Your Voice is Ours [2]


Eunhyuk POV

Aku menitipkan semua barang-barangku pada Donghae setelah sampai di bandara. Aku memutuskan untuk naik taksi dan pergi menuju rumah sakit. Dua hari ini, aku tak bisa menghubungi Han Neul, bahkan Hee Rin. Aku tak mau ada hal yang buruk terjadi pada mereka. Hal kemarin pun sudah cukup buruk bagiku, bagi Hee Rin.


Aku berlari menuju ruang rawat. Info terakhir yang kudapatkan dari Han Neul, Hee Rin sudah melewati masa kritis dan dipindahkan ke kamar 21 lantai 4. Aku mengetuk pintu bertuliskan ‘421’ yang bisa kutebak, inilah ruang rawat Hee Rin beberapa hari ini. Aku mengecek dari kaca kecil dipintu, tak ada seorang pun yang lalu-lalang didalamnya. Aku memutuskan untuk langsung masuk saja, dan. Benar tebakanku. Tak ada satupun orang didalamnya.


Aku berlari menuju bagian perawat, menanyakan kemana yeoja manis itu dipindahkan.


“Permisi nona, pasien bernama Hee Rin dipindahkan ke ruangan mana?”


“Mianhae tuan, nona Hee Rin sudah keluar dari rumah sakit ini.” Aku terkejut dengan penjelasan perawat dihadapanku. Tidak mungkin Hee Rin keluar dari rumah sakit. Aku hanya beberapa hari meninggalkannya, dan terakhir dia masih kritis. Kecelakaan itu membuat benturan keras dikepalanya, kan?


“Lalu.. lalu, gadis itu.. Dibawa kemana?”


“Saya tidak tahu, tuan. Yang saya tahu, pasien memaksa untuk kembali ke Prancis dan meminta kakaknya untuk menemaninya.”


“P..Pr..Prancis?”


“Ne, pasien yang memaksa.” Aku hanya mengangguk bermaksud berterima-kasih, lalu membalikkan tubuh. Apa yang diinginkannya! Pergi ke Prancis dengan keadaan sakit? Bahkan aku tak tahu bagaimana keadaannya sekarang.


Aku harus cari kemana kau, Hee Rin.. Aku berjanji, takkan memanggilmu gadis titisan voldemort lagi, aku baru sadar kalau kau lebih lembut dari bidadari. – ucapku dalam hati sambil menendang angin disela-sela kegiatanku menyusuri lorong rumah sakit. Aku benar-benar benci dengan hal ini. Semua salahku. Dan Hee Rin pergi tanpa belum sempat kucegah sama sekali. Aku belum meminta maaf padanya, bernyanyi untuknya, waktuku dan waktunya harus kembali terpisah. Apa hanya dua jam kami bertemu? Aku belum bisa memastikan, kapan lagi kita akan bertemu.


Aku menghentikan langkahku dan diam menatap langit. Cuaca tanpa sinar matahari yang mencolok, dan butiran salju yang turun.


‘Aku tak sabar! Natal akan segera datang, dan aku akan melihat salju pertama turun di Seoul. Ah oppa, aku bahagia sekali!’ Kemana kau Hee Rin? Bukannya kau bahagia, melihat salju di Seoul? Lihatlah bersamaku, Hee Rin. Kubuktikan padamu, ini tidak lebih indah darimu.


‘Ne! Aku harap malam ini salju turun. Agar aku bisa melewatinya denganmu!’ Lalu dimana kau sekarang hee Rin? Tepati janjimu untuk melihat salju bersamaku!

Namja seperti apa aku ini, aku menangis mengerutkan dahiku. Aku tak bisa membuang perkataan terakhirnya sebelum ia pergi tanpa pamit. Aku akan merindukannya, lebih-lebih bahkan berlipat-lipat dari sebelumnya. Aku mencintainya.

**

Sejak itu, hari-hari terasa sulit untuk dijalani. Aku bahkan sulit untuk tersenyum pada bayanganku sendiri di cermin - karena saat itu aku tahu hanya aku sendiri yang terlihat disitu. Meskipun kedengarannya tak masuk akal, sering aku berharap bisa membalikkan waktu. Aku bahkan bersedia memberikan apa saja supaya bisa mengucapkan apa yang selama ini terpendam begitu saja di hati, lebih jelas dari sebelumnya.



Sampai saat ini, aku masih menyesali. Sisa-sisa rasa sesal itu masih ada karena semuanya tak cukup sigap untuk menahannya tetap berada disini.

