih Donghae. Benar ucap Hyera, cinta tak pantas dipandang
hina. Bahkan aku pun yang menyayangi Hyera, jika ia seorang gadis bad
sekalipun, mungkin aku akan tetap membelanya. Sama seperti yang dilakukan Hyera,
Donghae bukanlah sosok yang pantas dipandang seperti itu.
“Harusnya aku ikut melemparinya
dengan telur…” katanya setelah membuka mulut, menyeka air matanya yang terus
jatuh dari kelopak mata gelapnya, “…harusnya ku lempari dia dengan semua buket
mawar putihku.” Lanjutnya lagi.
“Itu tidak akan merubah keada—“
“Ne, aku tahu. Dia akan
membenciku, menjauhiku, memilih kekasihnya. Dan tahun-tahunku bersamanya
sia-sia, percuma. Aku sudah tahu, Kyu…”
“Hye—“
“Semua….semuanya….usai.”
“Belum Hye, mungkin Donghae
hanya—“
“HANYA APA?! HANYA MENCIUM
NAMJA! HANYA MENCINTAI NAMJA DIBANDING AKU!” Tidak ada lagi wajah tenangnya,
bahkan seulas senyum tipis dari bibirnya. Hanya guratan geram, murka, dan garis
sendu dibawah kelopak dua matanya. Ia berdiri. Memberikan jasku dan
dijatuhkannya perlahan. Ia melangkah menjauh. Lantas kukejar ia, dengan
rengkuhan tangan kananku yang mendapatkan lengannya.
“Hyera… Ayo menangis lagi….”
Kataku. Matanya merambat lurus kearahku. Gugup dan ragu menjadi satu, ketika ia
melepaskan tanganku yang ada di lengannya.
“Aku ingin sendiri.”
“Tapi Hye—“ Aku kembali
mencengkram tangannya yang melemah. Ruak amis tubuhnya bekas sampah-sampah dari
semua teman-temanku itu masih melekat. Aku tak peduli, itu bukan sesuatu yang
harus dipandang jijik. Ia melemparkan pandangannya ke tanah. Seperti memohon
pada cacing-cacing dibawah kakinya.
Aku yang merasakan tangannya tak
lagi memberontak, ku lepaskan dengan gontainya, tanpa kata keras. Ia mengangkat
kepalanya, setelah aku menatapnya lebih dalam. Mencari sisa kekuatan.
“Gomawo, Kyuhyun-ah.” desisnya,
lebih seperti bisikan lembut. Kini ia benar-benar pergi. Berlari menuju
mobilnya.
Lalu untuk apa aku mengejarnya,
jika matanya hanya tertuju pada dia, yang memang hina?
Aku juga percuma.
**
Other’s Side
“Sayang…” Ia berjalan cepat
menghampiri sosok yang sudah berbaring lemah disalah satu ranjang rumah sakit
berwarna putih. Melirik kearah alat infus yang terpasang dilengan kekasihnya,
kemudian dialihkannya pandangannya tersebut untuk menatap sosok yang lemah itu
tepat di manik mata, “gwaenchana?”
Tangannya beralih ke kepalanya.
Dekecup dahi berwarna putih susu itu dengan lembut. memberi kekuatan lebih
untuk bertahan.
“Gwaenchana. Hanya sedikit sakit
dibagian kepala. Seperti dipukul, tapi tidak mengapa. Sekarang membaik.” Lelaki
manis itu tersenyum, lalu menekan lembut tangan kekasihnya yang menurutnya
wajah itu tidak familiar dimatanya. Wajah Donghae sulit diterka, sedang sakit,
seperti sedang lelah, hanya saja ia tersenyum. Tidak. Dimatanya, Donghae mudah
sekali ditebak raut wajah dan artinya.
“Kau sendiri?” tanyanya lebih
lemah lagi.
“Aku..” mulutnya kelu, rasanya
sulit untuk jujur jika sudah menyangkut hal ini. Hal paling sensitif yang
mereka berdua hindari selama berhubungan cinta, “…aku…”
“Ada apa denganmu?”
“Me—mereka sudah tahu.”
“Tahu?”
