[Super Junior FF] Later
FINISHED
YEAAAAAY WOHOOOO~
Mungkin
FF ini ga penting, karna Cuma gabungan 13 drabbles yang kubuat selama semalam
kemarin. Tadinya konsep ff ini buat 2PM, tapi mereka belom punya wajah
ke-bapak-an jadi diganti super junior.
Jujur,
cinta banget sama bagian leeteuk, antusias banget buat yang kibum, dan ngakak
banget bagian siwon bratatahahaha xD tapi yang jelas, aku buat ini khusus untuk ketiga belas member Super Junior. Kamu, yang baca, boleh pilih sesuai bias kamu :]
Btw, aku kehilangan banget feel buat bikinin Henry sm Zhoumi ya :o mianhae T-T
Let's check it out!!!
**
LATER
Park Jungsoo
Kali ini, kau hanya dapat
tersenyum bangga. Melihat pemilik punggung yang sedang kau tatap dengan cermat,
sedang mondar-mandir sibuk mengetik segala sesuatu yang diperlukannya. Dia
semangat. Dan kau bahagia akan hal itu. Betapa kau mencintainya, bahkan bangga
pada dirimu sendiri setelah berhasil memilikinya.
Kau berjalan pelan menuju arah
dapur. Mengambil satu bungkus teh instan, untuk dirinya yang terlihat lelah
akan pekerjaannya. Kau menyeduhnya dengan hati-hati, tidak ingin ada kecacatan
dari segala sesuatu yang ingin kau berikan untuknya.
Lalu membawanya kesebelah lelaki
yang kau cintai, wajahnya lelah, ia terlihat kurang tidur. Dengan manjanya, kau
menaruh cangkir beraroma teh hijau kesebelahnya, dan memeluk tangan kekarnya.
“Sebaiknya kau tidur, oppa..”
ucapmu tersenyum, dan kau hanya mendengar dengusan nafas tak berdaya yang ia
keluarkan.
“Pekerjaanku masih banyak. Kalau
belum selesai.. aish. Jinjja!” Dia merutuk dirinya sendiri. Dengan pelan, kau
memijit satu persatu anggota badannya yang lemah. Lengan, bahu, bahkan
jari-jemari kakunya secara bergantian. Kau melihat lelakimu menikmati hal itu.
Lelaki yang dicintaimu ini, telah berubah menjadi seorang pengusaha besar. Satu
investasinya, ada di SM Entertainment, tempat dulu ia bekerja dan menyimpan segudang
memori indah bersama dua belas adiknya. Lelaki tertua di Super Junior, Leeteuk.
Kau mengingat, betapa ia sibuk saat itu. Betapa ia mencoba membagi waktu
untukmu dan pekerjaannya.
“Akan kutemani kau tidur.” Ucapmu
pelan. Tak sanggup melihat matanya yang sayu, tubuhnya yang meringkuk bungkuk
menulis dan mengetik hal-hal penting dipekerjaannya, “..aku tak mau melihatmu
sakit nanti, oppa.”
“Pekerjaanku..”
“Nanti ku kerjakan sebisaku.”
Ucapmu sambil menyodorkan teh hijau yang kau buat. Ia meneguknya perlahan
hingga benar-benar habis. Wajahnya terlihat menikmati, meresapi aromanya yang
membuat dirinya tenang. Lalu kau merangkul punggungnya, untuk segera pergi
kekamarmu. Kamar berwarna putih susu yang kau dan dia pesan saat sebelum
pernikahanmu terlaksana. Corak-corak merah marun tercecer disegala
perlengkapanmu, lemari, laci, bahkan kepala tempat tidur. Dia terlalu tahu
kecintaanmu pada warna gelap gotik itu.
Lelakimu mulai duduk diujung
tempat tidur, dan kau mendorong dada bidangnya untuk segera mengistirahatkan
diri. Kau terlalu takut melihatnya sakit. Dia menikmati waktu istirahatnya,
setelah kau menyelimutinya dengan selimut berwarna sama dengan kepala tempat
tidur yang ada diatas kepalanya. Kau duduk disebelah tubuhnya yang sedang
tertidur. Ia manis. Tampan. Terlihat lebih karismatik ketika tidur terlelap.
“Gomawo, jagiya.” Desahnya, lebih
tepat berbisik. Kau tersenyum dan mencium dahi lelakimu, lalu beranjak, “..anything for you, oppa..”
“hey, mau kemana?” tanyanya
sambil menarik lenganmu setelah kau beranjak akan pergi. Melihatnya, lebih baik
ia tidur sendirian dan tidak boleh diganggu. Wajahnya menerawang padamu, ia
benar-benar tulus untuk mengatakan jangan pergi pada tatapan matanya.
“Kekamar Sahye, memastikannya. Ia
suka terbangun malam-malam begini, wae?” tuturmu. Leeteuk tersenyum, lalu
melepaskan genggaman kerasnya dilenganmu.
“Jangan lama-lama. Aku ingin
tidur denganmu.” Kau tertawa pelan, dia juga. Lalu kau mengangguk sebisamu, dan
melangkah menjauh dari dirinya, pergi ke kamar anakmu yang masih kecil. Ia akan
melanjutkan pendidikannya ke sekolah dasar tahun ini. Kau berjalan sangat
pelan, tidak ingin menimbulkan suara apapun untuk mengganggu tidur kedua
malaikatmu.
Diam-diam, kau menerawang ke masa
lalu. Betapa kau.. sejak itu, hingga saat ini, kau mencintainya. Kau mencintai
Leeteuk, tanpa perhentian dalam hidupmu.
**
Kim Heechul
Pagi itu menjadi pagi terindah
untukmu. Lelaki berwajah manis itu memberikan sebuket bunga diawal pagi
milikmu, juga awal tahun yang akan kau pijaki nanti. Ya, pagi ini, kau
bertambah usia. Dan lelaki itu, begitu romantis dihadapanmu. Setiap harinya.
Heechul, lelaki itu bernama. Kau
menggelayut manja dipelukannya. Melihat kesekelilingmu, warna-warni kota
metropolitan Seoul, dan bising sana-sini tak beraturan masuk kedalam telingamu.
Kau menikmati hal itu, jika kau berada disampingnya.
Ia sedang tidak sibuk mengurus
pekerjaannya, itu waktu yang langka. Kau benar-benar harus menikmati hal ini.
Mengingat, lelaki cantikmu ini memiliki management
baru, hampir setara dengan Cube. Lelakimu pintar membuat hal baru. Kau bangga
akan hal itu.
Kali ini, nama lelakimu sering
disebut sebagai seorang pengusaha besar diseluruh dunia. Bahkan disetiap anak
buahnya menang dalam pertandingan chart musik yang dinamakan Mutizen, atau
Inkigayo, namanya disebut disepatah-duapatah katanya. Kau memikirkan hal itu
cermat, lalu kembali mengeratkan pelukanmu ditubuhnya. Angin musim gugur yang
kau rasakan, menerpa tubuhmu yang sedang berdiri diluar balkon.
“Hey, waeyo?” ucapnya sambil
terkikik, merasakan pelukanmu yang semakin erat saja. Kau tersenyum dalam
dekapan dadanya yang hangat, sambil memegang juga buket bunga merah mawar yang
ia berikan pagi hari tadi, sebangun dari tidurmu.
“Gomapta, oppa..” ucapmu menutup
mata, merasakan belaian kasihnya dirambut emas bergelombangmu.
“kau sudah mengatakannya
berkali-kali, dan aku tidak suka hal yang berulang-ulang.” Ucapnya kencang,
tapi kau malah menganggapnya lelucon. Oh, Heechul memang seorang yang dingin,
tapi hangat untukmu. Tanpa alasan jika kau menganggap itu adalah lelucon pagi
untuk hari ulang tahunmu.
“Tapi kau suka ciumanku yang
berulang-ulang.” Tuturmu menggoda, lalu melepaskan pelukanmu dan pergi berlari
kearah pintu dan keluar menuju dapur.
Mendengar suara derap langkah lelakimu yang kencang mengejarmu, kau
malah semakin antusias untuk mempercepat langkah kakimu.
“hey, aish! Sejak kapan istriku
menggoda begitu! Tunggu!” kau terkekeh disela lari-lari kecilmu, lalu menemukan
satu sosok lelaki kecil dengan wajah bangun tidurnya, yang membuat kau berhenti
berlari, “eomma..” ucapnya pelan.
Kau berlutut sambil menaruh buket
bunga dari suamimu disebelahnya, kau memeluk lelaki kecilmu sambil menyisir
rambutnya dengan jari-jarimu. “hari ini aku sekolah tidak, eomma?” ucapnya
pelan dari bibir kecilnya. Kau sadar, ia masih sangat mengantuk.
“Ini hari minggu sayang. Kau tidak
sekolah hari ini.” Ucapmu sambil membawanya duduk dipangkuanmu. Kau duduk di
dinginnya lantai kayu, tapi tidak. selama lelaki kecilmu memelukmu dengan erat,
kau tidak merasakan dingin apapun pada tubuhmu.