Beberapa hari lagi menuju natal. Orang-orang terbaikku menyiapkan banyak sekali asesoris natal dalam dorm. Dari mulai merencanakan makanan apa yang akan disajikan, kado apa yang akan diberikan, siapa saja yang akan diundang, apa yang harus digantung diatas pohon natal. Banyak kegiatan mereka yang membuatku sedikit bahagia setelah kejadian itu. Tapi.. tetap saja tidak hilang.

Aku duduk sendiri diruang latihan yang penuh dengan kaca ini. Masih memeluk gitar, merindukan sosok Hee Rin yang beberapa hari ini hilang. Aku diajak Donghae untuk datang ke tempat latihan di gedung SM. Seperti yang kalian tahu, Donghae, Ryeowook, Kyuhyun, Sungmin hyung dan Yesung hyung akan membuka konser keduanya. Mungkin karena Donghae tahu, aku terlalu banyak menguras energiku untuk menangis karena yeoja yang aku cintai selama tujuh tahun terakhir ini.

Mereka –berlima- sedang ada take vocal di ruang sebelah, dan aku lebih nyaman duduk sendiri disini. Memeluk gitar, membolak-balikkkan dua tiket yang digenggamku sejak tadi. Tiket konser mereka yang akan kuberikan jika Hee Rin berhasil kutemukan. Aku cukup menyesal karena aku tak pernah menanyakan dimana alamat rumah-di Prancis-nya. Aku menghubunginya, Han Neul, bahkan mendatangi rumahnya yang di Seoul. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Bahkan, aku berkali-kali memakai jasa dunia maya, tak ada satu-pun yang dibalas oleh keluarga kecil itu.

“Hyuk!” aku menoleh kearah pintu yang sekarang ditutup oleh Leeteuk hyung. Dia datang dan menemuiku.

“hm?” hyung tertua itu duduk disebelahku, lalu bersila dan melepaskan mantelnya.

“Cuaca dingin sekali hari ini.” Aku mengangguk sambil mengacuhkan pembicaraannya, “tadi ada kiriman untukmu. Entah dari siapa.” Leeteuk hyung mengeluarkan bungkusan berlapis kertas coklat tua dan memberikannya padaku. Aku memberikannya pertanyaan yang terpaut diwajahku.

“Buka sajalah. Kiriman dari.. Prancis.” Mwo? Prancis-kah? Aku membelakakan mataku lalu membuka bungkusnya dengan cepat. Sebuah kotak?

“Apa kau sudah makan, hyuk? Aku akan memesan mie ramyun. Sepertinya terdengar enak kalau melihat cuaca sedingin ini. Hm. Kau mau?”

“Ne, pesankan aku satu, hyung!” Leeteuk hyung menepuk pundakku lalu meninggalkanku sendirian lagi. Aku membuka isi kotak itu, dan hanya mengeluarkan buku tulis dan selembar kertas.

Hyuk, mianhae jika membuatmu kaget tentang kepergianku dan Hee Rin ke Prancis.Ini bukan kemauanku, dan aku harus menuruti permintaan Hee Rin yang terdengar sangat ‘gila’ ini. Aku harus mengurus perkuliahannya yang sudah dilepaskan oleh Hee Rin. Dia memintaku untuk mencabut beasiswanya dan tidak meneruskan S2-nya.

Jika kau bertanya keadaan Hee Rin, dia masih bisa berjalan dan menari. Dia masih dapat tersenyum untukku. Dia terlihat baik-baik saja. Tapi sayangnya, hingga saat ini, Hee Rin masih menyembunyikan senyum manisnya. Dia terlalu terkejut dengan keadaannya saat ini. Mianhae, Hyuk. Jika aku menghilang dan tidak bisa menepati janjiku untuk memberitahu semua keadaan Hee Rin setiap harinya.

Aku mengirimkan paket ini tanpa sepengetahuan Hee Rin. Dia tak mau melihatmu kehilangan semua yang membuatmu bahagia. Entah kenapa. Tapi, aku pikir lebih baik mengirim surat seperti ini padamu. Aku hanya sedih melihatnya setiap malam menuliskan namamu disemua bukunya. Dia berusaha meneriakkan namamu tapi tak bisa. Dia hanya dapat menangis. Aku tak mau kehilangan kebahagiaannya. Kebahagiaannya hanyalah bersamamu –untuk saat ini-. Bacalah semua isi tulisannya. Aku mencuri bukunya demi kebaikannya juga, kan. Ya, mungkin kau akan lebih mengerti setelah membacanya.

Aku akan membantumu untuk membawanya kembali ke Seoul di malam natal nanti. Setelah itu, kami benar-benar akan tinggal di Seoul dan takkan kembali ke Prancis karena urusan perkuliahannya sudah kuatur. Dia sering mencoba memberitahuku bahwa ia menginginkan malam natal bersamamu. Tapi, bantu aku juga mengembalikan senyumnya, Hyuk. Aku mohon. Ini permintaanku.