“Semua.”
“Apa saja?”
Respon Donghae berubah menjadi
dingin. Entah setan bentuk apalah yang sedang ada ditubuhnya. Ia berpeluh,
wajahnya frustasi. Untuk sekali gerakan, ia mencengkram kepalanya sendiri,
mengacak rambutnya geram, “Semuanya, sayang. Semuanya. Aku. Kau. Hyera. Sahabat
kelasku, Kyuhyun. Satu kelasku, satu sekolahku. SEMUA! SEMUANYA!” Donghae
mengacak rambutnya frustasi, merasa tak tahan lagi.
Donghae membara. Suasana semakin
panas. Kekasihnya tak tahu lagi bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskan apa
yang ia rasakan. Karena sudah terlalu sakit ia menahan darah minim di
pembuluhnya, kini semua luka berpindah membuat lubang tepat ditengah hatinya.
Rasa sesak memberatkan nafas mereka berdua. Takut merayu jantung untuk berdebar
cepat, lancang. Pikiran mereka melayang berarah sama. Wajah lelaki yang kini
sedang menatap Donghae takut berusaha duduk meluruskan punggungnya.
“Sayang, sayang…” kata Donghae
menyadari sedikit perubahan dari kekasihnya yang terlihat ingin beranjak pergi
dari singgasananya.
“Aku mau pergi.”
“Eoddiya? Kau masih—“
“Aku yang menyakitimu kan?
Merubah semuanya? Sudah ku bilang ini akan terjadi, Donghae-ssi.” Tubuhnya
terangkat pelan. Donghae mendorong dada kekasihnya itu mundur, namun sang
pemilik dada tersebut memberontak beranjak.
“AKU INGIN PERGI DARI SINI,
DONGHAE!”
“KAJIMA! ANDWAE!”
“SEMUANYA KARENA AKU, HAE!
SEMUA!”
“JANG—ARGH!” Alat infus yang
terpasang di pergelangan tangannya hampir putus jika tangan Donghae tidak
mendorong tubuh lelakinya kebelakang dengan cepat, “andwae. Andwae.” Ucap
Donghae menggeleng keras.
“ARGH.” Lenguhnya. Bayang-bayang
masalah dan keadaan kritis sang kekasih kini menjelma sebagai hantu diotaknya.
Berputar menari membuatnya bingung sendiri. Donghae berusaha berlari mengambil
jarak cukup banyak dari kekasihnya yang kini menahan sakit yang kelihatannya
cukup parah. Donghae menuju kearah luar untuk bertemu dengan sang suster
perawat, mencari pertolongan.
Ia kecolongan. Ia tak tahan.
Satu sisinya ia menderita karena kini kepercayaannya menyurut di sekolah. Ia
bukan gay, sungguh. Hanya mencintai seorang lelaki, okay, hanya
mencintai sahabatnya yang ia anggap lebih. Ia bukanlah seseorang yang
menginginkan anak dari lelaki, tidak, sungguh bukan itu alasannya
mencintai kekasihnya yang sekarang.
Atau ia dibutakan—mungkin. Ia
tak melihat ke sekeliling.
Satu hal lagi adalah, ya, ia
mencintainya. Lalu apalagi? Bagaimana lagi?
Tinggal selangkah lagi ia dapat
menuju meja perawat, langkah tap-tap keras terlalu terdengar ditelinganya. Ia
ragu untuk membalikkan badan, hanya tangis itu sudah cukup dapat ia tebak
dengan pasti. Ia berbalik, dan mendapatinya yang sedang menangis,
terseok, dan membiarkan darah setetes-demi-setetes jatuh dari punggung
tangannya.
Donghae terlambat. Ia sudah
masuk ke dalam elevator dengan mudahnya.
Semuanya yang sempat ia susun
dalam kepala seketika menyusut, luruh menjadi remah-remah berkeping. Ia
berteriak dengan suaranya yang kini tinggal desahan saja, sambil berlari dan
hampir tersandung di tangga darurat yang sedang ia pijak. Sesekali ia benar
terjatuh, karena terlalu kencang.
Tujuh lantai dituruninya,
menghabiskan seluruh tenaganya.