“Seungwonnie! Hari ini hari ulang
tahun eomma-mu. Beri ucapan padanya!” kau menoleh kearah belakang asal suara
favoritmu, Heechul menatapmu sinis tapi tertawa. Kau kembali menatap lelaki
kecil yang manja dipelukanmu. Satu detik, kau terkejut dengan perlakuannya,
Seungwon, lelaki kecil berparas mirip dengan suamimu, mengecup bibirmu
tiba-tiba.
“Saengil chukkae, eomma!” ucapnya
bersemangat. Kau menggelitik badannya hingga ia menggelinjang, dan tersenyum
terharu disela-sela waktu yang kau jalani, “gomawo sayang.” Katamu sambil
mengecup lagi bibir kecil Seungwon.
Waktu terasa terhenti ketika
Heechul duduk bersila disebelahmu, dan memajukan wajahnya, “aku juga mau,
jagiya..”
Kau mendengar suara nakalnya,
lalu mendorong wajahnya sebisamu, “..bagianmu..” Kau mengerling nakal, memberi
satu arti pada tatapanmu, “..nanti malam.”
**
Hankyung Tan
Restoran yang ia bangun beberapa
tahun lalu itu semakin ramai. Melihat waktu menunjukkan pukul 12 siang, dan
pada waktu itu juga, orang-orang yang bergelut dipekerjaannya masing-masing
kelaparan, otomatis tempat miliknya juga milikmu itu benar-benar padat.
Kau berpikir, apa seharusnya kau
harus menambah lagi para pelayan direstoran milikmu ini?
“Apa yang kau pikirkan?” suara
yang mengagetkanmu itu membuatmu tersenyum manis kearah lelaki yang memilikimu.
Dia melingkarkan tangannya diperutmu yang kecil. Kau membalikkan badanmu, dan
memeluknya erat diruangannya. Ia sedang berada diruangan kecil yang sengaja
dibangunnya untuk seorang pemilik restoran ini dan istrinya, yang notabenenya
adalah.. kau.
“Tidak. Makin lama, orang-orang
semakin menyukai restoran kita.” Ucapmu sambil berpikir, “apa sebaiknya… kita
menambah tempat lagi?”
“Kita memikirkan hal itu nanti.”
Ucapnya sambil membawamu duduk disofa bersama. Kau menyandar kedadanya,
merasakan sentuhan yang ia buat dikepalamu lembut. Kau memejamkan matamu,
berusaha terlelap disituasi romantis yang kau buat sendiri, “..siapa yang akan menjemput Mei hari ini?” katanya
pelan. Kau membangunkan dirimu sendiri, terkejut, dan berdiri sambil menatap
kearah bawah, dimana lelakimu sedang menatapmu juga.
“Oh, aku baru ingat, gege.” Katamu sambil memukul sendiri
kepalamu dengan tangan kirimu. Kali ini, kau sibuk dengan dimana tempat tas
selempangmu berada, juga kunci mobil yang akan kau pakai untuk menjemput gadis
kecilmu yang sedang bermain ditempat les menarinya, “lima belas menit lagi dia
akan keluar.”
“Bersama, aku sendiri, atau kau
sendiri yang akan menjemput, sayang..” katanya lagi sambil berjalan kearahmu,
kau merasakannya dari belakang, ada yang menyentuh kedua bahumu dengan lembut.
“Aku saja.” Pintamu sambil
bersiap pergi dengan kunci mobil yang ada dijari tanganmu, “oh. I hated this romantic scene when I must
leave you, gege..” katamu sambil berbalik dan menatapnya, dan menelusuri
lekuk wajahnya dengan jari telunjukmu.
“Kita punya banyak waktu berdua.
Lebih banyak.”
“Banyak?” tanyamu nakal.
“Banyak-banyak-dan-baaanyak!” Dan
anggukan serta kecupan manis dari bibir miliknya mendarat dibibirmu, “cepat
pergi. Aku tidak mau Mei menunggu lama mamanya.”
Kau tersenyum, lantas pergi
menjauh ketempat parkir. Ya, kau tidak ingin Mei nanti menunggu. Toh benar,
waktu miliknya dan milikmu masih sangat banyak. Bahkan lebih dari sebelumnya.
Hangeng, suamimu, saat ini, hingga nanti.. akan selalu menjadi milikmu.
**
Kim Joongwoon
Satu hal yang sedang kau lihat
dan membuatmu ingin tertawa adalah, tingkahnya yang seperti anak kecil. Kau
sedang duduk dibelakang tubuh lelaki dan gadis kecil milikmu. Mereka sibuk
melihat-lihat dan memilih sesuatu yang bergerak didalam etalase-etalase bening
yang memenuhi ruangan yang sedang kau tempati.
“Appa, dia tidak menggigit, kan?”
ucap gadis kecil didepanmu yang sedang membelakangimu pada ayahnya. Dia
menunjuk kearah satu kura-kura berwarna gelap berukuran besar, dan ayahnya
menggeleng.
“Tapi itu terlalu besar, Hyena..”
katanya sambil mengacak rambut pendek gadis kecil tersebut. Ayahnya menarik
Hyena pelan ke etalase disebelahnya, “Kita beli yang kecil saja, bagaimana?”
Kau menggeleng pelan. Mengingat
ketika itu, kura-kuralah yang menjadi satu perantara dimana kau bertemu dengan
anggota Super Junior bersuara emas itu. Kaulah yang menemukan ddangkoma ketika ia hilang dan hampir
diambil oleh seorang anak kecil. Entahlah, kau hanya menyimpan hati padanya,
dan ia juga begitu. Hingga saat ini, namanya takkan terhapus dari hatimu.
Hingga kali ini, kura-kura lagi
yang menjadi pewarna dihidupnya. Ya, Hyena berhasil menyelesaikan tes pianonya
tadi siang. Hasilnya tidak buruk, A- untuk nilai seorang gadis kecil yang
berusia lima tahun. Kau bangga. Gadis kecilmu itu sudah berprestasi di usia
dini-nya, dan suamimu berjanji membelikan kura-kura dinilai hebatnya itu.
Mengingat, Yesung –suamimu- yang membawanya kedunia musik. Dengan alasan,
supaya ketika Hyena besar nanti, ia akan mengiringi alunan musik dan
menyetarakannya dengan suara emas suamimu.
Cih. Kau berpikir, betapa suamimu
bodoh atau bagaimana.. Umur dewasa yang dipegangnya, apa masih menjamin suara
indahnya?
Kali ini kau menunduk. Kau
mencintai, bahkan merindukan suaranya. Suara emas yang membuatmu luluh akan
permintaan lamaran pernikahan beberapa tahun yang lalu.
“mm.. menurut appa bagaimana?”
Hyena melirik manis kearah ayahnya. Kau hanya dapat melihat mereka yang sedang
mengobrol asik. Sepertinya, acara obrolan mereka asik sekali. Kecemburuan
memuncak dirasakan dirimu, kesibukan Yesung pada pekerjaannya, membuatmu tak
punya cukup waktu untuk dihabiskan berdua seperti saat itu, saat kau dan dia
berdua disatukan dalam paduan suara gereja.
“Kita beli yang kecil, ya? biar kau
bisa menjaganya sampai dewasa.” Suruh Yesung pada Hyena. Kau tersenyum. Ayah
dan anak ini.. oh. Suamimu dan anakmu ini, jarang sekali disatukan dalam satu
waktu.
“Yeaaay! Gomawo appa!” Hyena
menjingkrak, lalu berlari menuju sang penjaga toko, untuk mengambil satu dari
banyak kura-kura yang ada dalam etalase bening itu. Yesung tersenyum, dan
terlihat berbalik kearahmu. Duduk dan merangkulmu, menarik tubuhmu untuk
mendekat dan berada dalam dekapannya. Kau merasa nyaman. Kau bahagia.
“Hyena senang sekali mendapat
kura-kura, oppa.” katamu sambil berusaha menyadarkannya akan masa lalumu yang
dilalui bersama ddangkoma milik
suamimu.
“Aku senang sekali memilikimu.”
Tiba-tiba kau mendapat kecupan kilat dipipimu, yang memerah seketika. Ada rasa
malu yang menjalar pada dirimu, dimana
ia tak pernah tahu tempat jika menciummu, “..oppa!”
“Kau kenapa? Daritadi tidak ikut
berpartisipasi?” tanyanya. Kau semakin menyandarkan tubuhmu kepundaknya,
berusaha rileks karena sepertinya ada yang janggal padamu. Tangannya beralih ke
lenganmu, dan mengelus lembut.
“Dulu, aku diduakan oleh ddangkoma-mu. Sekarang, aku juga akan
diduakan oleh anakku sendiri.”
“Tapi aku dan kau bersatu karena
kura-kuraku, kan?” Kau, yang tadinya merajuk, berubah berseri. Setelah suamimu
membuka mulutnya lagi, “..kalau kura-kuraku mati, aku bisa membelinya lagi.