Regards, Kim Han Neul

Entah apa yang membuatku kini diam dalam kegelisahan dan keterkejutan. Apa yang diinginkan gadis ini? Melepaskan S2-nya, meninggalkanku namun menginginkanku? – Aku mengikuti saran Han Neul untuk membuka semua isi catatannya. Diawali dengan hangul ‘Kim Hee Rin’ bertinta oranye. Dan aku mulai membukanya satu-satu.

December 8th, 2011

Malam ini, aku sudah mendapatkan kabar bahwa aku bisu. Dan itu positif. Aku takkan bisa berbicara dengan baik, aku tidak dapat mengeluarkan suaraku, karena itu membuat kepalaku sangat sakit. Oppa memberitahuku tentang kecelakaan itu, dan aku ditolong oleh Hyuk oppa. dimana dia? Aku sakit begini dia malah tidak ada. Ya, aku tahu, kesibukannya akan pelan-pelan membunuh dan merontokkan rambut-rambut putihnya.

Dokter menyuruhku untuk bersyukur dengan keadaan ini. Aku masih mencoba melakukannya. Oppa memberikanku buku ini untuk kutulis setiap harinya, agar aku tidak terlalu merasakan kehilangan. Aku masih bisa bercerita, walau tanpa suara. Tenang Tuhan, aku masih punya waktu untuk mensyukuri pemberianmu ini.

Hanya saja kenapa harus suaraku yang Kau ambil? Itu akan membuat Eunhyuk oppa kehilangan kebahagiaannya ketika aku tak bisa lagi bernyanyi untuknya. Namja paling kusayang setelah appa dan Neul oppa itu akan membenciku. Aku takkan bisa lagi membuatnya tersenyum.

Aku menghapus airmata yang jatuh dibukutulisnya. Hee Rin bisu? Dia kehilangan suaranya? Oh Tuhan. Kejamkah aku merebut sesuatu yang paling indah dari dirinya? Bahkan aku akan juga kehilangan suara-suara merdunya.. Tidak. Untuk apa dia memikirkanku ditengah kesedihannya ‘kehilangan-suara’nya?

Untuk kali ini, aku menyesal menyuruhnya diam. Aku akan mendengarkan semua ucapannya walaupun itu tidak penting bagiku.

December 9th, 2011

Ketika aku terbangun dari tidurku, aku mencoba tersenyum dan memaksa oppa untuk membawaku turun dari ranjang. Aku melihat salju begitu indah. Ya, Dokter memang benar. Tuhan punya segala macam rencana baik untukku. Buktinya, aku tidak kehilangan indra penglihatanku, kan? Salju yang turun sangat-sangat indah.

Aku bahagia, appa akhirnya mendapatkan ijin dari atasannya untuk menjengukku. Appa sudah tahu keadaanku. Aku tahu, dibalik wajah bahagia itu, dia juga terpukul. Dia memberiku semangat untuk terus tersenyum. Aku hanya kehilangan suara, bukan kehilangan bibir – katanya. Iya juga, tapi kan tetap saja..

Kemarin malam aku berpikir, kalau aku meneruskan kuliahku di Prancis, sama-saja tidak berguna. Aku kuliah di jurusan komunikasi, sudah pasti mengandalkan indra pengucapanku. Setelah aku tidak lagi memilikinya, untuk apa aku mempertahankannya? Aku sudah ijin pada appa dan dokter untuk pergi ke Prancis besok. Dokter tidak terlalu mengijinkan, tapi aku memaksa. Aku melihat oppa yang sibuk dengan packingnya dirumah sakit, dan aku juga sudah melepaskan alat-alat yang ada ditubuhku. Aku akan pergi meninggalkan Seoul dan akan kembali entah kapan. Aku akan merindukan senyumnya.

December 10th, 2011

Malam salju di Prancis lebih terasa dingin. Aku dan oppa sampai disini tadi sore. Saat ini, aku hanya bisa duduk diatas kursi roda karena ketika aku berjalan, kepalaku masih terasa nyeri. Aku melihat Neul oppa sedang membereskan semua pakaianku yang kusimpan di satu kamar dorm yang kutempati selama aku kuliah di Prancis. Teman-temanku sempat menjenguk, dan oppa menceritakan semuanya dengan bahasa Inggris yang fasih. Teman-temanku juga sedih, tapi aku tak boleh sedih. Tuhan memberikanku rencana yang baik kedepannya.