Matanya mengekor mencari pusat
yang ia cari, seperti sedang mendeteksi. Lelaki berambut coklat acak dan jubah
biru rumah sakitnya itu sudah sampai didepan rumah sakit, hampir menuju
gerbang.
“HYUK!”
Lelaki yang dipanggil itu tidak
menoleh sekali pun. Hanya mengikuti apa yang ada dipikirannya, menjauhi
Donghae, demi mereka berdua yang sudah sering dipandang hina. Bukan untuk
mengikuti hatinya, yang ingin terus ada untuk Donghae, satu-satunya orang yang
bisa diandalkannya, mengerti ia, bahkan mau menemaninya hingga mati sekali pun.
Pikirannya terlalu jauh
melanglang buana. Tubuhnya yang minim dengan darah itu semakin menyusut jatuh
diaspal hitam panas. Pinggangnya remuk, kepalanya terbentur sempurna.
Baru saja ia berlari, menghindar,
mobil besar disebelah kirinya menabrak tubuh kecilnya. Donghae melihatnya
dengan jelas, terbelalak.
“HYUKKIE!!!!”
Mobil itu pasti tidak sengaja,
karena kekasihnya itu memang menerobos jalanan yang sedang penuh dengan
mobil-mobil yang berjalan kencang. Seburuk-buruknya kemungkinan, ia akan
kehilangannya. Kehilangan satu lagi seseorang yang mewarnai hidupnya. Lee Hyuk
Jae, kekasihnya. Sekali ia berpikir, saat ia melihat wajah Hyukjae yang pucat
dengan air mata bercampur darah. Semua teriakan dan pandangan tertuju pada
mereka yang kini terduduk di tengah jalan. Donghae segera mengeluarkan satu
benda dari sakunya, satu-satunya cara agar ia tidak kehilangan kemungkinan
paling berharga tersebut, kehilangan.
“Hyera.. Bantu aku.. Ku mohon..”
**
Dengan mudahnya ia berlari
menuju lantai tujuh, ruang insentif. Hyera mencari celah dari kerumunan
orang-orang yang menghalanginya di jalan lorong. Setengah berlari, setengah
berjalan, dan sisanya ia gunakan untuk menahan tangis. Tenaganya terkuras habis
untuk hari ini. Untuknya, untuk sesuatu yang sia-sia karena segalanya berjudul
Donghae, seseorang yang menelepon hanya karena ia butuh Hyera.
Bodohlah.
Dari tempatnya berdiri sekarang,
untuk membetulkan ritme nafasnya yang tak beraturan karena pecah tangis dan
mengendarai mobil dengan kilat, ia bisa melihat lelaki yang dicintainya itu
menyusut didinding hingga terduduk menutup kedua wajahnya. Pandangannya kosong
mengarah keatas. Hyera tak berani mendekat. Ia tak ingin bertemu dengan Donghae
lagi.
Lalu mengapa ia ingin datang?
“yob—yobseyeo?....” suaranya
terbata-bata. Melihat caller ID di ponselnya saja ia sudah ingin membuang
ponsel ditangannya ke dinding hingga rusak, kini telinganya harus terpaksa
mendengar suara itu lagi. Ia tak dapat membenci, ia terlalu mencintai. Maka
dari itu, ia tak menjawab.
“Hyera…” suaranya memohon,
tangisnya ia tahan walau aliran air mata it uterus keluar tanpa suara, “bantu
aku…” lanjutnya lagi. Ia hendak menjawabnya, namun suara lelaki diseberang sana
memaksanya untuk terus mendengarnya, “…ku mohon.”
Ia menoleh kearah tumpukan
bunga-bunga busuk diatas mejanya. Sudah terlalu lama ia menyimpannya. Bunga
mawar putih yang Donghae berikan untuk kekasihnya, namun berhasil jatuh
ketangannya. Umurnya bisa dihitung cukup lama dari warnanya yang menghitam ke
tangkai dan kelopak. Itu masih jauh dari lama umur kasih cintanya pada lelaki
itu.
Semuanya berjalan singkat.