Tapi kalau aku kehilanganmu, aku harus bagaimana?”
Setelah itu, rasanya tubuhmu
melayang entah kemana. Kau, juga akan mati jika ia tak ada disampingmu.
**
Kim Youngwoon
Kau merasakan suasana hening yang
cukup menyita waktu. Setelah sibuk dengan memindahkan banyak barang, kali ini
kau terpaku pada satu sudut yang membuat mata suamimu sedikit basah. Kau, yang
lebih pendek darinya, hanya dapat tersenyum bangga. Sekarang, lelaki yang
dibicarakan paling pantas menjadi seorang ayah, adalah suamimu yang akan selalu
menemanimu ketika kau membutuhkannya, seperti yang dijanjikannya di altar
beberapa tahun yang lalu.
Kau sedang berdiri disebelahnya,
tiba-tiba ia merangkulmu. Kau mengetahuinya, ia sedang menangis melihat satu
figura foto yang berukuran besar didinding ruang tengah, tempat kau memijak.
Ya, kau baru merapikan barang-barang yang dulu dibelinya dan berguna untuk
mengisi rumah lamanya. Kau, dan suamimu, telah berpindah ketempat yang lebih
bagus untuk dihuni, bersama satu anak lelaki kalian.
Kau kembali melihat-lihat
kesekeliling, tanpa berpindah tempat. Ruangan yang cukup besar ini khusus untuk
anak-anakmu nanti. Televisi, sofa panjang, untuk bersantai dan bermain
anak-anakmu bersama ayahnya nanti. Lalu kau akan cemburu jika anakmu antusias
untuk menonton bola bersama ayahnya. Kau tertawa dalam hatimu, betapa hidupmu
semakin berwarna saja. Kau merasa, Tuhan memberi banyak keajaiban yang tak
henti-hentinya untukmu.
Kau berniat untuk pergi kekamar
anakmu yang sedari tadi terlelap dalam tidurnya, dari mulai perjalanan menuju
rumah barumu. Tidak. Kau terhenti di satu langkah pasti, karena suamimu yang
berbadan tegap itu, memelukmu pelan. Dia.. terisak.
“Jagiya..” katanya. Kau hanya
dapat membelai lembut kepalanya, juga punggungnya. Kau melirik sedikit apa yang
membuat lelakimu seperti ini. Tiga foto yang sengaja dicetak besar, fotomu
dengan gaun pernikahan terindah juga dirinya yang terbalut tuxedo hitam tampan
karismatik, fotomu dengan baju santai bersama anakmu yang masih berumur tiga
tahun, juga.. foto dirinya bersama empat belas member lain Super Junior yang
mungkin dirindukannya.
Suamimu terlalu sensitif jika
dipautkan dengan Super Junior. Betapa ia harus pergi wajib militer, lalu
rekan-rekan lainnya pergi melakukan kegiatan yang sama secara bergantian.
Mungkin, hal-hal seperti saat keempat belas member bersama, akan menjadi moment yang paling indah dalam hidupnya,
dan kau tahu itu.
“Oppa..” ucapmu tak berdaya,
“..wa—waeyo?”
“Gomawo sudah menungguku..” Eh.
Kau diam. Kau benar-benar tidak mengerti, apa yang membuatnya seperti ini.
Sedetik dua detik, kau hanya dapat membeku dalam pelukannya. Setelah ia menarik
tubuhnya dari tubuhmu, dan mengangkat satu tanganmu untuk dikecupnya, senyum
bahagiamu menetralkan suasana.
“Super Junior menungguku. Aku
datang, dan mereka harus pergi bergantian. Aku merindukan mereka saat mereka
pergi wajib militer, dan ternyata, menunggu itu melelahkan. Mungkin anggota
yang lain juga merasakan sama akan hal itu, ya?”
“Kau merindukan mereka ya, oppa?”
katamu sambil tersenyum, lalu dibalas anggukan, “..hey, lagipula mereka
menunggumu dengan tulus, kok!”
“Aku juga membuatmu menunggu
selama bertahun-tahun. Aku.. tadinya ingin menikahimu sebelum aku masuk ke
Super Junior. Maaf jika aku tak pernah ada disaat kau butuh. Maaf jika aku
pergi wajib militer dan tak pernah mengirim kabar. Maaf jika aku harus
menyimpan erat-erat hubungan kita karena Lee Sooman tidak pernah ingin
anak-anaknya memiliki kekasih. Oh, aku punya banyak kesalah—“
Kau mendorong dirimu sendiri
ketubuhnya. Sebisamu, kau memeluknya dengan tangan kecilmu erat, “I Love you too.”
Kau sudah memaafkannya lama, jauh
dari waktu ini. Buktinya, kau menerimanya untuk menjadi ayah dari anakmu.
**
Shin Donghee
Choco
pie, macarons, juga
makanan ringan yang lain sudah habis dilahapmu. Oh, entah apa yang mendorongmu
untuk memakan banyak makanan ringan seperti ini. Tapi yang jelas, hal ini
hampir sama seperti yang dirasakan olehmu saat kau ngidam di kehamilanmu yang
pertama setahun yang lalu. Kau merasakan angin Seoul berhembus kearahmu, dan kau
hanya dapat mengeratkan selimut agar bayi yang kau gendong, tidak kedinginan.
“Oppa, tidak mau coba?” katamu
menawarkan sisa chocopie yang tinggal satu. Dia menggeleng keras, dan
memalingkan wajah. Seperti benci terhadap chocopie yang kau tawarkan.
“Aish jinjja! Istriku rakus
sekali!” katanya membuatmu tertawa. Ini –mungkin- hanya siklus pengembalian
dirimu. Toh tiga bulan yang lalu, kau baru melahirkan anakmu. Jadi, kau juga
tak bisa heran pada dirimu sendiri yang tak pernah puas memakan cemilan. Tapi,
kau melampiaskan heranmu pada suamimu yang sekarang terlihat lebih kurus
darimu. Dia malah benci memakan hal-hal seperti itu sejak kau hamil. Kata
orang, itu biasa.
“Oppa, ayolah coba makan! Temani
aku. toh kalau kau makan juga takkan membuatmu kembali gendut seperti dulu,
kok!”
“Kau tahu, sulit untuk
mengecilkan perutku ini, jagi..” katanya sambil memukul-mukul perutnya dengan
telapak tangannya. Sepertinya, ia tak rela jika perutnya kembali menggembung
dan melebar seperti pertama kali ia masuk ke grup mendunia bernama Super
Junior, “dan kau…”
Shindong –namanya, lelaki paling
berisi diantara lelaki-lelaki lain di Super Junior itu menunjukmu, dan
mengisyaratkan dimatanya bahwa dia benar-benar mengejekmu. Kau menatapnya
sinis, “APA! AKU GENDUT?”
“Ne!”
“KAU BENCI JIKA AKU GENDUT?!” kau
merajuk, lalu pergi meninggalkannya sendirian dikursi taman. Betapa kesalnya
dirimu, dikatakan gendut secara tidak langsung, padahal kau sendiri yang
membawa beban anakmu selama sembilan bulan lamanya. Padahal, kau berencana
untuk melakukan diet nanti. Tetap saja kau kesal, mentang-mentang suamimu lebih
kecil darimu.
“hey, hey. Kenapa merajuk?”
Tangan besar Shindong menggenggam erat lenganmu. Kau terpaksa menghentikan
langkahmu, merasakan lelah dilengan satunya membawa anakmu yang masih kecil
sekali. Wajahmu mengisyaratkan kekesalan yang sangat dalam, dan lelakimu hanya
tersenyum menggoda dengan tatapan mata indahnya.
“SIAPA YANG MERAJUK!” katamu
kencang, “..kau tidak merasakan lelahnya aku membawa anak kita selama sembilan
bulan, sekarang kau malah mengejekku gendut. Oppa, nanti juga aku kurus huh!
Kau benci aku gendut seperti ini?”
“Yang bilang aku benci saat kau
gendut siapa, jagiya…” Shindong meluncurkan bibirnya dipipimu, lalu mengambil
bayi kecil nan cantik kedalam tumpuan tangannya. Kini kau bebas meregangkan
tanganmu, “Aku malah semakin cinta padamu jika kau makan seperti tadi.”
“Jadi kau hanya cinta padaku saat
aku makan?” katamu menggoda, dan suasana tegang cair pada saat itu. Kau
tersenyum, dan ikut menghadap kearah bayi yang sedang digendong ayahnya.
Shindong berbisik pada bayi kecil
yang sedang tertidur digendongannya setelah itu, “..cantik, jika kau suka
makan, appa tidak melarang kok!”