Aku memang kehilangan suaraku, tapi aku tak boleh kehilangan semangatku bukan? Ya. setiap hari aku bisa melihat salju, aku bisa mendengar suara oppa. ini bukan akhir cerita hidupku. Hanya.. aku kehilangan hal terbaik yang kumiliki, yang bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Aku.. masih merindukan Hyukjae oppa hingga saat ini.

December 11th, 2011

Sejak tadi malam aku tidak bisa tidur. Aku memetik gitar kesayanganku, dan sekarang aku tak bisa menyanyi lagi. Teman-temanku masih suka datang dan menyalakan lagu kesukaan mereka. Sudah pasti lagu Super Junior. Dan itu membuatku semakin kehilangan Hyuk Jae oppa. bagaimana kabarnya, bagaimana konsernya.. aku hanya tak mau melihatnya sedih karena aku tak bisa lagi memberinya cinta disetiap nada yang kunyanyikan.

Aku menangis semalaman. Sudah habis buku tulisku dengan coretan namanya. Aku merindukannya. Aku ingin melihatnya tapi, ah. Tuhan, maaf kali ini aku tidak bersyukur atas pemberianmu. Ini cukup menyiksa, membuatku jadi tertekan karena tak dapat memberinya alunan nada dalam suara yang selalu dipujinya.

December 12th, 2011

Aku benar-benar tidak bisa tersenyum hari ini. Aku merasakan kesulitan ketika aku membutuhkan oppa. Aku harus menggerakkan tubuhku. Aku tak bisa berteriak, hanya bisa mengeluarkan angin dari dalam mulutku. Lebih terdengar seperti desahan. Untuk kali ini, aku menangis karena belum bisa menerima semua yang diberikanNya untukku.

Oppa membawaku kerumah sakit terdekat dari dorm-ku. Melepaskan perban dan segala macam. Aku sudah bisa berjalan, walau aku harus berpegangan agar tidak terlalu terasa sakit. Ketika kakiku melangkah, kepalaku seperti jatuh dan terasa naik turun. Oppa berkali-kali menghentikan tangisku ketika aku menyesal –telah- bersyukur. Aku menangis disetiap doaku, aku ingin suaraku kembali. Hanya itu. Tangisanku tak berlaku-kah? Entahlah. Aku ingin bernyanyi lagi untuk orang-orang tersayangku. Termasuk Eunhyuk oppa. Karena ketika aku bernyanyi untuknya, otomatis aku memberikan cintaku.

December 13th, 2011

TUHAN! UNTUK APA AKU BERSYUKUR JIKA PEMBERIANMU INI MENYIKSAKU! AKU BERKALI-KALI BERSYUKUR, TAPI KAU TAK MENGEMBALIKAN SUARAKU! KAU BIARKAN SALJU INDAH TURUN, MEMBUAT SEMUA ORANG BAHAGIA! TAPI AKU TIDAK BAHAGIA! AKU TAK MAU KEHILANGAN SUARAKU! TOLONG KEMBALIKAN, TUHAN!

Aku mohon dengan sangat. Apa yang harus kulakukan? Harus kutukar dengan apa suaraku yang kau simpan?

December 14th, 2011

Maaf Tuhan, kemarin aku emosi. Aku hanya ingin bernyanyi. Satu lagu saja. Aku belum memberitahu pada Hyukjae oppa bahwa aku mencintai lagunya dibanding lagu apapun. Aku ingin bernyanyi bersamanya. Aku mencintainya seperti aku mencintai suaraku.

Kosong.

Hanya berhenti ditanggal 14? Aku menutup mataku, menjatuhkan sisa air mataku yang kusimpan dipelupuk mataku sejak tadi. Dia kehilangan suaranya, dan dia sedih bukan karena kehilangan hal terindahnya itu. Melainkan tidak ingin melihatku sedih? Apa yang ada diotak gadis voldemort itu! Paboya! Aku akan lebih sedih jika dia menangis karena aku!

Apa dia tak mengerti bahwa aku sangat-sangat mengkhawatirkannya? – Aku kembali membaca dengan seksama tulisan Han Neul. ‘Aku akan membantumu untuk membawanya kembali ke Seoul di malam natal nanti.’ Apa benar? Semoga saja iya. Aku akan mencintai dia yang tanpa suara. Aku akan lebih mencintainya, karena Tuhan menyimpan dengan baik suara indahnya.

Sekarang, apa yang harus kuberikan ketika malam natal nanti?