Hingga Hyera menyadari lelaki itu terus memohon ditengah-tengah suara bising
yang menenggelamkan suara Donghae diluar sana.
“Kau dimana?” jawab bibirnya
diluar kendali.
Lalu Hyera berjalan mendekat.
Selangkah-demi-selangkah, hingga Donghae menoleh kearahnya. Sedetik kemudian,
ia menghambur ke pelukan Hyera. Menangis sejadi-jadinya.
Pelukan ini yang ia suka, yang
membuatnya kecanduan setengah mati, hingga ia bisa berdiri hingga sekarang,
ditengah sebuah hal yang semua orang benci yang disebut cemburu.
“Hye…” panggilnya
ditengah-tengah tangisnya. Tangan Hyera yang menggantung disebelah pinggang
beralih menuju kepala Donghae. ia menutup kedua matanya, merasakan hangat badan
Donghae yang sejak dulu ia rindukan.
“Ae..” Cinta.
**
Tidak ada yang salah di dunia
ini
Tuhan memberi kebahagiaan
Kesedihan
Semuanya bisa terangkum dalam
satu hal, Ae
Wujud dirimu terlalu jelas
Ku sarankan kau menjauh saja,
atau harus aku?
Sudahlah
Langkahku akan kembali padamu
Bagaimana pun jauhnya jarak
antara aku dan kau
Ia sudah berulang kali
membacanya. Berulang kali juga ia berpikir. Ini tulisan sederhana, mengapa
dibuat bingung? Tanyanya dalam hati. Mungkin karena pikirannya terlalu
penuh. Kyuhyun menghela nafasnya panjang. Ia baru menyadari, akhir-akhir ini ia
tidak datang kesini untuk bertanding combat-strike di x-box bersama sahabatnya.
PSP portable yang setia ditasnya-pun jarang disentuhnya. Ya, ini pengaruh apa,
mungkin jawabannya hanya Hyera.
Dadanya sesak, ketika Hyera
pergi menjauh darinya, karena mencintai Donghae yang sudah jelas-jelas salah
disemua mata.
“Hey brotha.” Seorang
lelaki membuyarkan lamunannya, membuat Kyuhyun dengan segera meremas kertas
yang sedikit basah hingga benar-benar rusak, “…Byunghee.”
Lelaki bernama Byunghee itu
hanya merespon dengan menepuk dua kali pundak Kyuhyun. Ia menarik sebuah kursi
yang tak jauh dari dirinya untuk didudukinya dekat dengan Kyuhyun, “…tumben kau
kemari. Biasanya hari minggu datang hanya untuk melawanku. Sekarang sebulan
saj—“
“Jangan membuatku terlihat seperti
fucker gamer, Byunghee!” ucap Kyuhyun yang sengaja merubah suasana
menjadi lebih hangat. Byunghee tertawa puas hingga Kyuhyun mencibirnya dengan
pukulan keras di lengan Byunghee. Ia hanya benci saja, gelarnya serasa
main-main. Untuk apa ia si magnae kelas, si kecil yang pintar sekali dalam
ilmu matematis dan sejenisnya itu ternyata ketahuan fucker gamer? Oh
shit juga kan, itulah yang dipikir Kyuhyun. Menurutnya wajar saja sih, ia hanya
tidak mau kelihatan puas saat bermain combat-strike didepan teman-temannya.
Terlihat jauh dari nilai 100 dalam ujian, pabo choreom.
“Kau memang fucker gamer.
Kau bisa bercinta bahkan menikah dengan seperangkat X-Box dan enam laptop
starcraft-mu. Atau bahkan tahun depan aku sudah mendapatkan keponakan dari
X-Box dan kau.”
“Jangan sampai kau, si Byunghee,
manusia yang katanya punya psikologis tinggi ini kulempar ke jurang dan
kusebarkan informasinya bahwa kau adalah—“
“YAK! Oke, aku menyerah. Jangan
beritahu itu.” Byunghee mendesah keras-keras. Merasa malu akan dirinya yang
selalu kalah melawan kyuhyun si mulut pedas. Sesekali Kyuhyun meraba perutnya
yang sakit karena tertawa. Sedetik kemudian, Byunghee mengancam Kyuhyun dengan
sandal rumahnya yang sudah sedikit lagi menyapa lembut pipi Kyuhyun yang tirus,
“…haha…oke. Ampun, yak. BAWA SANDALMU PERGI, BAU SEKALI!”