**
Choi Siwon
Siwon namanya. Ia sibuk kesana
kemari bersama kereta belanja yang didorongnya. Semua mata terpaku pada
ketampanannya yang jelas-jelas sudah menjadi milikmu selamanya. Jelas, lelaki
milikmu ini tidak memakai perlengkapan apapun seperti masker, syal, atau mantel
yang biasa ia pakai saat masih bersama Super Junior ketika itu. Kau malu, atau
bangga, rasa itu bercampur jadi satu dan mengoyak tubuhmu menjadi rasa lelah
yang sangat menusuk. Bagaimana tidak? Super Junior Siwon, yang ketika itu
mendapatkan gelar Prince of Manner dan lelaki yang memiliki karisma paling
tinggi diantara yang lainnya, kini berada didalam supermarket bersamamu.
Semua orang, terutama
wanita-wanita dan gadis-gadis berusaha berfoto dengannya. Dan kau.. jelas
dicampakkan.
Belum lagi setelah ia menikahimu
dan meminta ijin untuk melangkahi ketiga hyungnya, Sungmin, Eunhyuk dan
Donghae, lalu kau positif hamil, oh. Semua berubah. Siwon berubah menjadi
saaaangat protektif padamu. Bahagia, juga risih.
Dan kini, Siwon sibuk berada
dirak-rak perlengkapan bayi. Kau mengandung 2 bulan, ada calon Choi Junior yang
akan membuat keluarga kecilmu menjadi berwarna. Siwon, yang terlalu kaya atau
terlalu berlebihan, mengambil dua kereta bayi berwarna biru dan pink sekaligus,
baju-baju bayi berwarna-warni dan tak terhitung berapa jumlahnya. Katanya,
siap-siap jika kau nanti mengandung anak perempuan atau laki-laki. Kau
terenyuh. Dia antusias menjadi seorang ayah.
Tapi tidak untuk hal ini. Sedari
tadi siang, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya menjadi model di satu CF
minuman, ia pulang menjemputmu. Lalu mengoceh tentang ‘bagaimana bayi kita
nanti’ tanpa henti, hingga waktu menunjukkan pukul enam malam, dia masih sibuk
memilah-milih perlengkapan bayi yang sebetulnya tidak diperlukan saat ini. Toh,
junior Choi yang tertanam disetiap nafasmu belum tentu akan keluar, kan? Ini
masih berumur dua bulan.
Satu hal lagi, kakimu sudah tak
kuat lagi untuk berdiri mengikuti antusiasme-nya yang tinggi. Didalam tubuhmu
ada calon nyawa, dan seharusnya, suamimu tahu akan dirimu yang wajib
memperbanyak waktu istirahat.
“Oppa..”
“Kotak makan untuk bayi laki-laki
kita harus warna putih atau biru? Oh! Bagaimana dengan bayi kita yang
perempuan? Disini ada warna oranye dan pink?” katanya tanpa henti. Kau menghela
nafas, lalu menunduk. Rasa kram yang menusuk-nusuk terus betismu benar-benar
tidak bisa dihalau lagi. Lelakimu tetap begitu dari dulu. Dia tidak sadar atau
bagaimana, kakinya tidak kuat seperti kakimu.
“Oppa, ayo kita makan dulu.
Kakiku sakit sekali..” ucapmu mengeluh tak tahan, sambil memijit pelan betismu.
“Oh, gwaenchanayo?” katanya
sambil mendekatimu. Kau tak tahan lagi, kesal setengah mati. Dia egois atau
bagaimana, masak baru kali ini ia menanyakan ‘gwaenchana’ padamu!
“Pikir sendiri!” Kau berjalan
menuju luar supermarket, dimana di mall
yang sedang kau pijak, ada restoran cepat saji. Yang pasti, kali ini, kau juga
lapar. Kau meninggalkan Siwon bersama kegiatan ‘menyebalkan’nya itu.
Membiarkannya sibuk akan khayalannya dengan bayimu nanti. Mungkin dia sedang
sibuk membayar dan juga kesusahan untuk membawa segitu banyak perlengkapan yang
ia pilih sendiri.
Kau memesan satu porsi nasi dan
ayam, juga air putih, simpel. Yang tidak merusak calon bayimu, karena mulai
saat ini hingga nanti, kau harus benar-benar teliti dengan apa yang kau makan.
Kau duduk dikursi kosong yang tersedia, lalu menidurkan kepalamu yang juga
berat. Berpikir, betapa lelakimu menyebalkan sekali.
Waktu berjalan tak terasa. Kau
menghabiskannya dengan mengistirahatkan diri. Tak lama kemudian, suamimu yang
memiliki paras tampan itu mendekatimu, duduk desebelahmu, dan menarikmu
ketubuhnya.
“Sakit?” tanyanya. Kau mengangguk
tak berdaya. Bagaimana lagi? Tingkahnya terlihat kekanakkan sekali
disupermarket tadi.
“Oppa.. kita belum membutuhkan
itu. Junior Choi belum besar. Kita tidak tahu dia akan perempuan atau laki-laki.
Kau berlebihan oppa. Aku lelah..” Kau mengeluh ditubuhnya, memejamkan matamu
yang begitu berat. Kau memeluk dirimu sendiri dengan tanganmu, mengelus pelan
perutmu, dan sedetik kemudian Siwon memelukmu hangat. Kau menerimanya,
menikmatinya.
“Aku terlalu berlebihan, ya?”
katanya. Ia mengeratkan pelukannya. Kau mengangguk didadanya, dan airmata jatuh
dari pelupuk matamu, “..oppa hebat. Kau siap menjadi seorang ayah.”
“Tapi aku tak hebat menjaga
istriku sendiri.” Bisiknya setelah mengecup puncak kepalamu. Kau tak berkata
apapun. Diam. Dan dia kembali memecah keheningan, “..mianhata, itu.. oh.
mungkin karena aku terlalu menginginkan bayi kita.”
“Jangan diulangi ya, oppa. Aku
lelah sekali.” Katamu. Dan tanpa diminta, kedua tangannya mengangkatmu dari
dudukmu. Tubuhmu ada digendongannya. Kau sempat menolak, tapi dia terlalu kuat,
buktinya dua kantong plastik besar juga dibawanya. Kau, bangga memilikinya.
Bukan karena dia kuat, tapi keprotektifannya yang begitu besar untukmu,
memberikan kesan sendiri untukmu bahwa Siwon adalah suami yang diinginkan oleh
semua wanita.
“Aku belum memakan pesanan yang
kupesan tadi, oppa..” bisikmu dalam gendongannya. Derap langkahnya memecah
kerumunan mall yang menjadikan
suamimu menjadi pusat perhatian.
“Aku akan memasak untukmu nanti.
Percayalah.” Kau tersenyum. Siwon, akan menjadi ayah yang baik untuk anakmu
kelak. Dan menjadi suamimu yang paling kau cintai.
**
Lee Sungmin
Bantal, guling, dan juga selimut
lengkap ada disekitarmu. Kau berusaha menahan apapun yang mengoyak perutmu. Kau
menggelinjang tak karuan. Ini benar-benar tidak bisa dihalau lagi, kau
membenamkan wajahmu dibantal sampai menangis. Memeluk perutmu kencang, tak
biasanya maag milikmu sesakit ini.
Toh, kau tidak memakan makanan yang pedas sebelumnya. Atau bahkan, tidak makan
sekalipun. Seingatmu, kau sudah makan malam.
Mengingat ini tengah malam, kau
membiarkan suamimu tetap terjaga dalam tidurnya. Kau berjalan menuju kamar
mandi yang tak jauh dari tempat tidurmu. Pelan-pelan, kau melakukan pemijatan
disekitar lehermu sendiri. Dan sesuatu naik dari tubuhmu, kau ingin
mengeluarkannya, tapi nihil. Tak ada apapun yang kau muntahkan.
Suara-suara muntahan pun kau
keluarkan. Walau kau berusaha untuk meredamnya agar suamimu itu tak terbangun,
ternyata tidak mudah untuk melakukannya.
Kau mencengkram kencang pinggiran
wastafel dari marmer tersebut, dan kembali memuntahkan isi perutmu. Tidak bisa
juga. Kau lemah tak berdaya, memojokkan diri didinding dan menangis. Kau tidak
memikirkan apapun, yang pasti, hanya hal negatiflah yang mengisi otakmu dimalam
ini. Kau ketakutan sendiri.
Tiba-tiba, satu hal merasuki
dirimu. Kau sadar, ini tanda-tanda kehamilan awal yang biasanya terjadi pada
seorang wanita yang baru pertama kali hamil. Apa mungkin? Ah. Kau tidak mungkin
hamil. Kau tidak percaya, secepat inikah kau akan menjadi ibu dari anakmu?
Tapi, apa salahnya untuk
memastikan? Kau berjalan sebisamu menuju lemari. Mengingat, Lee Sungjin,
dongsaeng paling menyebalkan itu menghadiahkan alat tes kehamilan
dipernikahanmu saat itu. Kau bahkan ingin mencacinya ketika kau mendapati
namanya dikotak yang berisi alat tersebut. Mungkin Lee Sungjin benar, baru
sekarang terpakainya. Lelaki bodoh itu pintar juga, pikirmu.
Kau kembali kedalam kamar mandi
untuk memastikan. Kau tersenyum. Ada dua garis merah disana. Kau mengelus pelan
perutmu, tak percaya. Apa ini waktunya? Waktumu untuk menjadi seorang ibu dari
anak-anakmu?