**

Hee Rin POV

Kau tahu kan, sekarang aku tak memiliki suara lagi. Oppa menjelaskan, kepalaku terbentur dan tepat dimana otakku mengatur sistem wicaraku, dan sedikit merusak daerah pengaturan pita suaraku. Ada orang yang terbentur seperti itu, sampai-sampai tidak memiliki pikiran untuk menggunakan cara lain. Tapi dokter benar-benar salut padaku yang bisa pulih dengan cepat, dan masih bisa menggunakan isyarat tubuh. Dokter yang sekaligus pendeta itu berkali-kali mengingatkanku untuk bersyukur. Hah, bagaimana aku bisa bersyukur? Sedangkan orang-orang diluar sana, bernyanyi lagu natal dengan senyum terbaik mereka.

Dan sedihnya, appa belum boleh pulang malam ini, dia boleh pulang besok pagi. Berarti, aku dan oppa tidak akan merasakan malam natal bersama appa kali ini. Ini yang kedua kali, tahun kemarin juga begini. Mungkin, aku hanya bisa merasakannya bersama oppa saat ini. Sayang appa tidak ada, kalau ada, akan lebih lengkap malam ini!

Malam ini terlihat sangat-sangat spesial. Lihat, jalanan warna-warni dengan lampu yang gemerlapan. Aku dan oppa sedang menikmati salju yang tidak terlalu deras, berjalan disekitar jalan besar yang penuh dengan keramaian anak-anak kecil. Natal selalu ditunggu anak-anak kan? Dulu aku juga sama! Menunggu salam dari sinterklas. Aku baru menyadari, kenapa sinterklas banyak sekali didunia ini? Haha. Mereka semua imitasi.

Aku dirangkul oleh oppa. sedari tadi, Neul oppa sibuk menawarkanku makanan. Ya, jalan besar ini penuh dengan parade makanan-makanan kecil, dan diskon besar-besaran disemua super market.

Oppa!

“Ne? Waeyo?” Dia menolehku setelah aku menarik bajunya.

Aku ingin masuk ke toko buku, mencari buku musik.

“Tentu saja.” Aku tersenyum setelah oppa menanggapi isyaratku. Aku dirangkul menuju toko buku itu. Aku cukup bahagia, karena toko buku ini memberikan diskon 30% untuk setiap buku musik. Yes! Setelah aku masuk, aku berlari ke jajaran buku-buku musik. Aku mulai memilah-milih buku yang menurutku bagus. Sedangkan Oppa sibuk dengan komik Jepang kesukaannya.

Satu, dua, tiga.. ya. aku memilih tiga diantara beberapa macam buku musik yang bagus selama sepuluh menit. Ya, aku akan segera menuju Neul oppa yang masih bingung harus memilih yang mana. Aku berjalan menuju oppa, namun langkahku berhenti ketika melihat sebuah musicbox. Dimana aku bisa mendengarkan lagu dalam kaset tersebut secara gratis. Aku mendekati musicbox itu, karena terlihat sangat menarik. Di Prancis banyak sekali musicbox seperti ini. Tapi di Seoul, aku baru melihatnya. Aku mengecek, album siapa yang sedang dipasang.

Eh. Super Junior? Album kelima? Aku tersenyum. Mulai bisa bersyukur karena aku tidak kehilangan indra pendengaranku. Aku menaruh buku-buku yang sedari tadi kupeluk diatas musicbox. Aku segera memakai headphone yang tergantung disebelahnya. Ah, aku sudah hafal lagu ini!

Chang bakkeul bwa, nuni wa
Geureoke gidarideon hayan nuni wa
On sesageul hayake, deopeojuneun hayan nuni wa

Aku sudah hafal –bahkan- artinya. Semua lagu Super Junior sudah kuartikan dalam bahasa Inggris bersama teman-temanku sebelum aku meninggalkan mereka dan memutuskan tinggal di Seoul. Ya, aku baru pindah dari Prancis kesini kemarin. Teman-temanku itu memberiku kado natal yang sebenarnya terlalu cepat. Hahaha, aku menyukainya! Boneka beruang dengan pohon natal kecilnya.

Lagu ini bercerita tentang salju dan natal. Dan lagu ini..

Hyukjae oppa?

“Sudah selesai, jagiya?” ah. aku melepaskan headphone yang tadi kupakai, dan aku mengangguk pada orang yang sekarang merangkulku. Kami berjalan menuju kasir. Dan pikiranku mulai kacau. Aku memikirkan sosok yang selama ini kurindukan. Sangat-sangat ingin kulihat wujudnya. Biasanya, setahun dua tahun aku tidak bertemu pun, tidak seperti ini rindunya. Tapi kali ini, aku benar-benar menginginkan dirinya. Walau sebenarnya, masih ada rasa takut untuk bertemu.

Ya kau tahu kan? Aku tidak dapat bernyanyi lagi.