Byunghee hanya menyengir,
pertanda percakapan tentang saling memojokkan ini selesai. Byunghee
kembali menoleh kearah pintu depan rumahnya yang sudah tertutup. Mengingat
sesuatu yang belum ia tanyakan sedari tadi, “…jadi untuk apa kau kesini?”
Kyuhyun mendengus, “…membawakan
Hyerim eskrim, dan memintanya mencucikan baju seseorang.”
Jawaban Kyuhyun membuat Byunghee
mengerutkan dahi. Ia turun dari kursinya menuju meja makan, mengambil dua buah
gelas dan sekotak sirup siap minum dari lemari esnya, tanpa melupakan
pembicaraannya yang sempat dipertanyakannya, “…baju siapa?”
“Adalah. Gadis.” Ucap
Kyuhyun sambil kembali menatap kertas lusuh tak bernyawa itu ditangannya.
Rasanya, ia selalu jatuh pada kertas-kertas tulisan Hyera. Aneh, tapi memang
begitulah. Tanda-tanda mencintai Hyera, mungkin muncul, walau masih sedikit,
tapi tak dapat hilang.
“Mr. Cho ini sedang jatuh
cinta?” kata Byunghee menyengir, saat menyodorkan Kyuhyun segelas orange juice
yang sudah tersedia diatas meja.
Kyuhyun mengetuk-ketukkan
jarinya perlahan. Setelah itu, muncul sekelibat ide dari otaknya,
“…Byunghee-ah. Bukannya kau si pemilik IQ tertinggi dikelas saat SMP?”
Byunghee menggaruk bagian
kepalanya yang tidak gatal. Berusaha untuk tidak gugup, ia hanya sedikit malu
saja, “..well. Makanya gelarku berubah menjadi seorang mahasiswa
psikolog dan calon psikolog handal Korea Selatan. Keren, ‘kan?” katanya
menggebu. Kyuhyun tidak peduli. Hanya menyodorkan kertas yang dipegangnya
sedari tadi pada Byunghee.
“Gadis itu yang menuliskannya.
Kau bisa tebak maksudnya?” Byunghee mendengus terang-terangan. Matanya terlihat
kosong namun sebenarnya, ia sedang berkonsentrasi. Kyuhyun hanya bisa melihat
sirat mata Byunghee—sahabat sejak kecilnya itu sedang kebingungan. Yah,
Byunghee yang IQ-nya tinggi saja bingung, apalagi Kyuhyun. Begitulah
matematisnya.
“Ini mudah, Kyu…” Katanya saat
sempat termenung sebentar, lalu melirik kyuhyun tanpa ekspresi, “…gadis ini
sedang patah hati. Ia tidak mau jauh dari kekasihnya atau seseorang yang
dicintainya. Ya ampun, ini mudah sekali, Kyuhyun-ah.”
“Ne, otakku sedang sakit jadi
mungkin sedikit lemah hari ini.” Tuduh Kyuhyun pada dirinya sendiri, itu sudah
biasa terjadi ketika Byunghee sudah menatapnya dengan cibiran bahwa Kyuhyun
memang bodoh tapi alibinya luar biasa.
“Oh, aku harus segera pergi,
Kyu. Jadwalku ke rumah sakit bertemu dengan dokter psikolog..” Jelasnya sambil
turun dari kursinya, mengambil tas ranselnya yang memang sudah dipersiapkan
sejak lama. Mungkin.. “Perlu kau ketahui, aku asistennya sekarang.”
“Jangan bilang padaku kalau
dokter itu cantik.” Goda Kyuhyun.
“Memang cantik.” Byunghee
berubah haluan pada sepasang sepatunya. Menerawang ke mata Kyuhyun yang tertawa
dan terus mencibirnya. Seperti sedang benar-benar bertanya tentang isi otak
Byunghee,”..ya.. aku tahu maksud matamu itu Kyuhyun-ah.”