Kau keluar dari kamar mandi
setelah puas menangis bahagia didalam sana. Lalu duduk dihadapan suamimu yang
tertidur sambil tersenyum. Kau menelusuri wajahnya dengan jarimu, terharu.
Lelaki yang kau pilih itu, akan menjadi seorang ayah. Ia terlalu manis untuk
menjadi seorang ayah, bahkan. Sisi aegyo-nya tetap yang paling juara didunia
menurutmu. Kau mengecup pipinya kilat.
“We have Captain Lee in my tummy, dear.. We have. We will have a
captain!” ucapmu seru. Kau tak merasa bersalah pada dirimu sendiri, saat
suamimu itu bangun dari tidurnya, dan terkejut melihatmu berwajah pucat dan
basah.
“Eh, jagiya? Kau—bangun?” ucapnya
setengah sadar. Kau mengangguk, “wae? Ada masalah?”
“Besok kita kerumah sakit, ya?”
“eh? Kau kenapa? Ada masalah?
Kau.. Kau sakit?” Suamimu langsung bangun dari tidurnya, dan mengangkat
tanganmu untuk kembali tidur di tempat tidur. Dia sibuk mengecek keadaan
panasnya tubuhmu. Kau hanya bisa terharu disini, bingung.
Dan pada waktu yang tepat, kau
memperlihatkan alat yang –dengan bodohnya- diberikan oleh adik iparmu itu. Suamimu
terbelalak tak percaya. Menganga, memberi tatapan pertanyaan bahwa itu bukan
hal palsu atau bahkan mimpi belaka, “JINJJA?!”
“Molla. Makanya besok, kita
kerumah sakit, ya?” pintamu. Suamimu mengangguk antusias. Dia memelukmu. Malam
itu menjadi terasa sangat istimewa bagimu. Kau, memilikinya sebagai ayah dari
anakmu, bahkan Tuhan memberimu kepercayaan jika memang benar kau mengandung
seorang kapten kecil Lee yang sering kau sebut disetiap doamu.
Lee Sungmin, dia.. akan menjadi
ayah. Wow. Kau menerawang, bagaimana nanti? Lelaki manis itu akan memiliki anak
kecil yang wajahnya tak jauh persis dengan ayahnya. Kau memiliki jackpot dalam hidupmu, kebahagiaan,
keceriaan, disetiap waktu yang akan kau langkahi nanti.
“Kalau captain Lee kita ini benar ada..” ucap Sungmin sambil tetap
menahanmu dalam pelukannya. Kau menjawab, “..bantu aku menjaganya, ya?”
Anggukan pelan Sungmin
menghangatkan malam dingin itu. Dan nanti Captain
Lee-mu itu, harus tahu, betapa ayahnya adalah seorang lelaki yang paling
mencintainya selamanya.
**
Lee Donghae
Kau masih terlelap, dan setengah
sadar. Selimut yang tadinya ada dikakimu, beranjak menutupi tubuhmu hingga
bahu. Kau tersenyum, dia pasti yang melakukannya. Masih dengan mata terpejam,
lelaki yang hanya tertutup celana selutut itu memberikan morning kiss mesra dibibirmu. Dia membelai lembut pipimu, lalu
rambutmu yang lurus dan tak beraturan. Kau masih tersenyum.
“Yeppeo..” ucapnya. Sadar, dia
sudah bangun mendahului dirimu, lalu kembali tidur tepat dihadapanmu. Kau
membuka matamu, dan matanya menatap tajam. Mengisyaratkan bahwa dia juga
bahagia akan hal yang kau dan dia lakukan. Tangan kanannya membelai terus pipi
pualammu tanpa henti.
“Gomapta..” tuturmu. Kau menyukai
belaiannya, tak ingin melewatkan sedetik pun apa yang ia lakukan padamu. Satu
kecupan lagi mendarat dipipimu. Sepertinya, itu adalah hobi barunya.
“Lelah, ya?” tanyanya penuh
perasaan. Kau mengangguk pelan, dan kembali menarik selimut yang menutupi
tubuhmu. Yang kau dengar, hanyalah suara kekehan kecil dari bibirnya, “..salah
siapa kau begitu liar tadi malam!”
“Oppa yang mulai!” katamu sembari
memajukan bibirmu. Kesal, tapi juga senang. Donghae, yang sejak dua hari yang
lalu mengucapkan janji sakral di altar bersamamu dan harus melangkahi Eunhyuk
–hyung kesayangannya-, mengajakmu ke rumah baru yang kau pesan bersamanya.
Bertempat di Mokpo, tempat kelahirannya, dia sudah punya ijin untuk memilikimu
seutuhnya. Cubitan kecil dihidungmu berakhir dengan tangannya yang mendorongmu
untuk duduk. Lelakimu duduk memelukmu dari kanan, dan kau hanya bisa memejamkan
matamu, merasakan hangat tangannya
Dia benar-benar menggantikan
dinginnya pakaianmu. Sadar, kau hanya memakai lingerie hitam tipis, dan dia berhasil menghangatkanmu.
“Gomawo ya, jagi.. Maaf membuatmu
lelah, haha!” Serunya. Kau memukul pelan
dadanya yang tak ditutupi apapun, sebal, “..Ish!”
Donghae-mu itu beranjak dari
tempat tidur yang kau tempati. Kau melihatnya heran, untuk apa ia meninggalkanmu?
“Mau kemana?” tanyamu. Berharap
ia kembali memelukmu seperti tadi, “..mengambilkanmu sarapan. Tunggu disitu.
Jangan beranjak!” Donghae pergi menuju keluar kamar dengan pakaian seadanya. Ia
memakai kemeja putihnya asal yang tergantung di lemari sebelumnya. Kau
mendengus tak berarti, memberikan tatapan bosanmu kearah layar LCD yang kini
tak mengeluarkan suara apapun. Kau menyalakannya dengan satu gerakan cepat,
menekan tombol merah yang ada di remote control ditanganmu. Merasa bosan,
karena tidak ada yang bisa diajak berbicara.
Kau menghela nafasmu bosan,
sambil memperhatikan ruangan besar yang terwarna oleh sinar matahari terik yang
menembus kaca bening kamarmu. Seoul sudah pagi, tapi kau tidak dapat beranjak
karena rasa nyeri menjalar keseluruh kakimu. Mungkin kali ini, kau harus
melakukan hal yang aneh atau.. sesuatu yang bisa membuatmu tidak bosan seperti
ini. Kau memilih untuk menggenggam IPod-mu, mencari lagu yang pas untuk pagi
bosanmu.
Kau memilih satu lagunya, lagu
favoritmu sejak Donghae menjadi kekasihmu ketika itu. My Everything. Karena lagunya-lah, yang kau dengar saat Super Show
diadakan pertama kali di Seoul, kau jatuh cinta padanya.
The
loneliness of nights alone
The
search for strength, to carry on
My
every hope has seemed to die
My
eyes had no more tears to cry
Kau meresapi suara lembutnya,
lalu tersenyum disela-sela suaranya. Tadinya, kau cukup dengan volume kecil
yang tercipta dari benda kecil itu. Tapi, tidak. Pada akhirnya kau menyimpan
IPod berwarna pink-mu diatas satu set subwoffer kecil lengkap yang tersedia
diatas meja kecil yang ada disebelah tempat tidurmu. Suara Donghae menguasai
kamarmu –kali ini-. Kau memejamkan mata, mematikan televisi, mengingat bahwa
kau juga kehilangan seorang ibu ketika kau sedang berada dipuncak bahagiamu
menjadi seorang model terkenal.
Tak disangka, airmatamu jatuh deras
setelah suara suamimu masuk ketelingamu, dan membuat hatimu bergetar karena
karyanya.
You
are my everything
Nothing
your love won’t bring
My
life is yours alone
The
only love I’ve ever known
Kau terdiam sesaat, bahkan
menyetarakan suaramu dengan suaramu. Menyadari bahwa suaramu juga tak buruk
untuk didengar. Tapi sayang, Donghae datang dan berjalan kearahmu membawa baki
dengan dua piring roti panggang. Kau segera mematikannya, tapi tak sempat.
Donghae sudah menaruh bakinya dengan cepat dan kembali ketempat tidur. Dia
mencolek lenganmu, untuk kembali bernyanyi. Bahkan mengisyaratkan untuk
bernyanyi bersama. Kau mengangguk, dan menatap wajahnya dengan seksama. Mungkin
Donghae juga sadar bahwa kau habis menangis.
Your
spirit pulls me through
When
nothing else will do
Every
night I pray
On
bended knee
That
you will always be, My everything..
Suaranya membuatmu terenyuh. Kau
diam dalam hening. Satu yang kurang dari kebahagiaanmu, ijin seorang ibu yang
seharusnya menanti pelukan cucunya setelah kau memiliki anak nanti.