Sekarang aku menggenggam bungkusan berisi buku-buku yang telah kami beli. Aku berjalan mengikuti langkah oppa. Hanya saja, sepertinya aku benar-benar merindukan tempat itu. Satu jam lagi hari natal, dan sepertinya asik untuk kulalui bersama oppa tahun ini. Mengingat tahun kemarin, pesta kembang api dilakukan disana.

Oppa!

“Waeyo, Rin-ah?”

Aku sangat ingin pergi ke Hana Park malam ini.

“Ini.. sudah malam..”

Jebal, oppa…

“Hm.. Tapi, ide yang bagus. Disana pasti mengadakan pesta kembang api. Seperti tahun kemarin, kan? Kita merayakannya disana, kan?” Aku mengangguk dan memamerkan gigiku. Oppa terlihat antusias juga, hahaha. Kami berdua mulai berjalan menuju Hana Park. Tempat dimana aku bernyanyi, bahkan bercerita. Neul oppa juga sering kuajak kesini. Tapi Hyuk oppa.. Setiap kami janjian, aku pasti bertemu dengannya disana. Ya. selama aku berjalan, aku memikirkannya.

‘kring’ – tiba-tiba oppa meminta ijin untuk mengangkat telponnya. Aku tak tahu siapa yang sedang berbicara dengan oppa-ku yang satu itu, aku tetap berjalan sambil melihat-lihat. Ada yang berjualan kartu ucapan dan bunga-bunga yang cantik. Aku tertarik untuk membelinya.

“Yang ini harga bunganya, dan yang ini harga kartu ucapannya.” Seru ibu penjual sambil menunjukkan papan harga setelah melihatku sedang memilih mana yang kusuka. Aku mengambil dua kartu ucapan dan membayarnya. Aku juga meminjam spidol dari ibu itu, dan menuliskan kata-kata yang bagus didalamnya. Akan kuberikan pada oppa, dan satunya.. ya, kalau aku bertemu dengannya.

“Kau sedang apa?” Aku menunjukkan kartu yang akan kuberikan padanya, Neul oppa mengambilnya dan membaca sedikit keras, “Gamsahamnida untuk hari-harimu untukku. Saranghaeyo, oppa!?” aku mengangguk riang setelah oppa membacakan isinya.

“Ah, Hee Rin. Aku juga menyayangimu!” Oppa memelukku sambil menggoyangkan badanku, lalu melepaskanku dan tersenyum, “Aku akan memberikan kado untukmu ditaman nanti. Kajja!”

**

“Dekatilah dia.”

Mwo? Aku mengernyitkan dahiku. Sedari tadi, aku memang bertanya-tanya, apa yang akan diberikannya. Aku melihat sosoknya dari belakang. Dan oppa memaksaku untuk mendekatinya. Dia, Hyukjae oppa, rambut blondenya itu sangat mencerminkan! Ah. aku ingin mendekatinya tapi.. aku..

“Ayolah, kau merindukannya kan? Jangan bilang tidak karena kau selalu menuliskan namanya! Ayo, Rin-ah!”

Oppa, aku takut.

“Apa yang kau takutkan?” Aku menunduk setelah oppa menggenggam kedua tanganku yang terbalut sarung tangan, “ikutilah kata hatimu. Tuhan punya rencana baik atas pemberiannya. Kau sudah bersyukur atas hilangnya suaramu. Dia, orang yang menunggumu.”

Tapi dia akan mencari suaraku.

“Dia mencintaimu, dan semua kekuranganmu. Telpon aku jika malam natalmu sudah selesai.” Oppa tiba-tiba berlari pergi setelah tersenyum. Aish, oppa yang menyebalkan itu sangat-sangat misterius.

Aku membalikkan tubuhku, dan mulai memberanikan diri mendekatinya. Sosok yang diam-diam kusayangi melebihi apapun. Dia memetik gitarnya, bernyanyi dengan indah ditengah taman ini. Apa orang-orang tidak curiga dengan keberadaannya? Apa dia tidak melewati malam natal bersama oppadeul Super Junior? Ah hyukkie oppa. Aku tak bisa memberimu teriakan paling hebat untukmu. Ini malam natal, pertama, kita?

“I think of the first time that i saw you.. in a moment, my heart fell apart
although you’re cold-hearted, you’re too wonderful of a person to erase.”

Aku tahu itu lagunya. Dia menyanyikannya dengan bahasa yang baik. Aku berdiri dibelakangnya, mengeluarkan air mataku sebelum aku menepuk bahunya.

“You are my angel, whisper softly..
an affectionate whisper: I love you everyday..
The sadness of only one.. I pray that i won’t wake up from this dream.”