“Jadi bagaimana?”
Mata Byunghee memicing lucu,
setelah menampilkan aegyo dadakannya didepan Kyuhyun, “Dia memang menggoda.”
“Eits, Byunghee sedang jatuh
cinta.” Timpalnya sama seperti saat Byunghee menggodanya beberapa saat yang
lalu. Tawa mereka kembali pecah, hingga Byunghee membuka mulutnya lagi untuk
menyebutkan hal yang lain, “..okay. Kau memang bisa datang kapan saja
jika kau mau. Rumahku selalu terbuka untukmu, terutama Hyerim yang mengejarmu.
Tapi untuk satu dan lain hal, jangan buat Hyerim sebagai budakmu. Semenariknya
dirimu pun, dia tetap adikku. Arra?”
Kyuhyun tersenyum mendekat
kearah X-Box Byunghee yang berada disisi ruangan, “..arra tuan Psikolog.”
“Okay. Aku pergi dulu, anny—“
“Hey, brotha!”
“Wae?”
“Kau masih mengoleksi video
yadong straight?”
“YAK! JANGAN SEBUT-SEBUT ITU
DISINI BODOH!” Byunghee mengerutkan dahinya geram, sedangkan Kyuhyun tetap
tertawa kencang tanpa inosen yang jelas bahwa ia berhasil mempermainkan sahabat
SMP-nya itu. Byunghee yang mati-matian memendam amarah—tawanya itu
mendobrak pintu dengan keras dari luar. Bukankah ia sedang dikejar deadline
dirumah sakit?
Kyuhyun menyadari bahwa hal yang
bodoh itu ia tertawakan sendiri. Semakin lama ia menatap X-Box didepannya,
semakin ia bingung juga mengapa rasanya malas untuk menyentuh benda hitam penuh
game kesukaannya itu. Bahkan tidak ada secuil pun nafsu untuk memainkan
combat-strike level 20 yang biasa ia mainkan setiap datang ke rumah Byunghee.
Sesaat ia tampak bingung sendiri
antara harus mengurus kertas puisi penuh rahasia itu atau harus memperkosa
X-Boxnya. Mungkin baru gadis ini yang bisa membuatnya beralih dari dunia
visualnya itu, Hyera.
Kyuhyun memikirkan sesuatu yang
ia sadari betapa—mengapa Hyera bisa membuatnya seperti ini. Ia beranjak dari
tempatnya semula, membuka pintu dan berlari keluar. Mendapati mobil Byunghee
masih terparkir rapi didepan garasi, dan pemiliknya baru bersiap memakai sabuk
pengaman, Kyuhyun bergegas menujunya.
“Byunghee-ah!” sapanya dengan
nada cukup tinggi. Nafasnya memang tidak tersengal, tapi wajahnya menandakan
bahwa ia sedang kebingungan setengah mati.
“Hm?”
“Apa…” Kyuhyun menggaruk-garuk
tengkuknya, seraya memperlihatkan kertas yang ia selidiki bersama Byunghee itu,
seperti FBI memang. Ini menyangkut Kyuhyun kedepannya, bukan?
“Apa gadis yang menulis ini bisa
beralih pada orang lain?” Kyuhyun melihat raut wajah Byunghee yang tidak
dimengertinya. Namun perlahan, Byunghee mengangguk.
“Asal orang lain itu bisa lebih
baik dari orang yang ia sebut-sebut di puisinya itu.”
‘Lalu aku harus melakukan
apa, Hyera?’
*
*
*
gatau mau ngomong
apa lagi bete bangeeeet udah kabur-kaburan sama fajar carfreeday eh taunya
superduperunluck-__- setelah kejadian beda kota, beda negara, beda benua dan
sekarang kejadian beda provider, hidup aku udah cukup keren ckckck mungkin hari
ini lagi beranjing hfffttt keseeeeel-__-
gak minta apa-apa
pretty please kalo bisa long comment lah gapapa gak jelas juga-_-
p.s : ada
byunghee karna ini pesanan kaolv. dan disponsori oleh telkomsel yang minta
dicabik-cabik dan bikin aku asah golok *trims