“Jagi, kenapa memilih lagu ini?”
tanyanya sambil membelai lembut garis matamu, menghapus bekas air mata yang ada
diwajahmu, “..ani. gwaenchanaya.” Ucapmu tak jujur. Donghae terlalu tahu
dirimu, dia pasti bisa menebak apa yang kau pikirkan.
“Ibumu tahu bahwa kita bahagia
saat ini. Ayahku juga tahu bahwa kita menikmati waktu seperti ini. Jadi,
uljimaya jagiya..” katanya. Kau memeluknya. Suasana romantis yang berubah menjadi
haru itu, malah membuatmu menyesal. Kenapa harus lagu ini? Oh.
Donghae-mu mengecup puncak
kepalamu dengan dua jarinya yang menjepit dagumu, “Kau punya aku. Kau bisa
andalkan aku jika kau sendirian. Kau bisa berbagi masalah denganku saat ini.
Karena—“
“Karena aku istrimu.” Ucapmu
memotong pembicaraannya. Donghae memamerkan giginya, “..Ne, aku suamimu.”
Saat itu, kau tak lagi menunduk,
tak lagi menyembunyikan matamu yang disusupi air. Lirih. Kau tersenyum saru,
dan Donghae menarik wajahmu lagi dengan tangannya.
“Sarapan, ya?” Tahu-tahu, kau
mengangguk patuh. Donghae, pasti bisa mewarnai harimu.
**
Lee Hyukjae
Disinilah dirimu saat ini.
Menatap siluet tubuhmu yang terbalu gaun putih berenda bunga-bunga dibagian
dada, bahumu terekspos mulus karena hanya dua tali kecil yang menahan gaun
berat itu. Kau mengikat rambutmu keatas, lalu melepaskannya. Kembali asik
memainkan rambutmu, harus diapakan rambutmu nanti? Kau tersenyum.
Gaun putih yang kau pakai begitu
pas ditubuhmu. Cocok untuk seorang gadis yang bertubuh kecil. Kau keluar dari
ruangan kecil sempit, tempat kau berganti pakaian santai dengan gaun indah ini.
Kau melihat pusat matamu yang tertuju pada seorang lelaki berpakaian tuxedo
hitam dengan kemeja putih didalamnya. Ada dasi berwarna silver juga garis
berkilauan dikerah jasnya. Bunga merah kecil yang ada disela saku dadanya juga
mempermanis dirinya. Dia, tampan untukmu.
Kalian saling tertawa satu sama
lain. Kau seperti sedang menikah saja, hanya tanpa make-up, dan persiapan, juga
bukan di gereja, melainkan dibutik. Kau sedang berada dalam penyewaan gaun
pengantin ternama di Seoul, tempat penyewaan pakaian pengantin hyungnya suamimu
sebelumnya. Hyukjae, atau biasa dipanggil Eunhyuk itu, mendekat kearahmu.
Membetulkan letak lipatan gaun yang kau pakai, yang terlihat tak beraturan.
Lalu kau kembali menatapnya, berada dalam satu garis lurus bersamaan. Bahagia,
itu yang memenuhi seluruh darahmu saat ini.
“Cantik sekali.” Pujinya. Kau
merona, mendengar suara seraknya memujimu dengan tulus, “gomawo.”
“Mungkin, aku akan lupa bagaimana
cara menjawab pendeta saat aku melihatmu. Kau, akan benar-benar mencuri mataku
di gereja nanti!” akunya sambil mengerling nakal. Kau memukul bahunya pelan,
lelaki yang akan menjadi suamimu itu benar-benar raja gombal didunia ini.
“ish.” Katamu. Kau membalikkan
tubuhmu, lalu menemukan seorang designer wanita yang sudah menunggu kritikmu
terhadap gaun yang ia gambar sendiri.
“Bagaimana? Cukup? Sesuai
keinginan?” tanyanya. Eunhyuk mulai mendekatimu, berdiri tepat disebelahmu.
“Pas. Calon istriku cantik. Dan
aku tampan.” Serunya terlalu tinggi. Wanita berkacamata itu tertawa mendengar
seruan polos dari bibir lelakimu, kau juga. Apa-apaan? Belum jadi suamimu saja
dia sudah menyebalkan!
“Oh onnie, bagaimana dengan
sepatu kami?” tanyamu. Wanita itu terlihat lupa, lalu berbalik mengambilkan dua
kotak berisi dua pasang sepatu yang akan kau pakai nanti. Kau mengambilkannya
untuk calon suamimu, dan untuk dirimu sendiri. Kau memakainya, cukup sulit.
Bahkan, kau membutuhkan tangan Eunhyuk untuk memakai sepatu yang cukup tinggi
itu.
Sekarang tinggimu sudah setara
dengan calon suamimu, yang juga memakai sol tambahan. Haha, bagaimana kesan
para tamu undangan jika Eunhyuk, sang pengantin lelaki lebih pendek dari
istrinya. Kau berpikir sendiri, lalu tersenyum berarti.
Tanpa sadar, Eunhyuk
memerhatikanmu. Betapa sulitnya kau berdiri dengan gaun berat yang ada
ditubuhmu, juga sepatu yang kau pakai.
“Noona, sepatu calon istriku
jangan terlalu tinggi. Kasihan dia. Aku tak mau dia jatuh digereja nanti.” Kau
menatapnya dari pinggir heran, Eunhyuk memerhatikanmu cermat. Bahkan, tadinya
kau tak akan merubah ketinggian sepatu hakmu, “..oh. bunga dijasku diganti jadi
mawar putih, ya noona?”
“Joayo. Nanti ku ganti! Kalian..
terlihat sangat serasi!” ucapnya sebelum pergi menjauhimu dan calon suamimu
itu. Kau tersenyum, dan merasakan tangan calon suamimu itu menarik tubuhmu
untuk ikut dengannya. Kau patuh mengikutinya.
Terhenti di satu sisi dinding
yang full dengan cermin. Kau melihat
pantulan wajah Eunhyuk, dan dia juga begitu. Menatapmu dalam-dalam. Sadar, dia
sudah menggenggam tanganmu dengan kedua tangannya. Kau menerimanya, menerima
satu kecupan kilat dipipimu.
“Seminggu lagi, jagiya..”
“Ne, seminggu.”
“Kau akan menjadi milikku. Utuh.”
Katanya cepat. Kau menggenggam tangannya erat, tak ingin ia pergi darimu, “aku
akan menjadi ratu dari semua Jewels diseluruh dunia!” serumu aktif. Dan kalian
tertawa. Sepertinya kau benar-benar harus menunggu seminggu lagi untuk kembali
memakai gaun yang sedang kau pakai kali ini. Oh seminggu lagi.
Eunhyuk akan jadi milikmu, kan?
Sabarlah.
**
Kim Ryeowook
Ini hanya ide gila darimu, yang
disetujui oleh tunanganmu. Kau menyuruhnya untuk datang kerumahmu, membawa
banyak foto Super Junior dari sejak debut hingga sang leader memiliki anak,
bahkan hingga saat ini. Kau menyuruhnya untuk mengarsipkan foto-fotonya kedalam
satu tempat, dan menyatukannya menjadi satu mozaik.
Kau, yang notabenenya adalah
seorang pelukis, mudah untuk melakukannya. Kau menyimpan ratusan foto itu ke
berbagai figura yang sudah kau beli sebelumnya. Kau melakukannya sendiri,
sedangkan tunanganmu angkat tangan karena tak berhasil membuat satu figura-pun.
Akhirnya, hanya kau sendiri yang kini sibuk bergelut dengan puluhan pack foto-foto yang memiliki macam-macam
ukuran itu. Sedangkan tunanganmu, bergelut dengan masakan yang sedang ia buat
didapur bersihmu. Aroma makanannya selalu membuatmu semangat, bahkan hal berat
dan sulit apapun. Dia adalah alasan energimu.
Kau mengelompokkan dalam berbagai
figura. Ada fotonya yang sibuk di Sukira bersama Sungmin, ada 13 lelaki dalam
satu foto berukuran besar di album bertajuk ‘U’, ada juga foto session penuh
karisma di album keempat, juga foto yang menurutmu aneh dialbum kelima. Ada
juga foto-foto saat berada di konser Supershow, SMtown, bahkan di China bersama
Super Junior Mandarin. Ada juga foto-foto selcanya
bersama Yesung yang diketahui adalah roommate-nya selama tahun-tahunnya bersama
Super Junior.
Kau menyelesaikannya dalam waktu
singkat. Kau menyisakan dua foto berukuran lebih besar dari yang lainnya, dan
menyimpan dalam satu figura. Foto saat ia berlibur ke pantai, dan saat kau
bermain piano untuknya. Entahlah, kau mencintai dua foto itu. Sepertinya, kau
harus menyimpan figura ini tepat ditengah, sebagai pusat dari figura-figura
yang lain nanti, kalau kau jadi membeli apartemen yang pernah direncanakan
olehmu dengannya.
