Postingan

[Speciclet] Baby This, Baby That

Lee Donghae. Ia seperti bintang malam ini. Ditengah para pasangan-pasangan serasi dengan muka paksaan bahwa ‘ yes I’m so happy in here’ , ia yang terlihat sangat bahagia dan natural. Semuanya terpancar dari pesonanya yang tak henti-hentinya keluar, mengingat ia adalah seorang mantan hallyu star yang masih diancam sana-sini untuk menceraikan segera istrinya dan menikahi semua Elf saja. Donghae tak sebodoh itu, walau sebenarnya ia harus melakukan itu. Wow. Kalau memang takdir dan kehendak mengatakan bahwa Donghae wajib menikahi seluruh Elf, hebat juga Changmin dan Yunho TVXQ yang memiliki fans resmi online terbesar di dunia mengalahkan Lady Gaga itu karena harus siap melayani seluruh istri-istri mereka yang bejibun itu. Cara jalannya saja sudah keren sekali. Mengamit lengan sang istri yang memakai gaun super simple tanpa menghilangkan kesan glamour , dan berjalan membelah kerumunan. Bukankah itu lucu? Sedangkan ia dan Hyemi hanyalah tamu, bukan pemilik acara ulang tahun peru...

[Speciclet] Shining Star

Dejavu. Itu yang mungkin banyak diumbar-umbar oleh semua teman-temanku ketika mereka merasa sangat nyaman seperti kembali ke masa lalu. Begitu pun aku kini yang tengah merasakan hal yang serupa. Di bukit dekat rumahku, duduk tanpa alas, bertelanjang kaki dan hanya memakai piyama tidur berwarna pink polkadot. Aku pasti terlihat sangat gila sekarang, tengah malam, tersenyum pada langit sembari menekuk lutut. Tapi hanya ini yang dapat membuatku tenang. Aku rindu pada ibu dan ayahku yang sudah pergi beberapa tahun yang lalu. Dulu, mereka sering sekali membawaku ke bukit ini hanya untuk sekedar bermain kejar-kejaran bola. Menjadi anak satu-satunya adalah sebuah keajaiban untukku, dimana perhatian mereka selalu tertuju hanya padaku. Permainan-permainan anak kecil seperti bermain bola, atau hanya menertawkan ayah jika ia tidak memasukkan bola golfnya kedalam lubang. Kami terlihat serasi dan bahagia. Sampai dimana suatu waktu, ketika umurku sudah mulai beranjak dewasa, ayah dan ibu ...

[Speciclet] For Good, For Eternity

I have loved you for a thousand years. I love you for a thousand more—Christina Perri, A Thousand Years. ** Semua kembali terasa nyata, walaupun kau ingin sekali menjadikan dunianya semakin sepi dan menyendiri. Kau tak ingin bersama orang lain, hanya perlu sendiri, untuk sementara waktu dan saat ini. Langkahmu terus berani dan membawamu kelantai bawah, hal itu pula yang membuatmu begitu enggan meneruskan perjalanan sepasang kakimu menuju satu sosok yang suaranya terdengar jelas dari tempatmu  berdiri. Kau menguping sedikit lelaki itu yang ternyata tengah bermain lego bersama adik lelaki berumur empat tahun satu-satunya milikmu. Rasanya beku. Rasanya sakit, dan juga rindu. Tanpa kau sadari, tubuhmu membeku dan tiba-tiba saja berani memunculkan diri—setelah berusaha berlama-lama tetap berada didalam saja. Wajahmu pucat sejak beberapa hari yang lalu, dan matamu bengkak terlihat sembab. Rasanya malu sekali menampilkan dirimu yang kini didepannya. Kau dapat dengan ...

[Speciclet] The Eternal Melody

Semua mata tertuju pada ia yang tengah berusaha sendirian diatas tempat tidur hangat dibawahnya. Terlebih pada ia yang sedang memberikan seluruh tenaganya, dibantu oleh para perawat yang sudah professional , ia berteriak memohon pada Tuhan untuk memberikan satu kesempatan untuknya—untuk menyelamatkan satu nyawa yang sudah lama bernaung dalam dirinya. Wajahnya terasa panas karena lampu besar berwarna oranye yang menyilaukan itu tepat berada diatas tubuhnya. Ia masih berteriak tak karuan, meminta kekuatan, lampu yang menyorot tajam seakan harus mendengar gadis yang dewasa ini mengemis-ngemis agar ia bisa melepaskan seluruh penat yang terus melingkupi semua anggota tubuhnya. Sedangkan matanya menangis karena satu permintaannya tak dipenuhi. Ia tengah menggenggam sebuah tangan kekar yang lemah, dan pemiliknya tak memberikan ia doa atau kekuatan apapun. Namun dalam hatinya, ia begitu tahu bahwa didalam alam bawah sadar lelaki tersebut, pasti tengah menyemangatinya. Seperti itul...

[Speciclet] Sweety Voice Mail

Ran kembali berguling kearah kiri bersama boneka teddy super besar yang dipeluknya, setelah sebelumnya berguling kearah kanan. Hidupnya dirasuki sesuatu sepertinya. Buktinya ia benar-benar tak bisa tidur malam ini—tidak seperti Ran yang mudah sekali tidur saat kepalanya sudah mendarat diatas bantal. Ia bangun dari setengah tidurnya. Tubuhnya sudah cukup lelah, namun matanya tak kunjung mengantuk. Dengan nafas yang terhimpit, ia menyampirkan selimut yang sebelumnya menghangatkan seluruh bagian kaki jenjangnya. Detik selanjutnya, ia memilih untuk memakai sandal tidur pandanya, dan memberanikan diri untuk turun dari tempat tidurnya dan pergi ketempat biasa ia bernaung, ruang televisi. Masih dengan teddy bear super besar yang dipeluknya, ia menuruni tangga dan berusaha tidak menimbulkan suara apapun yang dapat membangunkan kedua adiknya atau bahkan orang tuanya. Dan satu-satunya yang bisa menemaninya malam ini, adalah ramyun bungkusan favoritnya. Dikeluarkannya banana milk ...