Aku menepuk bahunya, hingga dia terkejut dan menurunkan gitarnya dari pangkuannya. Aku tersenyum, menahan airmata yang kutahan daritadi.

“Hee Rin, kau kah ini? Aku merindukanmu..” Aku tersenyum sedih dipelukannya. Aku tak bisa mengatakan apapun padanya, dia hanya menyuruhku duduk dan tersenyum meraba pipi dan beberapa helai rambutku yang terjuntai keluar dari topi rajut yang kupakai.

“Ah, kenapa kau menghilang Hee Rin. Kalau kau tahu, aku menjadi namja bodoh setelah kepergianmu. Aku menangis, mencarimu itu sulit sekali! Padahal aku ingin menepati janjiku untuk bernyanyi untukmu, melewati salju pertama di Seoul. Maafkan aku jika aku tak ada disisimu ketika kau sakit. Ah, aku benar-benar menyesal tidak bisa melihat perubahanmu.” Aku tersenyum, ingin sekali kubalas pernyataannya. Tapi, apa yang dapat aku lakukan?

“Oh ya, dengarlah. Sekarang aku yang akan bernyanyi untukmu!” serunya tiba-tiba sambil mengambil gitarnya. Aku menahannya, dan menarik gitarnya dari tangannya. Aku tersenyum padanya, dan dia hanya melihatku dengan wajah yang terkejut. Hahaha, betapa inginnya aku memarahimu! Kenapa wajahmu jelek begitu!

Dengar aku. Tebak lagunya!

Aku memeluk gitarnya dan mulai ‘berusaha’ bernyanyi. Aku akan memberikannya kado natal spesial malam ini. Yak, Hee Rin! Kau pasti bisa!

“kkh..” Aku berusaha menyelaraskan suaraku yang hanya desahan ini dengan petikan gitarku. Rasa sakit itu mulai datang melanda kepalaku. Pria disebelahku ini mencoba menyuruhku untuk diam.

“kkkhh..” Rasa sakit itu berlipat ganda. Ayolah Hee Rin, keluarkan suaramu malam ini saja.. – airmata itu tiba-tiba jatuh dari pelupuk mataku. Ini air mata karena sakit yang kurasa, juga karena kekesalanku pada Tuhan yang tidak mengijinkan aku bernyanyi untuknya malam ini. Aku melihatnya, wajahnya lebih sendu dariku.

“kkh..”

“Berhentilah bernyanyi, Hee Rin!” Dia melepaskan gitar yang kupeluk, dan aku dipeluknya erat sekali. Tuhan, terima kasih telah memberiku indra pendengaran yang baik. Aku bisa mendengarnya menangis dipelukanku. Begitu pun aku yang tak kuasa menahan rasa perih. Aku memang tak bisa lagi bernyanyi untuknya. Dari saat itu, kali ini, besok dan selamanya. Takkan ada lagi suara yang keluar dari bibirku. Takkan ada lagi ucapan ‘cinta’ yang kukeluarkan dari mulutku. Takkan ada lagi. Aku menyadari itu.

“Jangan.. Jangan paksa dirimu untuk bernyanyi. Aku mohon. Itu akan membuatmu sakit..” Aku menangis semakin menjadi-jadi. Tidak lama kemudian, dia melepaskan pelukannya, lalu memperlihatkan senyumnya yang sedikit basah karena air-mata yang mengalir dan membasahi wajahnya. Hyuk oppa mengandalkan ibu jarinya untuk menghapus airmataku, memegang pipiku yang tak kalah basah darinya.

“Aku akan lebih mencintai seorang Hee Rin yang diam, mulai saat ini. Aku akan mencintaimu, walau tanpa nyanyian dalam hidupmu. Aku akan mencintai suara hatimu ketimbang suara mulutmu. Aku akan mencintai semua yang ada pada dirimu. Aku akan mencintai kekuranganmu. Aku berjanji akan hal itu.” Aku menatapnya. Namun beberapa detik kemudian, segala kesedihan atau beban perasaan apapun yang dipendamku selama akhir-akhir ini, akhirnya keluar lagi dalam bentuk derai air mata yang seakan tiada habisnya.

“Aku akan mencintai seorang Hee Rin yang penuh dengan senyuman disetiap harinya. Jadi, jangan lagi luapkan air mata didepanku, ya? Berjanjilah..” Aku mulai menampakkan senyumku setelah menghentikan acara –kesedihan penting- yang sebenarnya, aku benci sejak dulu. Aku bukan tipe gadis yang gampang menangis, kan? Aku melihat wajahnya yang juga habis menangis. Aku melakukan hal yang sama, menghapus air mata yang ada dipipinya. Kami berdua saling tersenyum dan memeluk satu sama lain. Merasakan debar hati yang sama. Walau aku tak bisa membalas perkataan cintanya, aku yakin dia tahu apa yang kurasakan saat ini. Tiba-tiba, riuh kembang api mulai terlihat. Suara terompet, suara anak-anak kecil terdengar olehku. Memberikan kebahagiaan tersendiri untukku.