Tak lama dari itu, lelaki yang
sedari tadi kau tatap gambarnya, nyata dihadapanmu. Membawa dua piring makanan favoritmu,
Barbeque Ddeukbokki. Dia pandai
memasak, bahkan kau harus mengakui bahwa kelihaianmu memainkan spatula tidak
lebih baik darinya. Kau masih lupa memasukkan lada, atau garam. Kau tersenyum
memamerkan gigimu, menyatakan bahwa kau berterima kasih atas masakannya.
“Chungbunhi guwojin*, oppa!”
Serumu sambil memandangnya dengan wajah ceria. Kau menikmati masakannya.
Sekali-kali menatap kearahnya yang malah sibuk memandangmu. Ada rasa malu, juga
percaya diri.
(*)
well done
“Kau lucu sekali jika sedang makan
seperti tadi, hahaha!” Kau mendorong lengannya. Dia malah mencubit hidungmu.
Kau berpikir, bahkan kau tak pernah memasak secepat dan seenak ini. Kau malu
pada dirimu sendiri. Tahu, lelakimu ini lebih pandai darimu. Tapi sebagai
wanita, ada rasa ingin juga memiliki bakat sepertinya, “..aish jinjja!”
Kau merutuk dirimu sendiri. Tidak
fokus memakan ddeukbokki berwarna oranye menyala dihadapanmu.
“Nanti ajari aku memasak ya,
oppa!” ucapmu meminta. Lelaki disebelahmu memandangmu penuh pertanyaan.
Bingung, juga terkejut, “..mwo?”
“Ajari aku memasak seperti tadi,
ya?” lamat-lamat, dia mengangguk. Kau tersenyum dan mengecup pipinya yang
lembut, “..xie-xie!”
“Tapi jangan dirumahku. Aku takut
dimarahi eomma, nanti aku disalahi merusak dapur.” Katamu jujur. Membuat lelaki
dengan watak sangat perhatian dan tak kalah girlie
itu tertawa terbahak-bahak. Kau kesal, sudah pasti! Orang yang menertawaimu
ini, adalah tunanganmu. Bagaimana kau tidak sebal?
“OPPA!!!”
“Hey-hey, jangan memukulku dengan
sumpit!”
“Habisnya, sih.. ish.”
“Kita bisa memasak di apartemen
baru kita, kalau sudah menikah nanti.” Kau melepaskan sumpitmu, lalu merengkuh
kencang lengannya, “..Jinjja?!”
“Aku akan mengajarimu memasak
makanan Chinese, kalau perlu!” Ya. Dia terlalu tahu kecintaanmu pada budaya
China. Dia yang membuatmu jatuh cinta ketika ia berada di china bersama
sub-grup Super Junior yang paling dipuja di China. Kim Ryeowook-lah yang
membuatmu luluh, bersama suara soprano-nya yang tak kalah megah.
Mungkin, kau akan lebih sering
mendengar suara favoritmu itu kedepannya. Kim Ryeowook, sudah berjanji akan
menikahimu.
**
Kim Kibum
Alicia.. sebutnya. Kau mendekat kearahnya
pelan. Memasang wajah terkejut dan tak percaya. Kau mendekat, merasa
terpanggil.
Aku
mencintaimu.. Lelaki
itu merengkuhmu dalam satu gerakan, membawamu kedalam ciuman panjang. Kau
tersengal, dan kertas-kertas berwarna-warni berjatuhan tanpa diminta.
Suara riuh penonton memenuhi
seluruh aula pertunjukkan. Kau melepaskan diri, dan lelaki yang merengkuhmu membantumu
untuk berdiri, dan membungkuk. Seluruh penonton yang ada dihadapanmu, berdiri
dan bertepuk tangan. Kau tetap menggenggam erat satu tangan milik lelaki yang
dicintaimu. Beberapa orang keluar dari belakang panggung, ikut membungkuk
seperti yang kau lakukan dengan lawan mainmu itu.
Ada penonton yang berteriak
antusias, bahkan melemparkan bunga mawar keatas panggung, persis kehadapanmu.
Kau mengambilnya, dan tersenyum pada semua penonton yang menonton pertunjukkan musikal
terakhirmu. Ya, kau seorang aktris yang sudah menyelesaikan drama musikal
terakhirmu hari ini, bersama lelakimu yang juga aktor ternama sekaligus eternal magnae Super Junior, Kim Kibum
sebagai lawan mainmu, juga kekasihmu. Kau yang berperan sebagai Alicia, gadis desa dengan kepribadian
kerasnya untuk mencintai seorang kaisar yang diperankan oleh calon suamimu itu,
sukses besar.
Kau, yang sedang memakai gaun
Sabrina berwarna putih juga biru muda, dan ia yang memakai baju kaisar,
terlihat serasi sekali. Tak disangka, hari ini adalah jadwal terakhirmu untuk
melakukan drama musikal bersama kekasihmu. Akan ada rasa rindu yang memuncak
saat nanti kau menghilangkan satu bagian dari hidupmu, drama musikal ini.
Kau melihat tuan Park maju,
membawa mikrofon dan bicara. Kau hanya mendengar, dan melihat kesekelilingmu,
tua-muda, remaja bahkan orang tua, menonton dramamu yang cukup terkenal di
Seoul. Bahkan tiket VIP-nya habis selama dua jam setelah waktu penjualan tiket
dibuka. Itu waktu yang fantastis.
“Terima kasih pada para hadirin
yang sudah datang menyaksikan drama terakhir kami. Antusiasme para hadirin,
yang membuat kami semangat untuk membuat drama ini. Terima kasih untuk para
sponsorship, para pemain, para panitia dibelakang layar, yang sudah ikut
berpartisipasi dalam drama ini. Sekali lagi, terima kasih.” Tuan Park mundur,
diakhiri dengan suara tepuk tangan dari segala penjuru aula. Dari mulai yang
paling depan, hingga yang benar-benar tak terlihat sama sekali. Kau tersenyum
bangga pada dirimu sendiri, tidak sia-sia perjuanganmu untuk mencapai titik
keberhasilan.
Tiba-tiba tuan Park mendorong
Kibum untuk memberikan sepatah-duapatah katanya. Kau diam, melepaskan genggaman
tangannya. Tapi Kibum kukuh untuk menggenggam tanganmu. Otomatis, kau ikut maju
bersamanya. Malu, pasti! Dia malah tersenyum nakal padamu yang sedang menunduk.
“Terima kasih untuk semuanya,
yang sudah menonton kami. Aku sangat bahagia disini. Terutama menjadi pemain
utama, yang dipasangkan dengan lawan main paling hebat diseluruh dunia.”
Ucapnya. Penonton lebih antusias untuk bertepuk tangan lagi setelah kekasihmu
yang melamarmu beberapa minggu yang lalu itu menyebutkan namamu
dikalimat-kalimatnya, “..aku senang sekali. Ini yang pertama bagiku, melakukan
satu proyek bersama kekasihku sendiri.”
“We need more kiss scene!” Teriak salah satu lelaki bertubuh tegap
dengan kemeja putih dan cardigan biru tua yang dipakainya. Apa? Dia meminta
apa? Kau terkejut. Semua penonton malah menginginkan hal yang sama. Sial –
pikirmu dalam hati.
Sekarang bukan hanya penonton,
tapi seluruh jajaran panitia yang ada dibelakangmu ikut meminta hal yang sama.
Kau malu, tentu saja. Ini bukan bagian tambahan yang tersusun dalam script drama, kan? Oh tidak.
Kibum memiringkan kepalanya. Kau
tak merespon apapun, melihatnya takut-takut. Sadar, tangan yang sedari tadi
digenggam olehmu, terlepas dan meraih tengkukmu. Kau memejamkan matamu,
bibirnya hanya menyentuh dahimu kilat. Kau menghela nafas, menghembuskannya
lega.
Kibum tahu mana yang harus ia
lakukan. Kibum tahu dirimu.
“Kenapa tidak dibibir?!” Protes
lelaki yang meminta adegan tadi. Ada rasa dendam pada dirimu, siapa dia juga
menyuruh kekasihmu untuk menciummu lagi? Cih.
Seharusnya kau minta saja dengan istrimu! – teriakmu dalam hati.
“Mianhae ahjussi. Aku akan
menciumnya dibibir, ketika aku menikahinya nanti.” Dia memandangmu tulus,
seperti meyakinkan. Dan kau mengangguk, Kibum berkata benar. Kau akan menerima
ciumannya lagi nanti, dalam prosesi sakral dalam hidupmu, yang orang-orang
sebut pernikahan. Bahagiakah? Tentu saja. Berpacaran dengannya saja bahagia,
bagaimana jika kau benar-benar memiliki seorang Kibum dengan senyumannya yang
selalu membuatmu menggila? Haha!
**
Lastly, Cho Kyuhyun
Kau masih sibuk dengan agensi
ternama milik kekasihmu. Kau sendirian, malam-malam. Terbilang tidak baik
memang, dalam gedung yang begitu besar, kau berjalan sendirian menelusuri
lorong demi lorong gedung yang sengaja kau buat bersama kekasihmu.
Ya, inilah Museum Super Junior. Yang selalu penuh didatangi oleh turis-turis
dunia dan domestik. Disinilah Super Junior menyimpan baik hasil karya mereka.
Kau melihatnya rinci, ditengah-tengah, ada etalase bening berisi album Super
Junior 05 bersama dengan covernya. Lalu album kedua, hingga album ketujuh.
Bangga, sebagai seorang idola.
Kau kembali berjalan, dimana
disisi kanan dan kirinya terdapat gambar-gambar mereka di dorm, di tempat
latihan, saat Supershow, dan masih banyak lagi. Waktu-waktu yang mereka lewati
bersama, disimpan dalam memori gambar yang tertata rapi dimuseum yang memiliki
dua tingkat ini. Kau kembali memandang cermat sisi kirimu, ada figura super
besar yang berisi phootoshoot
sub-grup Super Junior, juga gambar studio dari mulai album pertama hingga
terakhir. Lagi-lagi, kau hanya dapat tersenyum bangga.
Kau menatap satu ruangan yang
terkunci, kau hanya dapat melihatnya dari luar walau sebenarnya, bisa saja kau
membuka kuncinya. Tidak. ini hanya patung lilin berbentuk kelima belas member
Super Junior, yang kau puja dan banggakan setiap harinya. Kau bisa melihat
daftar lagu-lagu mereka, bahkan mendengarnya dengan free. Kau bisa melihat semua medali dan trofi yang berhasil
dimenangkan oleh Super Junior selama ini. Mungkin mereka, ELF dunia, tak tahu
betapa sempitnya dorm mereka dengan trofi-trofi dan kiriman hadiah dari fans mereka.
Ya, itu sebabnya kau –yang memiliki gedung kosong untuk investasimu- dan
bertempat di tempat strategis, akhirnya berakhir menjadi sebuah gedung berwarna
safir berisikan semua yang menyangkut Super Junior.
Inilah yang membuatmu sedikit
terharu. Betapa mereka tak pernah menyepelekan ELF, mereka tak pernah
melupakanmu, mereka tak pernah sedikit pun berpikir untuk melukaimu dan fans
mereka. Super Junior terlalu indah untuk membubarkan diri. Bahkan hingga album
terakhir, dan seluruh anggota Super Junior harus mengurus kehidupannya
masing-masing, mereka masih satu keluarga.
Dimatamu, Super Junior masih
satu.
Seperti yang kau lihat saat ini,
sebuah figura besar paling ujung, dimana terjajarnya gambar-gambar anggota
Super Junior dengan pakaian warna hijau bercampur hitamnya saat kegiatan wajib
militer yang diikuti oleh mereka. Dimana gambar Kangin terpampang paling atas,
lalu Heechul, dan seterusnya hingga Kibum. Satu ruang masih kosong untuk si
magnae yang belum pulang, Cho Kyuhyun, kekasihmu.
Kau bukan orang bodoh yang akan
tinggal di museum milikmu sendiri malam-malam begini. Toh, kau tahu. Banyak
satpam yang menjaga museum penuh memori ini dengan ketat. Kali ini kau sedang
menunggu. Menunggu kekasihmu pulang.
Kau kembali keruangan dimana kau
berasal. Satu ruangan khusus untuk para anggota Super Junior jika ingin
melakukan reuni. Sengaja kau buat supaya para idolamu merasa nyaman dengan
tempat yang kau buat bersama kekasihmu itu. Kau membuka pelan pintu berwarna
putih bercorak biru itu, melihat sebuah grand
piano besar kesukaanmu. Tak lupa menyimpan juga satu buket mawar putih
diatas piano yang sekarang ada dihadapanmu, yang kau siapkan untuknya, juga
menaruh rapi kotak kecil halus berisi cincin berwarna perak yang diberikannya
sebelum pergi dua tahun lalu.
Kau duduk meraba pelan setiap
jajaran putih hitam itu. Menekannya, mencoba memperkecil suara yang
ditimbulkan, dan bernyanyi lagu favoritmu. Favoritnya.
It
seems as though the accumulated time is being greedy
Seeing
as it hurts more today than yesterday
It
was after I realized that I couldn’t be totally happy with that smile towards
me
That there was nothing special, baby..
Air mata jatuh dari pelupuk
matamu. Kau merindukannya. Merindukan suaranya saat bernyanyi lagu ini bersama.
What
if, it seems like you are going to love me
Because
it seems like you are going to come to if I wait just a little
With
these anticipations, I can’t leave you
Even
though I know that as time accumulates, it becomes pain..
Kau tersenyum disela-sela
nyanyianmu. Ini hanya masalah waktu. Kau hanya perlu bersabar. Dia berjanji
akan datang malam ini, untukmu.
Even
though I wanted to believe that, that smile was just for me
It
probably isn’t, right? But still.. Just Maybe..
Sadar, kau bernyanyi sambil
terisak. Ada rasa gundah ketika waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
Sedangkan lelaki yang seharusnya datang dengan gagahnya untukmu itu, belum juga
menampakkan wajah tampannya. Kau merindukan segala yang ada pada dirinya,
bahkan sikap menyebalkannya ketika ia menjahilimu.
Even
though love increases as much as time’s weight, even though pain is heavy
Still,
I feel like you will love me
Because
it seems like you are going to come to me, if I wait just a little
With
these anticipations, I can’t leave you
Even
though I know that the accumulated time has made today, oh girl..
Kau menghentikan kegiatan
bernyanyimu, dan segera mencari dimana ponselmu berada. Mendengar dering itu tak jauh dari dirimu, kau
menemukannya. Dan segera membaca apa isi dari pesan singkat yang membuatmu
terkejut.
From : Cho
Menungguku? Tempat kesukaanku.
Aku mencari kekasihku :]
Sial, umpatmu. Si tuan evil itu masih jahil juga setelah pulang
wajib militer. Atau mungkin, dia malah sudah menjahili semua anggota militer?
Aish.
Kau berlari menuju grand piano
yang tadi kau mainkan, mengambil kotak cincin dan sebuket bunga mawar putih,
lalu benar-benar berlari menuju tempat kesukaannya. Taman belakang. Berpikir
didalam lift, untuk apa dia diluar malam-malam. Mengingat kau hanya mengenakan
baju seadanya.
Kini kau ada ditaman luas,
terlihat juga namsan tower jelas dari sudut pandang matamu. Juga lelaki
berbadan tegap yang duduk membelakangimu, dengan dua koper besar berdiri
disebelahnya. Kau berjalan pelan, menahan haru air matamu yang mengisyaratkan
bahwa kau sangat merindukannya.
Tiba saatnya, kau memanggilnya,
“..oppa..”
Lelaki itu menoleh padamu, lalu
tersenyum dan merentangkan tangannya, “..merindukanku?” JELAS! Kau berlari
kearahnya. Memeluknya seerat yang kau bisa. Menangis didekapannya. Kali ini, kau
benar-benar bahagia.
“Oppa..” bisikmu dalam tangis.
Lelaki itu berkali-kali mengecup puncak kepalamu, membelai kepalamu, mendorong
lagi punggungmu supaya jarak diantaramu benar-benar hilang. Kau melepaskan
semua penatmu, penat yang mengganjal selama dua tahun terakhir ini.
“Uljima..”
“Dangsini bogoshippeoyo..” Dia
tersenyum melepaskan pelukannya, mengecup dahimu, “..eotokkae?”
“Apa?” tanyamu. Dia tertawa
menyebalkan, melecehkan dirimu. Kau tidak bodoh seperti dia, kau hanya
pura-pura lupa saja. Kau mengeluarkan kotak kecil berwarna putih dari saku
jaketmu, dan diperlihatkannya pada seorang Cho Kyuhyun yang suka sekali
melecehkanmu, dan menganggapmu lebih bodoh darinya. “Yang ini?”
“Oh, kau tidak lupa ya, jagi?
Haha.” Kau mengerucutkan bibirmu, lalu kembali mendekatkan diri ketubuhnya,
“..bagaimana jawabanmu?” tanyanya.
“Jawaban apa?”
“ish. Yeoja paboya! Jawabanmu
atas pertanyaanku dua tahun lalu!!” Katanya berseru. Kau menahan tawa, hanya
saja ia terlalu cepat mengambil kotak kecil yang kau simpan baik selama dua
tahun ini, “.. oke. Akan kuulang sekali lagi. Hm.”
Kau menunggu. Ini hanya soal
waktu. Kau bersabar untuknya.
“Would you marry me?” tanpa buang waktu lagi, kau mengangguk.
Mendaratkan bibirmu dipipinya, dan saat-saat itu menjadi memori terindah dalam
hidupmu. Dimana nanti, kekasihmu yang baru pulang itu akan menikahimu. Dimana
nanti, kekasihmu yang memiliki suara memikat dan wajah tampan itu berhasil
dimilikimu.
Dimana nanti, kau akan membawa
kehidupan berduamu bersamanya, hingga akhir hayat benar-benar memisahkanmu.
-fin-