Tak ada malam yang sebaik ini sebelumnya. Malam natal yang indah. Selamat Natal, oppa. Aku mencintaimu. – bisikku dalam hati.
“Selamat natal, Hee Rin-ah.” Dia mengecup dahiku setelah melepaskan pelukannya. Aku mengangguk riang sambil menggenggam satu tangannya. Tak lama kemudian, aku melihatnya mengeluarkan kotak kecil dari sakunya, “Mianhae. Aku tak bisa memberimu kado yang besar. Ini memang kado yang tidak penting. Tapi penting untuk kita lalui bersama.”

Aku membukanya setelah sampai ditanganku. Dua tiket konser? Ah! Aku dan Hyuk oppa akan melihatnya dan menjadi penonton? Kita tidak menonton dari backstage kan? – Aku memamerkan gigiku, mengangguk dan menggoyangkan tangannya. Memberitahu bahwa aku menyukai hadiahnya.

“Kau suka?” Aku mengangguk dan membelai pipinya pelan. Oya, aku juga punya hadiah kan untuknya? Aku mengeluarkan kartu ucapan yang sempat kubeli tadi, lalu kuberikan padanya.

‘Mianhae, aku tak bisa bernyanyi dan mengucapkan selamat natal padamu. Aku tak memiliki apapun yang bisa kujadikan hadiah natal. Kuharap kau bisa mengerti. Aku mencintaimu. Jeongmal saranghae.’

“Aku takkan memberimu maaf, Hee Rin-ah! Menyebalkan sekali! Aku memberimu tiket VIP mahal, tapi kau memberiku kartu ucapan ini.” Aku memajukan mulutku. Yak! Kejam sekali, titisan monyet darimana kau! Segitupun aku masih memberimu hadiah! – Aku memukul lengannya, dan dia hanya mengeluarkan lidahnya.

Lalu kau mau hadiah apa?

“Apapun, yang bisa kau beri padaku! Asal tidak menyulitkanmu.” Tantangnya. Ah, lagi-lagi tantangan. Sampai kapan dia berhenti menjahiliku. Oh, dia mau lagi ternyata. Ckckck. Ahjussi genit!

Hadiah?

“Masak kau..” Aku menutup bibirnya dengan tanganku. Lalu tanganku berpindah ke dua matanya yang indah itu, bermaksud agar dia tidak melihatnya. Aku memberikan kado spesialku, sebuah kecupan yang manis. Lebih lama dari waktu itu, dan sekarang tepat dibibirnya. Dia tidak memberi respon apapun. Haha, dia menikmatinya! Dasar genit!

Aku melepaskannya setelah beberapa detik kemudian. Dia masih menutup matanya. Aku mengelap bibirnya dengan jariku yang tertutup sarung tangan, lalu tersenyum padanya setelah ia membuka mata. Kami sama-sama tersenyum dan dia menggelitiki pinggangku.

Hei! Apa yang kau lakukan! Bersyukurlah, kau mendapatkan firstkiss-ku! Ih, dasar monyet menyebalkan!

Dia tertawa melihatku mulai lelah. Dan aku memukul pahanya. Haha, rasakan itu.

Kami kembali masuk kedalam euphoria natal yang menyenangkan. Natal yang penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan kehangatan meskipun salju tak henti-hentinya turun dengan indahnya. Dia merangkulku dan membiarkan kepalaku bersandar didadanya.

“Nado saranghaeyo, Hee Rin-ah..” bisiknya tak lama dari itu. Malam ini terasa begitu indah. Aku menutup mataku dan merasakan kehangatan di malam yang dingin ini. Membuatku berbisik dalam hati,

Terima kasih untuk waktu yang kau berikan padaku. Kau memberiku waktu untuk merasakan hadiah natal yang indah, yang kulalui bersama lelaki yang sangat kucinta. Terima kasih atas salju dan kehangatannya. Terima kasih atas pemberianmu Tuhan, kau ambil suaraku, dan kau memberikanku suara beserta pemiliknya, seorang Lee Hyuk Jae oppa. Terima kasih atas segalanya. Aku akan menjaganya hingga aku kehilangan ragaku. Aku akan mencintainya, walau tanpa suaraku yang melengkapinya.

Postingan populer dari blog ini

UJI KOMPETENSI ARE FINISHED!